Mahasiswa itu ternyata…

Standard

Beberapa kali aku bertemu dengannya di perpustakaan fakultas. Terlihat akrab dengan mbak Netty -yang selalu setia dengan perpustakaan digitalnya, dan sesekali mengobrol dengan Mas Agni juga Bu Yanti ataupun penjaga perpustakaan yang lain. Hmm.. Mungkin beliau mahasiswa S2. Anak Mapro kali ya? Karena memang minggu-minggu ketika itu masanya ujian akhir semester dan yang sering bermunculan di perpustakaan hanyalah mahasiswa S1 yang sedang menyelesaikan skripsi (seperti aku, hasan, yani, pipiet, maya, juga beberapa adik angkatan yang wajahnya cukup familiar di mataku) dan mahasiswa S2 (Mapro ataupun Science) seperti Tiara, Walida, Wikan, Ria, Mbak Nay juga beberapa orang yang tak kukenal siapa namanya.

Perkenalan itu bermula dari suatu peristiwa dimana beliau meminta bantuanku untuk mencari sebuah jurnal melalui Poquest atau Ebsco karena sudah beberapa kali beliau mencoba sendiri tapi belum berhasil menemukan jurnal yang dicarinya (hm,, lebih tepatnya sih, beliau tak tahu bagaimana menggunakan ‘keyword’ untuk memudahkan jurnal via internet. Jurnal yang dicarinya ini jurnal jadul –banget!- .

“Mbak, bisa bantu saya nggak?”, tanyanya padaku.

“Eh. Bantu apa Bu?”

“Begini, (bla bla bla dst..)”, beliau menceritakan tentang permintaan dosen pembimbingnya bahwa sumber yang dikutip dari jurnal haruslah dari sumber aslinya. Tak boleh berupa saduran seperti (Hoffman dalam Eisenberg, 2004) . maka, kubantu sebisaku (dan seingatku) dengan menggunakan situs Proquest juga Ebsco yang sebelumnya kukatakan padanya, “Hmm.. saya udah lama nggak buka Proquest sama Ebsco Bu. Tapi saya coba carikan seingat saya ya”. Klak klik sana sini. Ketik keyword di kolom ini dan itu dan ternyata… TET! TOT! Aku tak berhasil menemukan jurnal yang dibutuhkannya L. Hiks..maafkan saya Bu..

Meminta maaf sembari tersenyum, “Maaf Bu”.

Ibu itu pun tersenyum dan berkata, “gak papa, mbak. Makasih ya mbak udah mau bantu, maaf loh saya ganggu mbaknya lagi ngetik-ngetik”.

“Gak papa Bu”, jawabku seketika. Penasaran. Kutanyakan sesuatu padany, “Hmm, ibu mahasiswa S2 ya?”

Ibu itu pun  tersenyum dan “Bukan. Saya mahasiswa S3”.

-WOW! Sugoi!-    “KEREN!!”.. itu jawaban spontan dariku.  >.<

Tersenyum lagi tapi sepertinya beliau agak ‘terkejut’ melihat reaksiku yang agak lebay.. :D.

Hah! Bener-bener salut sama mereka-mereka yang tetap melanjutkan studi (formal) sampai jenjang tertinggi. Seperti Reza (Syah Reza atau Reza Naml, adekku di facebook ^^ yang melanjutkan studinya di Pondok Gontor selepas menyelesaikan jenjang S1-nya di UIN Banda Aceh. Atau seperti Ratna (Atna Aja) yang baru saja mendapatkan gelar apoteker di UGM lalu akan melanjutkan studinya di jenjang S2; katanya, “Yang kemaren itu kan profesi, Chan. Bukan S2 nya..”. Haaah? Bener-bener dah nih anak! Pecinta ilmu! Dan aku pun teringat pada dosenku: Pak Koen, maksudnya J.. Prof. Drs. Koentjoro, MBsc., Ph.D  HEBAT!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s