Namanya Ika

Standard

Salah satu nikmat yang harus kau syukuri adalah mendapat saudara baru. Seseorang yang kalian dipertemukan olehNya pada sebuah peristiwa yang mungkin kalau memakai bahasa manusia adalah sesuatu yang kebetulan. Dan pagi tadi peristiwa itu pun terjadi padaku.

Ceritanya, pagi tadi aku mencari seseorang yang kami telah berencana untuk pergi bersama selepas mengahadiri KRPH. Kulihat dari depan pintu masuk ruang utama (masjid), seseorang ini sedang mengobrol dengan seseorang lainnya dan sepertinya mereka sudah saling kenal. Kuhampiri mereka dan “Kenalin Va, ini namanya Mbak Ika”. Aku bersalaman dengannya dan “Niva”. “Saya Ika, mbak”, jawabnya sembari tersenyum.

Ikut duduk bersama mereka. Tak berapa lama kemudian, “Kayaknya, aku pernah ngeliat mbak deh”, ucapnya padaku. ‘Heh?’ –iyakah?

“Eh, iya po? Ngeliat dimana ya?”, tanyaku kemudian.

“Hmm.. (sedang mengingat). Oia! Di Pernikahannya itu loh mbak….”, jawabnya.

“Pernikahannya siapa ya?”, tanyaku lagi sembari mikir ‘dipernikahannya siapa yak kami pernah ketemu? ~haduh.. aku gak inget!’

“Itu loh mbak, yang di Kuncen”, jawabnya.

Kuncen? Hm.. “Gina?”, tanyaku.

“Ah iya! Mbak Gina.. Mbak dateng kan ke walimahannya Mbak Gina?”

“Iya, dateng. Gina mah temen KKN mbak πŸ™‚ .”

“Ohh.. Iya, mbak. Aku yang jadi penerima tamu di tempat akhwatnya”, katanya lagi.

“Oh ya?” *merasa menyesal karena aku nggak perhatian sama orang lain di TKP beberapa bulan yang lalu.

“Iya, mbak. Hehe”. Dan akhirnya, pembicaraan pu berlanjut ke masalah kuliah, tentang kabarnya Gina yang ternyata tetanggaan sama si Ika, tentang berita baik bahwa Gina sedang menikmati masa-masa sebagai calon ibu, tentang ini dan itu.. Ah berasa sudah kenal lama dengan adek yang satu ini. Oia! Aku belum kasih tau ya, Ika ini mahasiswi angkatan 2009 (aiih,,, mudanya… Beda 5 tahun gitu sama aku πŸ˜€ ).

Seorang ibu paruh baya datang ke arah kami. ‘mirip’, batinku. “Ini Mbak Niva, Bu” dan “Va, ini ibunya mbak Ika”.. Kami pun bersalaman dan mengobrol ini dan itu.

Memulai percakapan dengan sang ibu. Ibu menanyakan asal kami, tempat tinggal kami, sampai kemudian tersebutlah “Sodara ibu ada banyak tuh yang pindah ke Jakarta, Bekasi, ato di daerah-daerah deket Bekasi. Yang di Bintaro, di Klender, terus yang di deket bla bla bla bla bla…”. Begitu mendengar kata Klender, “Eh, sodara ibu ada yang tinggal di Klender? Ih, itu mah deket sama tempat saya, Bu” *mata berbinar-binar*

Hahaha.. si Ibu keliatan kaget gitu pas liat aku yang SKSD ngobrol sama mereka. Xixixi.. gak papalah.. Itung-itung nambah sodara. Nggak terasa udah sekitar 15 menit ngobrol sama mereka, dan akhirnya “Udah? Yuk..”, kata Ibu ke Ika.

“Ini loh, mbak. Mau ke Muha. Adeknya Ika ikut olimpiade IPA gitu Yah, semoga aja menang..”, ceritanya sembari tersenyum. Ah iya, tak ada orang tua yang ta bahagia melihat anaknya memiliki prestasi dalam bidang akademik..

>.<Β Β  ~Nyaaa… seumur-umur aku nggak pernah ikutan lomba yang ilmiah-ilmiah gitu.

Dan sebelum berpamitan, ibu bilang pada kami berdua, “hayu mbak, nanti mbak main ke rumah ya. Deket kok sama tempatnya mbak Gina kemarin. Kalo tempat ibu malah lebih deket sama Masjidnya πŸ™‚ “.. (Hiks.. baru juga kenal, udah diajak singgah ke rumahnya.. T.T *terharu)

 

# Semoga kami bisa kesana, Bu.. suatu hari nanti πŸ™‚

Advertisements

6 thoughts on “Namanya Ika

  1. Darmanto Muat

    persaudaraan yang diikat oleh Tali Allah memang jauh lebih indah jika dibandingkan hanya diikat oleh darah semata..

    tetap menginspirasi mas..!
    salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s