Masa SMA #1

Standard

“For me,

As long as it’s you saying it, it doesn’t matter how slowly you say it, I’ll still listen.

If you can’t talk over the phone, then I’ll come to see you, like this.

I’m not a dolphin. You, you’re also not a dolphin.

If you want to walk, no matter how slow it’ll be, I’ll walk with you.

Right now, I might not be that reliable. One day, maybe I’ll be able to help.

Things can’t be the same as they were before, but there’s this kind of feeling that’s linking us together. I don’t think that we’re living ini different worlds.

I with regards to you,

I like you.

May be

I like you, maybe. Probably..”

(Haruto Asou)

 

~So sweet..

Ah iya! tapi sayangnya, ungkapan itu sudah tak berlaku lagi untukku. Mungkin kalau aku mendapati kalimat itu ketika aku masih berada di bangku SMP atau SMA, bisa jadi aku akan berkata seperti ini, “~aah… so sweet.. (ngarep ada yang mengucapkan itu padaku)”.. Hahaha.. ABG labil yak! =D

Ato seperti gambar dibawah ini :

(berharap ada yang mengucapkan itu padaku sejak tahun lalu. Seseorang yang tetap membersamaiku untuk menghadapi ‘hal ini’. Hahahaha.. ngarep amat yak! Eh, tapi Allah sudah mengirimkannya padaku dan kami bertemu beberapa waktu lalu di rumah sakit itu ^^ )

Ya sudahlah.. mari kita kembali  ke bahasan utama.

Iseng-iseng cari gambar di google yang wujudnya berupa tulisan tangan dengan kata-kata yang bagus –apapun itu: tentang persahabatan, tentang keluarga, motivasi, islami, atau yang lainnya-, dan aku menemukan gambar ini dari salah satu situs yang ada disana.

-lagi-lagi- Kalau saja aku masih dibangku SMP atau SMA, keinginan memiliki ‘seseorang’ atau yah sebutlah seorang pacar pasti semakin besar. Kesannya romantis gitu deh 😀 , padahal mah gak tau dah itu beneran romantis ato cuman gombalan laki-laki doang. Hohoho..

Tapi, kalau kembali ke masa sekarang, beruntungnya saat ini sudah ada ‘sesuatu’ yang mengingatkanku tentang batasan-batasan itu. Dan pertama kali ketika aku mendapati gambar ini aku cuma ngebatin, “Kenapa gambarnya laki-laki dan perempuan sih? =( kenapa bukan sepasang sahabat (perempuan dan perempuan) atau adik dan kakak, atau antara orang tua dan anak.. kenapa harus sepasang laki-laki dan perempuan? Udah gitu ada gambar ‘love’-nya pula..

Ah iya!

Jadi teringat pada adik keduaku. Dia cukup PD dengan penampilan fisiknya (karena memang, adik keduaku ini cantik =) .. Kurasa, adik pertamaku juga setuju, hanya saja ia tak pernah mengakuinya dihadapan adik keduaku. Gak rela kali ya kalo adeknya sendiri dapet gelar ‘cantik dari dia sendiri.. hahaha *ops!) .

Adik keduaku ini tak peduli dengan komentar-komentar seperti, “De, baju sama jilbabnya gak matching tau!” atau “Idiih.. sepatunya gak matching” atau “Pake baju yang ini aja De. Ini lebih bagus”.. Baginya, itu hanya sekedar saran yang akan ditampungnya (dan memang cuma akan ditampung) ^^!

Sampai pada suatu hari –beberapa tahun yang lalu-, ada seleksi Mama Mia. Ah iya! Adik keduaku ini suka menyanyi. Sebenarnya sih, kalau boleh kukatakan, suaranya cukup pas-pasan tapi yah suaranya memang terdengar lebih bagus daripada suaraku ketika bernyanyi 😀 (ngaku: modeon).. Papah bilang, “Dede ikut Mama Mia aja. Papah dukung deh!”. “Iya De, ikutan gih. Mamah juga dukung Dede deh!”. Yang diajak bicara cuma senyam senyum aja  dan “Iya yah! Dede ikutan Mama Mia ah! Kayak Ratu tuh, temen SMP Dede. Tapi…” kalimatnya terputus.

“….tapi boleh nggak ya sama Teteh?”, lanjutnya lagi.

Itu cerita yang disampaikan kedua orang tuaku ketika aku pulang ke rumah.

Dan ketika adik pertamaku mendengar cerita itu, komentarnya, “Iyalah.. Dede harus izin dulu ke Teteh. Kalo Teteh bilang ‘boleh’, itu berarti boleh. Tapi kalo Teeh bilang ‘nggak boleh’ berarti emang nggak boleh. Terus, Dede juga harus izin sama Aa. Hehe..”. yang diajak bicara malah manyun manyun tanda nggak setuju.”Idiih.. ngapain juga Dede harus minta izin sama aa? Kalo sama aa mah pasti nggak dibolehin. Wek!”

“Loh, kan aa juga kakaknya Dede. Jadi, dede harus nurut sama aa. Iya kan Mah?” (nengok kearah mamah), jawab adik pertamaku.

Jyaaah… itu mah kata-kata Teteh, Ndi. Dilarang menjiplak tauk!. Hohoho.. # enaknya jadi kakak ya gini nih!.. 😛

Dan adik pertamaku hanya tertawa terbahak-bahak melihat adiknya yang serba salah.

* * *

Ah Dede,

Masa remajamu ternyata lebih berwarna. Dari Teteh, juga dari aa. Semoga selepas ini, hidupmu kan lebih berwarna ya, Sayang..

: lebih dekat denganNya, lebih mengenalNya, dan kau semakin tahu bahwa ada banyak keindahan bersamaNya..

 

Advertisements

5 thoughts on “Masa SMA #1

  1. arohmanpanji

    hahaha, adek-kakak yang aneh ^-^v
    *ceritanya bikin inget sama my little sister nih

    **tantangannya nyaris sama dan tidak jauh berbeda >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s