tentang wanita #1

Standard

Jika ada seorang muslimah (akhwat) yang mendapatkan pernyataan “aku cinta sama kamu” atau “aku sayang sama kamu” dari seorang laki-laki muslim (ikhwan) yang bukan mahromnya, itu bukanlah suatu kebanggaan! (Jangan pernah berpikir, “Alhamdulillah yah, aku laku nih!”). Si muslimah seharusnya bermuhasabah: mengapa kehadirannya itu justru membuat saudara seimannya ini menjadi ‘galau’ ketika bertemu dengannya?? (Ustad Syatori di KRPH pagi tadi)

Begitukah?

–Lah, kalo kami (wanita) nggak ngapa-ngapain, tapi mereka (laki-laki) tetep nekad mengatakan itu, gimana coba?

–Ato, udah dicoba untuk menjaga diri, tapi tetap saja laki-laki itu menggoda?

–Jadi serba salah. Apa perlu pakai cadar?

Ya Tuhan, aku baru tersadar, ternyata benar bahwa wanita itu adalah sumber fitnah bagi kaum laki-laki. Shock begitu mendapati sebuah cerita dimana ada seorang akhwat yang sudah beberapa kali mendapati ‘perlakuan’ yang tak wajar dari teman laki-laki nya (ikhwan). Ada yang mengajaknya menikah untuk dipoligami, ada yang bermaksud nekad melamar datang ke rumah, ada yang pernah menawarkan untuk dikenalkan pada keluarga si ikhwan, ada pula yang sudah terang-terangan menyatakan perasaannya secara verbal maupun nonverbal pada akhwat ini dan mengajaknya berproses (ta’aruf).

*alhmadulillahnya aku nggak sakit jantung, jadine shocknya masih dalam taraf wajar* (apaan sih gue?)

Ya Tuhan, sebesar itukah fitnah yang akan dialami oleh kaum wanita?

Akhwat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu kota besar di Indonesia. Kerja di ranah publik memang lebih ‘menyeramkan’. Itulah mengapa aku tak mau bekerja di ranah publik. Godaannya terlalu besar. Belum lagi peluang terjadinya fitnah pasti jauh lebih besar lagi.

Jadi teringat pesan dari Ustad Sholihun di KRPH Selasa yang membahas tentang keteladanan dari 2 putri syu’aib dalam hal menjaga Iffah (kehormatan diri).

Pertama,”Ketika seorang muslimah ikut berdesak-desakkan (ikhtilat) dengan laki-laki nonmahram hanya untuk ‘pengen ikut nimbrung aja’, menurut Ulama, wanita muslimah ini seperti seseorang yang tidak memiliki iman”. *hiks. Pernah seperti itu (maksudnya cuman ikut-ikutan doang).

Kedua, “Seorang muslimah jika terlalu sering berinteraksi dengan laki-laki, hal ini akan memberi peluang terjadinya fitnah. Dan fitnah ini bukan hanya terjadi pada mereka yang sudah menikah saja, tetapi juga pada mereka yang sudah menikah, peluang fitnah pun tetap ada, bahkan jauh lebih besar”.

Ketiga, “Akan lebih aman dan menjadi lebih baik jika seorang muslimah tinggal di dalam rumahnya untuk menghindari fitnah. Dan boleh bekerja jika memang benar-benar membutuhkan (semisal tak ada anggota keluarga lain yang bisa meng-handle pekerjaan tersebut sementara mereka membutuhkan uang untuk makan dan hidup)”.

Poin ketiga ini mengingatkanku juga akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh seorang sahabatku, “Va, tau nggak sih, ternyata wanita tuh memang lebih baik tinggal di rumah. Abi Syatori bilang, ‘bahkan anjuran untuk bekerja yang ditujukan pada kaum wanita itu nggak ada! Nggak disunnahkan, Va. Hiks. MJJ  banget nih..”.Dan aku hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan darinya.

Oke, kembali ke kutipan di awal tulisan ini. Adakah yang ingin memberikan komentar?

Advertisements

3 thoughts on “tentang wanita #1

  1. arohmanpanji

    amat sangat sepakat dengan point no.3 bos =D

    *nah, klo kutipan awal tulisan ant, I’ve no comment for that =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s