Campur aduk

Standard

#1

Tahukah kamu, bahwa yang namaya ‘menjaga keikhlasan’ itu jauh lebih sulit daripada berbuat ikhlas itu sendiri?

Ah, pertanyaannya sederhana sekali. Tapi begitu kudengar kalimat serupa terlontar dari lisan Ustad Sholihun, yang muncul dibenakku bukanlah jawaban dari pertanyaan itu, melainkan “Ya Allah.. berbuat ikhlas aja susah! Apalagi menjaga keikhlasan itu sendiri..”.

Itulah mengapa, ada 3 hal yang harus selalu kita jaga ketika kita beribadah. Eh iya, ibadah disini bukan cuma sholat, puasa, sedekah atau tilawah aja, tapi segala aktivitas yang kita niatkan untuk mendapatkan ridho dariNya itulah yang dinamakan ibadah. Oke! Kembali ke ketiga hal yang harus kita jaga: pertama, sebelum melakukan aktivitas (NIAT). Niat ditempatkan diurutan pertama karena niat itu sendiri menjadi pembeda antara aktivitas yang satu dengan aktivitas yang lain. Semisal begini, si A sengaja memilih jurusan Psikologi supaya selepas lulus nanti dia bisa bekerja diperusahaan sebagai staf ahli personalia atau HRD.

Kedua, menjaga niat saat melakukan amal karena bisa jadi ada perubahan niat dalam perjalanannya. Dan yang ketiga adalah menjaga niat setelah melakukan amal.

#2

Tak perlulah kita memuji-muji orang lain, terlebih mencela keburukan-keburukan dia. Bukankah kita sendiri tak mau jika aib kita dibuka oleh orang lain?

Nah, bahasannya sampai sejauh mana nih?

Pernah nggak sih, sewaktu seorang teman bertanya “eh, kamu tau nggak gimana karakter kerjanya si fulan?”. Tak jarang, sadar ataukah tidak jawaban yang kita berikan jutru melebihi apa yang dibutuhkan oleh si penanya. “Si fulan? Ya ampun, tuh orang mah nggak bisa dipercaya deh. Masa’ ya, waktu tak kasih uang buat dititipin ke orang lain, eh malah dipake sama dia! Padahal tuh uang kan bukan uangnya dia. Nyebelin nggak sih?” (ilustrasinya sedikit lebay ah!)

Haduuh.. kalau sampai kita memberikan jawaban panjang lebar seperti itu, itu mah bukan ‘menjawab’ pertanyaan lagi namanya! Jatuhnya malah udah ghibah! m

Tak perlu juga mencela keburukan saudara kita yang sudah meninggal dunia -untuk apa?-.

#3

Rizki itu TIDAK ditentukan oleh profesi seseorang, tapi bisa jadi profesi itulah yang menjadi pintu bagi orang tersebut mendapatkan rizkinya.

Semisal begini, ada seorang akhwat yang menuliskan kriteria calon suami yang diinginkannya “mencari ikhwan yang bekerja sebagai PNS”. Dan ketika ditanya ‘kenapa nyari yang PNS, ukht?’.. Jawabannya, ‘soalnya kan hidupnya nanti terjamin. Amanlah untuk kehidupan masa depan’..

~aiih.. adakah yang bisa menjamin hal tersebut? Adakah, ukhti?

Sampai Ustad Sholihun berkata, “Saya sampai heran, kalau ada seseorang yang mengisyaratkan calon pasangannya ‘harus PNS’ atau ‘saya nyari akhwat yang sudah lulus dari fakultas kesehatan atau pendidikan’. Sebenernya, yang mereka cari tuh orangnya? atau profesinya sih? Padahal, apa pernah Allah mengatakan bahwa rizki itu ditentukan dari profesi seseorang?”

emjeje.

#4

Bersemangatlah dalam melakukan apa pun yang terbaik untukmu dan janganlah kamu merasa lemah!

Waah, kalo yang ini sangat emjeje bagiku.

 

Hm.. empat dulu deh.

Itu tadi poin-poin yang kudapatkan dari Kajian Jumat malam di Annida (18/11/2011). Bersama Ustad Sholihun. Sebenernya mah topik utamanya tentang syirik, tapi kalo kumulai dari syirik, ntar kepanjangan.. hehe. Jadi, kubuat per poin kayak begini aja. Oh iya! Yang kajian tafsir di Nurul Islam pun baru separuh ya. hehe.. semoga bisa melanjutkan seri keduanya :). Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bish showab

Advertisements

3 thoughts on “Campur aduk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s