Mujahadah itu perlu (banget), Va..!!

Standard

Al Imam Al Bukhari dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “ Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidak seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu perbuatan yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah aku fardhukan kepadanya. Dan seorang habaKu terus-menerus mendkeatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah) sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Akulah penglihatannya yang dengannya ia melihat, Akulah tangannya yang dengannya ia memukul, dan Akulah kakinya yang dengannya ia berjalan. Kalau ia meminta kepadaKu, niscaya Aku beri dan jika ia meminta perlindunganKu niscaya akan Aku lindungi’.” (HR. Muslim)

~ KEREN! =D baiklah.. kita masuk ke prolog.

Prolog: jika kita menemukan sebuah hadits yang didalamnya terdapat kalimat “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “’Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman…’… nah, itu berarti bahwa hadits itersebut merupakan hadits qudsi. Termasuk hadist yang tertulis di atas. Sebenarnya Ustad Sholihun menyebutkan hal-hal lainnya terkait hadits qudsi, catatanku tak sempurna ^^ (kalau ada di antara kalian yang tahu dan ingin menambahkan, diperilakan).

Oke! Lanjut ya..

Esensi utama dari hadits ini adalah kesungguhan manusia dalam beribadah padaNya: berkomitmen dalam melakukan ibadah wajib dan sunnah.

Nah, kalau diuraikan lagi, ada 5 hal yang terkandung di sana:

  1. Aqidah
  2. Perlindungan Allah subhanallahu wata’ala terhadap hamba-hambaNya yang beriman
  3. Definisi wali
  4. Wilayah-wilayah tarbawi: ciri-ciri seseorang yang dicintai oleh Allah subhanallahu wata’ala
  5. Urgensi ibadah-ibadah sunnah

#1   SATU

: “Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang terhadapnya”.

Tingkat tertinggi dari ketauhidan adalah mencintai apa yang cintai Allah subhanallahu wata’ala dan membenci apa yang dibenci oleh Allah subhanallahu wata’ala.

Kalau dalam konteks dakwah dan jihad, orang-orang yang ikut terlibat di dalamnya (turun secara langsung dalam menyebarkan syi’ar Islam atau sekedar memberi dukungan) mereka itulah yang dicintai oleh Allah subhanallahu wata’ala. Dan sebaliknya, orang-orang yang berusaha menghancurkan, menghambat atau hal-hal serupa seperti itu à mereka inilah yang dibenci oleh Allah subhanallahu wata’ala.

Jadi, tugas utama kita sebagai da’i atau penggerak dakwah ialah menyebarkan ajaran-ajaran Islam sedangkan orang-orang kafir yang berniat menghancurkan Islam, biarkan itu menjadi wilayah Allah subhanallahu wata’ala untuk mengurus mereka. Jadi, jangan sampai kita sibuk memikirkan makar-makar dari mereka. Karena ketika kita sudah sibuk mengurusi hal itu, sesungguhnya itulah tujuan mereka untuk menjauhkan kita dari tugas utama. Dan lagi, sampai kapanpun mereka akan terus melakukan hal itu sampai orang-orang muslim kehilangan keimanannya. Jadi, istiqomahlah! –focus pada dakwah dan syi’ar.

Bekerja. Teruslah bekerja! Memberikan kontribusi dari apa yang kita punya. Hartakah, tenagakah, pikirankah, atau apapun yang kita miliki.

Sebenarnya, bisa saja Allah subhanallahu wata’ala memberikan kemenangan pada kita secara cuma-cuma (tanpa upaya dari manusia) toh Dia punya pasukan-pasukan yang dengannya kemenangan dakwah akan mudah didapatkan, tapi Dia tidak melakukan hal itu. Kenapa? Karena Dia ingin melihat upaya kita, melihat kesungguhan kita untuk memperoleeh kemenangan yang memang kita pun ingin meraihnya.

#2   DUA

: Allah subhanallahu wata’ala akan melindungi orang-orang (wali) yang beriman..

Perlindungan yang dimaksud di sini berupa perlindungan fisik juga perlindungan terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh wali-waliNya.

Nah, yang dimaksud dengan ‘perlindungan terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh wali-waliNya’ itu : Allah subhanallahu wata’ala akan memberikan hidayah atau bimbingan berupa kemudahan-kemudahan kepada wali-waliNya dalam memahami ilmu pengetahuan. Dan di sini ada korelasi postitif antara tingkat keimanan seseorang dengan ‘kecerdasan’ yang ia miliki.

Maksudnya, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin mudahlah ia menerima petunjuk dari Allah subhanallahu wata’ala: semakin mudah memahaminya, semakin mudah mengamalkannya, dan semakin mudah menyampaikannya kepada orang lain.

Dan sesungguhnya kita tetap membutuhan hidayah dariNya.

Hidayah yang pertama: petunjuk Allah subhanallahu wata’ala berupa bimbingan (sifatnya ‘ikhtiar’). Hmm,, kalau yang kutangkap, hidayah ini bisa kita dapatkan dari orang lain atau dari lingkungan sekitar yang memberikan ibroh pada kita. Semisal, mendapat nasihat dari seorang sahabat.

Hidayah yang kedua: petunjuk Allah subhanallahu wata’ala untuk bisa mengamalkan apa yang sudah kita dapatkan sebelumnya.

Hidayah yang ketiga: hidayah berupa keikhlasan. Ikhlas dalam mengerjakannya.

Hidayah yang keempat: hidayah berupa keistiqomahan. Istiqomah untuk bisa menjaganya agar tetap melekat dalam diri.

Dan yang kelima: hidayah berupa kesadaran dan kemauan untuk tergerak: berdakwah (menyampaikan apa yang sudah kita peroleh kepada orang lain).

#3 TIGA

: Definisi wali

Ada dua wali yang dimaksudkan –pertama adalah wali ‘an dan yang kedua adalah wali khos. Yang dimaksud dengan wali ‘an yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah subhanallahu wata’ala, mereka yang bertaqwa dan kita tidak boleh menghinanya. Nah kalau wali khos adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanallahu wata’ala dan diberikan ‘keistimewaan’ oleh Allah subhanallahu wata’ala berupa kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh wali ‘an.

Jadi sederhananya, wali ‘an itu adalah orang muslim pada umumnya sedangkan wali khos itu orang muslim yang ‘istimewa’.

Lanjut ya..

Adapun keistimewaan atau kelebihan yang dimiliki oleh wali-wali khos Allah subhanallahu wata’ala ini seperti: kelebihan dalam hal memahami dan mengamalkan ilmu-ilmuNya seperti Imam Bukhari r.a yang hafal ribuan hadits =). Kelebihan lainnya ialah kelebihan dalam bidang peperangan atau jihad (fisik). Nah kalau ini sih ada banyak ya para sahabat atau shahabiyah yang mendapatkan kelebihan ini =).

Masih tentang wali..

Sayangnya, di masyarakat kita istilah ‘wali’ ini identik dengan makna ‘sakti’. Coba deh tengok kisah-kisah wali songo yang kalau kita dengar kisah-kisah itu dari guru, orangtua, atau nenek kakek, ada hal-hal mistik yang terkadang disangkut pautkan dengan para wali songo tersebut. Dan tentang kebenarannya, kita tidak tahu apakah itu benar atau sekedar legenda saja.

Tapi.. KEREN-nya pada wali songo itu adalah, dari yang awalnya hanya 1 orang (Sunan Ampel) sampai di Indonesia dan mulai menyebarkan agama Islam di sini bertambah menjadi 9 orang dan dari 9 orang itu mereka mampu menyebarkannya lagi ke pelosok-pelosok Indonesia (secara perlahan menggantikan ajaran Hindu yang ketika itu masih merebak di tanah air kita). Ah iya! tentang sejarah, cukup sampai di sini saja. Ini pun yang saya dengar dari apa yang disampaikan Ustad Sholihun =D.

Mari kita melanjutkannya.. semoga belom bosen ya ^^b

#4 EMPAT

: Wilayah-wilayah tarbawi: ciri-ciri seseorang yang dicintai oleh Allah subhanallahu wata’ala.

Sebenarnya sih, ciri-ciri dari walinya Allah subhanallahu wata’ala itu ialah istiqomah dalam menjalankan ibadah wajib dan istiqomah dalam menjalankan ibadah yang sunnah.

Sederhana kan? (sederhana sih, tapi rasa-rasanya memang butuh kerja ekstra untuk bisa seperti itu)

Oh iya! Masih berhubungan sama Wali. Ada penjagaan khusus yang diberikan oleh Allah subhanallahu wata’ala kepada wali-waliNya. Inilah yang disebut dengan ‘karomah’. Tapi tidak semua orang mendapatkan karomah, karena memang ini ‘istimewa’. Nah yang perlu diketahui adalah karomah ini tidak didapatkan dengan melakukan ritulal-ritual yang sifatnya syirik ataupun bid’ah. Bgitu..

Beralih ke ibadah. Allah subhanallahu wata’ala paling mencintai ibadah-ibadah wajib yang dikerjakan oleh hamba-hambaNya. Dan sudah seharusnya ini menjadi prioritas utama kita.

Kalau semisal kita sering melakukan sholat tahajud di sepertiga malam, khusyuk, habis itu dilanjut dengan tilawah. Atau semisal kita akan bela-belain sholat dhuha sesuai jam-nya. Nah coba deh ingat-ingat, bagaimana dengan kondisi kita ketika kita melakukan sholat fardhu. Tepat waktukah? Khusyukkah? Atau malah terburu-buru? Jangan-jangan kita lebih khusyuk mengerjakan sholat-sholat sunnah daripada sholat fardhu.

Nah loh!

Inilah yang kemudian dikatakan oleh Ustad Sholihun bahwa “sempurnakan dulu ibadah wajibmu”. Maksudnya adalah ibadah wajib tetap menjadi prioritas utama kita. Barulah setelahnya kita tunaikan ibadah sunnah. TAPI.. bukan berarti “ya udah lah kalo gitu, aku kerjain yang wajib-wajib dulu aja terus nanti kalo udah khusyuk en ontime, baru deh ditambah ibadah sunnah..”.

Ops! Bukan begitu maksudnya. Untuk menuju kesempurnaan dalam melakukan ibadah wajib itu tetap membutuhkan proses dan seiring kita menjalani proses itu, kita tetap bisa mengerjakan ibadah sunnah. Jadi kan lengkap deh. Yang wajibnya OKE. Dan yang sunnahnya juga oke. =D

#5  LIMA

: urgensi ibadah-ibadah sunnah.

Ada tiga definisi ‘sunnah’ yang sering kita dengar.

a). Sunnah: hukum sunnah –bila kita menunaikannya, akan mendapatkan pahala tapi kalaupun kita tidak menunaikannya, tidak akan mendapat dosa.

b). Sunnah: ibadah sunnah vs bid’ah –sunnah mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

c). Sunnah: Alquran dan As sunnah –kalau di sini fungsinya sunnah adalah memberikan penjelasan kepada manusia berupa hal-hal yang tidak tertera dalam alquran.

Nah, yang dimaksud dengan ‘sunnah’ dalam hadits ini adalah ibadah sunnah.

Ibadah sunnah ini ternyata  bisa menjadi sarana bagi kita untuk mendapatkan pertolongannya Allah subhanallahu wata’ala loh! Jadi, kalau kita bersungguh-sungguh meminta, memohon, berdoa atau bersungguh-sungguh dalam beribadah kepadanya, maka Allah subhanallahu wata’ala akan memberikan pertolonganNya. Sehingga jiwa dan ruh kita pun akan semakin dekat denganNya.

Maka, sempurnakan janjimu padaNya. Penuhi janjimu padaNya maka Allah subhanallahu wata’ala akan memenuhi janjiNya padamu. Karena Dia selalu menepati janjiNya kepada hamba-hamba pilihan.

Begitu..

Baiklah. Sepertinya cukup panjang ya? =D

Yang benar itu datangnya dari Allah subhanallahu wata’ala dan yang salah itu dari seorang Niva. Jadi kalau dari tulisan ini ada yang kurang, silakan ditambah. Kalau ada yang salah, tolong diperbaiki. Dan kalau ada yang lebih, hm..kayaknya nggak mungkin lebih deh :D..

Wallahu’alam bish showab..

Semoga bermanfaat ^^

KRPH Sabtu, 02 Juli 2011

Kitab Riyadushsholihin: Bab Mujahadah (Bersungguh-sungguh)..part 2

Oleh Ustad Sholihun

Advertisements

9 thoughts on “Mujahadah itu perlu (banget), Va..!!

  1. poin ttg hidayah yg no.4 menurut ana itu yg paling berat….menjaga keistiqomahan.. 🙂
    karena hati kita ini mudah sekali utk dibolak-balik…..
    smoga Alloh SWT slalu memberikan ketetapan buat hati kita utk selalu berada dijalan-Nya….aamiin !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s