rasa ini apa? #2

Standard

# 2

Dan pada suatu hari, seseorang mengatakan padaku bahwa dia (si A) akan menikah. Ah aku benci ketika aku harus merasakannya lagi. Rasa yang sama seperti aku menyaksikan ijab qobul di Kota Tasikmalaya. Rasa kehilangan.

Kata seseorang tersebut, berita pernikahannya sudah disebar secara informal dan tinggal tunggu undangan formalnya saja –mungkin akan ada undangan melalui facebook. Baiklah! Kalau bisa, aku akan datang ke sana (PD banget bakal diundang yak! 😀 Yah.. PD PD ajalah). Kutunggu satu pekan, tak ada notification di facebookku tentang berita tersebut. Dua minggu. Dan sampai pada hari H dia menikah pun, tak ada kabar sama sekali darinya.

Hiks. Sedih amat aku tak diundang olehnya! Jangankan diundang, diberitahu pun tidak! Okelah kalau memang aku tak diundang tak masalah, tapi setidaknya, tolong beritahu aku kalau kau itu memang akan memiliki hajat. Setidaknya, aku bisa mendoakan kalian dari sini.. L

Sejak saat itu, aku menjaga jarak dengannya. Setiap ia menyapaku di facebook ataupun di YM, kujawab sekedarnya (super singkat). Entahlah.. aku marah padanya, sebel, dan ada sesuatu yang membuatku sesak.

“Kok bisa, saya nggak diundang ke acara hajat antum?”.. pertanyaan serupa ketika kudapati teman kuliahku (yang ini sih akhwat) menikah padahal menurutku kami cukup dekat ketika itu.

Kuceritakan pada adikku tentang apa yang kurasakan. Dan apa kau tahu seperti apa jawabannya?

“Ya iyalah teh, wajar aja teteh nggak diundang. Emangnya teteh siapanya Mas A?”. What? Jawaban apaan tuh? Ah sudahlah.. kalau untuk curhat-curhatan, adik pertamaku ini memang kurang peka. Responnya pasti akan rasional dan nadanya datar. Bukannya merasa lebih baik, aku malah merasa jadi semakin sebal. Huh!

“Yang satu kampus sama dia aja ada banyak yang nggak diundang, Teh. Apalagi teteh yang nggak satu kampus sama dia!”, katanya lagi. Hiks. Tega banget nih anak.

Paling nggak, kasih jawaban yang lebih manis kek, “Mungkin Mas A lupa kali Teh” atau “Mungkin undangannya terbatas, Teh” atau apalah yang membuatku merasa jauh lebih baik.

Ah Ndi.. kamu harus belajar untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain –terutama keluargamu-. Cobalah memposisikan dirimu menjadi orang lain, seolah merasakan apa yang sedang ia rasakan.

Di suatu hari, si A ini menyapaku di facebook. Dan seperti biasa, dia menanyakan perihal skripsiku. Haah.. maaf maaf saja ketika itu aku sedang labil jadilah ketika ia mangatakan, “Cepetan lulus, Va.. Habis itu nikah deh. Eh apa mau lanjut S2? Hehe.. istri saya juga blab bla bla..”. berceritalah dia panjang kali lebar. Dan komentarku Cuma satu.

“Udahlah. Urus aja istri antum tuh. Bantuin dia. Nggak perlu nanya-nanya skripsi saya”. Spontan.

Sisi baik: Waaah.. ternyata tega nian kau, Va. Gak sopan tau Va bilang kayak begitu! “

Sisi buruk: Halah. Udah biarin aja. Ngapain juga sih dia nanya-nanyain segala? Emangnya dia mau bantuin kamu APA? Udah nggak ngundang-ngudang pas nikah. Jangan kan ngundang. Kasih tau aja, nggak!

Sisi baik: Hey! Dia kan nggak tau kalo kamu marah sama kamu, Va. Husnudzon ajalah. Mungkin dia lupa ngundang kamu, biasa kan. Kalo mau nikah mah pasti crowded. Udah sih. Maafin aja

Sisi buruk: Yee.. masa dia lupa! Nggak mungkinlah!

Sisi baik: Namanya juga manusia, Va..

(Dan akhirnya, tak ada kesimpulan yang kudapat dari percapakan ‘aneh’ tersebut.)

Selepas kukatakan seperti itu. Dia hanya mengatakan, “afwan Va kalau antum merasa nggak nyaman. Ya sudah, semoga dimudahkan penelitiannya”. Sepertinya dia menyadari kalau aku tak suka dengan apa yang ia katakan sebelumnya.

Tak lama kemudian aku akhirnya tahu kenapa ia tak mengundangku di hari bahagianya. Lupa. Dan memang ada banyak teman-temannya yang juga lupa dikabari perihal hari pernikahannya tersebut. Hhh.. aku jadi merasa bersalah. Tuh kan.. kamu nggak boleh su’udzon duluan, Va.

Bertukar cerita dengan seorang sahabat. Kusampaikan perihal kisah diatas dan apa kau tahu komentarnya? Dia bilang “Yah, kamu mah harusnya nggak usah kayak gitu Va.. itu mah ketauan kalo kamu suka sama dia”.

Jyaah.. neng, yang kurasa ini bukan ‘suka’. Bukan ‘suka’nya seorang wanita pada teman laki-lakinya. Tapi sebuah rasa yang kumiliki untuk mereka yang sudah kuanggap sebagai sahabatku. Sebagai saudara laki-lakiku.

Jadi, kalau suatu hari nanti kalian memiliki hajat, tolong beritahu aku. Kalaupun aku tak diminta untuk datang, setidaknya aku tahu bahwa kalian sedang merasa bahagia.. yah?

Dan untuk A,

“Maafkan saya kalau antum merasa saya sedikit berbeda (yang pasti jadi lebih ketus, iya kan?) setelah antum menikah. Tapi mungkin ada benarnya juga apa yang adik pertama saya katakan. ‘Siapa saya? Siapa saya sampai berharap antum akan mengundang saya di walimahan antum itu?’.. Ah sudahlah.. tak masalah kalaupun antum menganggap saya hanya sebagai teman –bukan sahabat-. It’s ok! Kita tetap bersaudara kan? Dan semoga pernikahan kalian barokah ya. Syukron.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s