Bolehkah? #3

Standard

“Ada nih, seorang akhwat. Dia punya rasa sama seorang ikhwan. Rasa disini maksudnya adalah ingin menggenapkan separuh dien bersama si ikhwan. Nah, si akhwat ini cerita sama sahabatnya. Sampai kemudian, takdir berbicara lain. Si akhwat ini mendapati kabar bahwa sahabatnya itu sedang melakukan proses ta’aruf dengan si ikhwan yang dia suka.”

satu: “Nah, kalo kamu jadi si akhwat itu, apa yang kamu lakukan Va?”

dua: “Terus, kalo posisimu ada di sahabat si akhwat, apa yang akan kamu lakukan? Membatalkan proses itu atau tetap melanjutkan proses?”

 

~hmm,..

Apa ini yang disebut pagar makan tanaman?

*to be continued..

Advertisements

9 thoughts on “Bolehkah? #3

  1. titin

    nah, itu kenapa kita juga harus berhati2 dg sgala apa yg kira rasa, kita bicarakan, meski kepada sahabat. kalo sudah takdir, apatah lagi bisa dikata?

    harus sama2 legowo dan mengiyakanNya dg lapang, karena itu sudah bukan wilayah kita ^,^

  2. jadi inget salah satu cerita di buku “lelaki yang takut jatuh cinta” by sakti wibowo..
    dua orang sahabat (ikhwan) yang sama-sama suka sama 1 orang akhwat tapi pada akhirnya salah satu dari mereka mengalah..

    ato seperti cerita salman al farisi dan abud darda’ di bukunya salim a fillah.. T.T *so sweet..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s