rasa ini apa? #1

Standard

# 1

Aku mengenalnya di dunia maya. Pertama kali mendengar namanya dari adik pertamaku. Tak pernah bertemu dan tak pernah tahu sosoknya seperti apa. Dulu, adikku sering bercerita tentangnya, tapi itu hanya satu dari beberapa orang yang pernah ia sebutkan namanya di depanku. Karena pada kenyataannya, saat itu, adikku ini sering bercerita tentang teman-temannya di kampus. Mulai dari teman satu fakultasnya, mbak angkatan yang menjadi kabid kaderisasi di fakultasnya, tentang mas angkatannya yang berasal satu daerah dengan kami, tentang mbak angkatan yang ceplas ceplos kalau berbicara, sampai pada teman-teman liqonya plus siapa murobbinya =D.

Dan nama itu pun terucap dari lisannya. Aku tak pernah tahu seperti apa sosoknya. Kerena pertama kali aku mengenalnya pun melalui friendster. Jadul banget ya? =D ..

Tentang temanku ini, akulah yang meng-add nya pertama kali. Dan sepertinya, aku pula yang meng-add YM nya untuk masuk dalam friendlist YM-ku. Awalnya kukira ia adek angkatanku sampai kemudian aku memanggilnya dengan sapaan “Dek”. Dan dia mengatakan “afwan, saya ini angkatan 2004”. Mempertegas bahwa kami itu satu angkatan . *gubrak! (jadi malu saya. Ya maap deh).

-Seperti biasa- dengan beberapa teman dunia mayaku, aku belum pernah bertemu dengan mereka, termasuk dengannya. Sampai kemudian ada keperluan perihal adik pertamaku dan aku pun menghubunginya via nomor handphone.

Dan suatu hari, ada sebuah pesan dari sebuah nomor asing. Kutanyakan identitasnya dan ia menjawab bahwa ia adalah adik perempuan temanku itu. Heh? Ade ape nih?

Rupa-rupanya, si adik ini sudah sering dikenalkan dengan beberapa teman akhwat sang kakak. Oh iya, temanku ini ikhwan. Jangan mikir yang macem-macem dulu ya! Baca tulisan ini sampai selesai, barulah kalian boleh menyimpulkan. =D

Ya sudah. Aku sih tak masalah. Malah senang karena mendapat kenalan baru walaupun itu seorang adik (yang usianya sebaya dengan adik perempuanku).

Kata sahabatku, aku itu orangnya mudah berbagi cerita tapi sebenarnya tertutup. Hohoho.. Begitu ya? Yah, sebenarnya sih itu benar *mengulang kata ‘benar’. 😛

Aku memang akan pilih-pilih dalam menentukan ‘siapa yang bisa kubagi cerita ini’. Pilih-pilih dalam menentukan ‘siapa yang kira-kira bisa menjaga kisah ini’. Pilih-pilih dalam menentukan ‘siapa yang sepertinya bisa diajak diskusi tentang hal-hal sensitif’. Dan pilih-pilih dalam menentukan ‘siapa yang mau mendengarkan dengan baik apa yang akan kukatakan’.. Dan seperti itulah aku.

Sejak SMA, aku tak pernah memiliki sahabat laki-laki. Yah, walaupun memang sejak saat itu sudah diwanti-wanti oleh pembina mentoringku bahwa “yang namanya sahabat laki-laki itu nggak ada, dek. Karena pada akhirnya pasti akan ada rasa”. Sampai aku mendengar kata ukhuwah pun, aku tak pernah berani menjadikan teman laki-lakiku sebagai sahabatku.

Tapi, rupa-rupanya hukum itu tak berlaku ketika aku menjejakkan kaki di bangku kuliah. Di KMP, di Bimo Forsalamm, di KKN Nglegi 2008, di blog, di facebook, atau bahkan di mig 33. Aku menemukan mereka, termasuk temanku ini.

Hmm, bagaimana kalau aku memberi inisial padanya? Supaya lebih mudah menyebutkan namanya di sini. Oke, anggaplah temanku ini berinisial A.

Bagiku, A sudah kuanggap sebagai sahabatku. Seseorang yang bisa kuajak diskusi tentang kehidupan seorang mahasiswa, seseorang yang mau mendengarkan cerita lawan bicaranya tanpa mengatakan, “afwan ukhti, jangan cerita sama saya ya”. Mungkin karena kultur kami sama maka ketika aku ingin meminta pendapatnya sebagai seorang laki-laki (perspektif seorang laki-laki), aku akan menghubunginya. Tapi bukan hanya dia kok yang kuhubungi, jadi, tenanglah..

Diawal-awal baru mengenalnya, kami sama-sama masih berstatus sebagai mahasiswa sampai kemudian dialah yang lebih dulu memakai toga itu. curang! *Loh? 😀 (merasairi: modeon, soale keduluan sama dia).

Aku mengenalnya sejak tahun 2007 (kalau nggak salah) eh apa tahun 2008 ya? Lupa ah! Pokoknya mah sejak tahun itu aku tak pernah tahu seperti apa sosoknya sampai kemudian di tahun 2011 ini aku bertemu dengannya.

Sampai sini, menurutmu, apa aku memiliki ‘rasa’ padanya? 😛 Hehehe.. ini bukan quiz. Jadi, tak wajib dijawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s