kepentingan pribadi VS kepentingan jamaah

Standard

Dalam perjalanan Jakarta-Yogyakarta, di sebuah mobil Avanza berwarna hitam, Jumat malam (9 September 2011) –setelah sekian lama tak mendengar kalimat itu- kalimat itu terdengar dari percakapan seorang adik (angkatan) dan kakak (angkatan)-nya.

Ceritanya mereka sedang membahas tentang suatu kegiatan yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang: kegiatannya anak-anak lini C. Tak bermaksud menguping, hanya saja pembicaraan mereka memang terdengar olehku. Sebenarnya aku tak tahu persis mengenai kegiatan yang sedang mereka bicarakan tapi yang kutangkap adalah di kegiatan tersebut beberapa dari mereka (anak-anak MITI, pen.) akan menjadi pengisi materi, hmm mungkin semacam training kali ya? *soktau: modeon =D.

Nah, kegiatan itu akan dilaksanakan di pulau seberang. Sumatra. Aku lupa, di Lampung atau di Palembang ya?? Yah intinya mah di Pulau Sumatra-lah ya. Dan disinilah kalimat itu terdengar lagi olehku,

Kakak 1 : “Ga, kamu nanti dateng ya ke sana.”

Adik       : “Kemana Kak?”

Kakak 1 : “Ke sanalah (menyebutkan nama kota tempat akan dilaksanakan kegiatan yang dimaksud)”.

Adik       : “Hm,, dibayarin nggak nih Kak? Kalo nggak ada transport-nya, saya nggak mau ah. Hehehe”

Kakak 1 : “Ada nih. Kata mbak fulanah (menyebutkan nama seorang mbak yang aktif di MITI tapi maafya sodara-sodara, saya lupa lagi sapa nama mbaknya. Hehe), insyaallah nanti dibeliin satu tiket buat ke sana”.

Adik       : “Beneran, Kak?” (nada sumringah)

Kakak 1 : “Iya”.

Kakak 2 : “Iya, Ga. Tiket ke sononya mah dibeliin, tapi buat balik ke sini lagi, itu bayar sendiri. Hahahaha…”

Adik       : “Yaah.. nggak mau ah!”

Kakak 1 : “Ya udahlah, gak papa. Hehehe”

Adik       : “Mahal, Kak”.

Kakak 2 : “Yaah Ga, dakwah tuh emang butuh pengorbanan! Termasuk harta”. Bla bla bla bla bla  (nada serius).

Adik       : “Hahaha.. iya Kak, iya. Liat nanti ya Kak, aku nggak tau nih bisa ato nggak”.

 

*Sebenernya mah, redaksinya nggak persis kayak diatas, tapi yah intinya begitu dan yang kumaksud dengan ‘kalimat itu’ adalah “Dakwah tuh emang butuh pengorbanan! Termasuk harta. Bla bla..”

~Ah subhanallah.. Si kakak ini belum selesai kuliahnya tapi sudah membantu kawannya di Kemenristek, eh tapi bukan itu yang mau kusampaikan. Dia –maasih tentang si kakak- ini, dengan kegiatannya ini dan itu di Yogya juga di Jakarta, ternyata baginya dakwah masih memiliki tempat dalam dirinya. Ya Allah.. malunya aku begitu mendengar kalimat itu terucap darinya. MJJ (mak jleb jleb) pula!

“Kapan ya terakhir aku mendengar kalimat serupa seperti itu sebelumnya?”

Advertisements

8 thoughts on “kepentingan pribadi VS kepentingan jamaah

  1. saya ikutan MJJ mbak,, mak jleb jleb..
    jangankan berkorban buat dakwah, berkorban buat dapat siraman ilmu untuk diri sendiri kadang-kadang….

  2. Hmm… temwil di Unsri itu pasti =D
    Ya dakwah memang butuh pengorbanan, dan pengorbanan kita pasti akan berbalas berlipat dari Allah dari arah yang tidak disangka-sangka.
    *nasehat buat diri sendiri*

  3. Hadooh… Udah lama gak dateng pengajian… 😦
    Apalagi mau ikutan berkorban dalam berdakwah… kok masih jauh banget bagiku ya… Huhu.. 😥

  4. sering2 baca buku tentang agama aja mbak.. gk jauh beda kok dengan mendengarkan ceramah langsung, insya Allah ilmu dan iman kita bisa semakin bertambah.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s