Husna itu artinya …

Standard

*Tibatiba pengen posting materi yang kudapatkan dari Kajian Tafsir Surah Al Ankabut ayat 8*

Bismillah.. ^^

29:8

(sumber: http://quran.com/29/8)

“Dan kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. 29:8)

Pertama, yang dibahas hari itu adalah kata HUSNA.  –apa sih Husna itu?

anggaplah ini pohon apel *loh?

Husna adalah :

..POHON KEBAIKAN yang tumbuh diatas bumi yang batangnya MENJULANG tinggi sampai ke akhirat, yang MANIS buahnya (tak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tapi juga dirasakan oleh semua orang).

Nah, pohon kebaikan ini tak hanya menumbuhkan satu buah saja, tapi akan ada banyak buah yang dihasilkan dari pohon kebaikan yang bernama Husna ini. Lantas, kebaikan seperti apa sih yang bisa dikategorikan sebagai Husna?

Cekidot!

KRITERIA Husna itu ada 3:

1. Berorientasi akhirat –it means, kebaikan yang kita lakukan memang ditujukan untuk bekal akhirat kita.

2. Bermanfaat untuk diri sendiri DAN orang lain.

3. Membaikkan perasaan orang lain (bukan cuma kawan, tapi juga lawan).

Maka dari itulah Semisal begini: memberi makan seorang pengemis, ini perbuatan baik (husna) atau bukan? …coba dijawab dulu…  ^^

Hm.. biar cepet, langsung dijawab aja lah ya. Kembali ke ketiga kriteria diatas. Kalau kita berniat memberi makan seorang pengemis untuk bersedekah, maka poin satu sudah terpenuhi. Dan pastinya poin kedua juga terpenuhi dong. Secara gitu ya, itu membantu si pengemis memenuhi kebutuhan hidupnya. Poin satu udah oke, poin dua juga udah oke, tinggal poin tiga nih.

Memberi makan seorang pengemis akan termasuk sebagai perbuatan baik (husna) jika kita memberikan makanan tersebut dengan cara yang ahsan kepada pengemis yang bersangkutan. Coba deh dibayangin, semisal kita mau kasih makanan ke pengemis di jalan, dan kita ada di dalam mobil. Niatnya sih mau ngasih en sedekah, tapi ternyata kita ngasih tuh makanan dengan cara dilempar ke si pengemis en ternyatanya lagi tuh makanan malah jatuh ke trotoar. Kira-kira.. yang kayak begini ini termasuk Husna atau nggak?

^^ Jelas nggak termasuklah ya.. Bukannya membuat si pengemis merasa senang, tapi justru membuat si pengemis sakit hati dengan cara pemberian yang kita lakukan itu (dilempar dan bukan diberikan dengan cara yang baik). Nah, inilah makna dari membaikkan perasaan orang lain.

Karena itulah, seseorang akan dikatakan sebagai orang baik JIKA tak ada sangkaan/julukan lain selain kebaikan-kebaikan yang ia miliki. Contoh konkritnya ya Rasulullah sholollohu’alaihi wasallam -yang bahkan musuhnya pun tak menemukan julukan-julukan yang buruk terhadapnya.

Nah, diayat 8 ini, Allah mewasiatkan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua, dimana kehadiran dan kemampuan kita itu akan memberikan manfaat pada kedua orang tua kita. Dan ini, berlaku juga sekalipun orang tua kita bukan muslim.

Ada satu contoh menarik yang disampaikan oleh Ustad Syatori tentang kisah seorang pemuda. Kisah ini terjadi di Negara India. Pemuda ini merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara. Berlatarbelakang Hindu, seluruh anggota keluarganya pun menganut agama Hindu. Hingga suatu hari, si pemuda aka anak ketujuh dalam keluarga itu mendapatkan hidayah dariNya lalu ia hijrah sebagai seorang muslim.

Ketika mengetahui hal itu, seluruh anggota keluarga mengucilkan si pemuda dan mengusirnya dari rumah. Si pemuda pun pindah, ia tinggal di daerah lain untuk melanjutkan hidupanya. Sampai kemudian ia mendapatkan kabar bahwa sang ayah tengah sakit keras kota tempat tinggalnya. Beberapa hari sang ayah sempat dirawat di rumah sakit dan si pemuda ini pun memutuskan untuk menjenguk sang ayah.

Pada hari pertama kehadiran anak ketujuhnya itu, sang ayah menolak kehadirannya mengingat sudah tak satu keyakinan lagi. Hari kedua pun seperti itu. Hari ketiga dan seterusnya ternyata kakak-kakak dan adik si pemuda ini sudah mulai jarang menjenguk dan merawat sang ayah di rumah sakit -karena harus kembali melanjutkan aktivitas kesehariannya. Dan hanya si pemuda inilah yang kemudian tetap merawat dan menjaga sang ayah.

Melihat kebaikan si pemuda aka anak ketujuhnya, secara perlahan pun kekerasan hati si ayah ini luruh juga. Ia bertanya pada sang anak, “Nak, kenapa kamu masih berlaku baik padaku? Padahal kita sudah berbeda keyakinan”. Anak itu menjawab dengan kalimat sederhana, “Kita memang sudah berbeda keyakinan, ayah. Tapi, agamaku yang baru ini (Islam) mengajarkan bahwa kami harus berbakti kepada orang tua kami -sekalipun sudah berbeda keyakinan”.   ~aiiihh.. so sweet bener dah ah!

Mendengar jawaban seperti itupun, sang ayah jadi ‘penasaran’ dengan ajaran agama yang dianut oleh anak ketujuhnya itu. Lalu sang ayah pun berkata, “Nak, maukah kamu mengajarkan pada ayah tentang agamamu itu?”  ~hiks.hiks.hiks.

Jelaslah sang anak merasa bahagia mendapati ayahnya meminta hal tersebut. Lalu diajarkannya Islam pada sang ayah sampai ia mengucapkan dua kalimat syahadat di depan si anak. ~subhanallah yah..

Beberapa hari kemudian, sang ayah meninggal. Si pemuda bersyukur karena ayah yang dicintainya itu meninggal dalam keadaan Islam. Tapi satu hal yang ia sesali, jenazah sang ayah dikebumikan dengan adat Hindu karena pihak keluarga belum mengetahui perihal hijrahnya sang ayah sebagai seorang muslim.

Bgitu deh ceritanya. Panjang ya? 😀

Hiks. Emjeje. Merasa (sangat) tertohok atas semua materi yang disampaikan oleh Ustad Syatori. Secara gitu ya, waktu itu lagi galau-galaunya hubungan komunikasi sama orangtua. Dan ‘entah kenapa’ Allah mengarahkan hati ini untuk terdorong menghadiri kajian tafsir pagi itu.

Ustad Syatori bilang,” Jadilah jalan surga bagi kedua orangtuamu. Karena setiap kebaikan yang kita lakukan, insyaallah pahalanya pun akan mengalir kepada mereka”. ~Ah jadi berkaca pada diri sendiri.. Sejauh mana aku menjadi ‘jalan surga’ bagi kedua orangtuaku? …

Dan endingnya, diingatkan bahwa kata Husna itu sendiri tidak pernah mengenal kata selesai. Kenapa? Karena untuk menjadi orang yang baik itu butuh proses dan proses tersebut akan terus berjalan hingga ajal menjemput. Karena itu pula, rancanglah hidupmu untuk dapat menggapai mati yang husnul khotimah. Akhir yang baik.

Sabtu, 29.10.2011 (ba’da subuh)

@Masjid Nurul Islam by. Ustad Syatori.

Advertisements

10 thoughts on “Husna itu artinya …

  1. Reblogged this on Inge Febria and commented:
    Supaya kelak kau dapat membacanya, Nak. Namamu Matsna Nailal Husna, dan kami memanggilmu Husna. Sebaik-baik nama yang kami pilihkan seiring doa yang senantiasa kami panjatkan untukmu.

    Abi & Ummi Husna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s