Partner hidup #1

Standard

aku tak ingat kapan pertama kalinya rasa sayang itu muncul di hatiku. aku juga tak ingat kapan persisnya aku mulai merindukanmu ketika kau tak ada disampingku.

apa kau ingat, dulu aku pernah mendoakanmu agar Dia menempatkanmu di neraka -saking jengkelnya aku pada sikap-sikapmu. kuucapkan dengan suara lantang dan seketika itu juga ada yang menegurku. beliau bilang, “Kalau berdoa, nggak boleh yang jelek-jelek”. Aku terdiam dan menoleh kearahmu -masih dengan wajah tak suka. sedangkan kau pun tak berkomentar apapun setelahnya. ~maafkan aku..

kapan ya pertama kalinya kita mulai bertukar cerita? kau bercerita tentang dia, dia, dan dia. dan aku pun bercerita tentang dia, dirinya, dan mereka.

lima tahun lalu, aku hanya menitipkanmu padanya, pada mereka yang bahkan ketika itu pun aku belum pernah mengenal sosok dan karakternya. modalku hanya dua: coba-coba dan rasa percaya. aku tak pernah berharap kau akan berubah seperti ini jadinya. karena memang aku hanya ingin kau menjadi lebih baik dari sebelumnya dan lebih baik dariku -pastinya-. dan disaat yang bersamaan, aku mulai membutuhkan partner hidup untuk berjuang di sini.

dan Dia mendengar permintaanku..

Dia pun mengenalkanmu pada komunitas yang memiliki nilai ukhuwah yang tinggi. lalu kau pun berkembang. jauh diatasku. ~ah! kalau boleh jujur, aku sempat iri padamu. tapi ya sudahlah, tak ada gunanya pula aku merasakan hal itu, iya kan? =)

sejak saat itulah, secara sadar ataupun tidak, kau mulai membantuku merajut benang-benang iman di rumah kita. ~aiih.. lebay sekali.

bersyukur mendapatkan partner hidup di sini. yang tak hanya memikirkan capaian akademik semata. yang juga mulai memikirkan adik perempuan kita satu-satunya. yang berani memulai diskusi dengan mereka terkait dinamika politik-liqo-dakwah-dan tarbiyah. yang tak merasa sungkan menempelkan stiker berlambang partai bulan sabit kembar berwarna kuning-hitam-putih di jendela depan rumah, jendela rumah emak panambangan juga di jendela rumah emak putat. ~haduuh.. seumur-umur aku tak pernah berani mengambil langkah seperti itu.

kau: yang tak pernah sungkan menasihatiku ketika aku terjatuh. yang mulai bersedia mendengarkan cerita-ceritaku (yah, walaupun memang tingkat empatimu masih tergolong sedang) sekalipun itu tak penting dan hanya membuang-buang waktumu. yang tak pernah mengatakan ‘sayang’ atau sekedar ‘rindu’ padaku. yang sering mengingatkanku untuk bisa melakukan tugas dan kewajiban kita ber-birrul walidain. yang sudah bisa merendahkan intonasi dan nada bicara ketika ada sesuatu yang ingin kau sampaikan padaku secara lisan. syukron katsir ya..

dan kau: yang terkadang membuat aku berpikir “apa aku mampu menjadi seperti Laisa atau Tania?”

***

# untuk seorang partner hidupku di rumah ini:

syukron katsir atas segala kebaikannya. atas segala bentuk kasih sayangnya. atas segala nasihat dan supportnya.

jazakallah khoir ya..masih ada banyak PR di sana, semoga bisa istiqomah menyelesaikan semua urusan ini. seindah yang diharapkan.

love you so much :’)

Idul Fitri 1430 H

 

 

Advertisements

24 thoughts on “Partner hidup #1

    • πŸ˜€ kalo si kakak maen ke semarang si adik nih sukanya ngenalin si kakak ke temen-temen akhwatnya..
      bilangnya, “mbak, sy nitip kakak saya yah di sini (nginep di kontrakan temen akhwatnya)”..

      ~hadeeh.. masa dititipin sih? kayak barang ajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s