Indikator keberhasilan

Standard

Sebenarnya, apa “indikator berhasilnya orang tua mendidik anaknya”?

Prestasi akademik yang baikkah? Ranking 5 besar. Tak ada nilai merah di raport. Nilai 9 atau 10 di setiap ulangan. Diterima di sekolah atau PTN favorit. Lulus tepat waktu dengan IPK lebih dari 3. Jadi asisten dosen.

…seperti itukah?

Bagaimana kalau nilai matematikanya merah sementara ia pandai membaca puisi? Bagaimana kalau ternyata ia sukar mengikuti pelajaran olahraga tapi ketika ia bicara di depan kelas ternyata forum berhasil dikuasainya? Bagaimana kalau ia akhirnya diterima di PTS dan memang itulah ‘keberuntungan’ yang dimilikinya? Bagaimana kalau.. ah sudahlah!

Bertanya lagi, apa sih “indikator berhasilnya orang tua mendidik anaknya”?

Memiliki akhlak yang baikkah? Menghormati orang tua. Menyayangi sesama. Jujur dan rendah hati. Ramah dan supel dalam bergaul. Tak pernah berbohong. Mengayomi yang lebih muda. Mau membantu orang lain. Tidak merepotkan orang tua.

…ataukah,

Mampu hidup mandiri? Bekerja dan memiliki penghasilan yang wah. Slalu memberikan ‘hadiah’ pada orang tua dan keluarga. Hidup terpisah dari orang tua dan sukses di negeri sebrang. Tak minta dikirimi uang bulanan lagi. Bersedekah setiap minggunya. Membayar zakat dari penghasilan sendiri.

…atau apa??

Menikah dengan laki-laki ‘yang baik’? Dia yang memiliki pekerjaan tetap. Dia yang sudah selesai strata satunya atau bahkan strata dua. Dia yang tampan dan tidak berwajah tua. Dia yang berasal dari keluarga baik-baik. Dia yang bertanggung jawab. Dia yang bisa menyayangi dan mencintai sepenuh hati.

seperti itukah?

Bagaimana kalau dia belum memiliki penghasilan tetap tapi sudah mulai berdagang sejak semester tiga. Bagaimana kalau dia masih menyelesaikan studinya tapi sudah siap menanggung hidup seseorang? Bagaimana kalau dia hanya lulusan SMA/STM tapi akhlak dan ibadahnya terjaga dengan baik.

…atau apa?

Menjadi penghafal Alquran? Memiliki hafalan yang banyak. Rajin membaca setiap harinya. Mengamalkan apa yang sudah didapat. Memberikan mahkota itu untuk kehidupan akhirat.

…ataukah,

Menjadi PNS? Memiliki penghasilan tetap. Terjamin kehidupan keluarganya. Memiliki pemasukan yang stabil. ‘Dipandang baik’ oleh orang lain.

begitukah?

Bagaimana kalau ia ingin menjadi wiraswasta? Bagaimana kalau ia lebih suka ‘tidak terikat’ tapi tetap memberi manfaat bagi umat? Bagaimana kalau ia ingin menjadi relawan tanpa harus menomorkesekiankan keluarga? Bagaimana kalau

…atau apa?

Bermanfaat bagi orang lain? Suka menolong dan membantu sesama. Empati dan berjiwa sosial. Suka berderma dan rela berkorban. Berperilaku prososial dan juga altruistik yang tinggi.

…Atau apa?

 

30/07/2011

Waktu dhuha

Advertisements

2 thoughts on “Indikator keberhasilan

  1. mmmm, saat anak-anak dan kita (ortu) sama-sama telah faham dan menjalankan perintah Allah, mungkin itu aja deh simpelnya, yang ujung-ujungnya surga! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s