Hijrah yuk! (episode jilbab)

Standard

Yang namanya hijrah itu, beratnya minta ampun. Adaaaa aja godaan yang datang dari arah kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah. Godaan untuk tidak melakukan sesuatu (atau lebih) yang bernama kebaikan. Kalau pake definisinya Ustad Syatori, “Hijrah itu merubah diri dari kondisi yang tidak disukai olehNya ke kondisi yang disukai olehNya”.

Semisal mau pakai jilbab, godaannya nggak cuma satu. Ada yang masih merasa ragu-ragu, ada yang masih merasa minder, ada yang masih merasa ‘takut nggak istiqomah’, ada yang merasa takut sulit dapet kerja, ada yang merasa nggak bisa gaul, dan lain sebagainya. Wah.. kalo ada yang merasa seperti ini, coba deh baca buku “Jilbab Pertamaku”. Pengalaman-pengalaman mereka pertama kalinya menutup aurat dengan hijab yang bernama jilbab.

Pernah juga seorang ustad bercerita, hmm Ustad Syatori deh kayaknya. Jadi ceritanya tuh ada seorang muslimah, kuliah di Yogya. Dulunya belum berjilbab dan menginjak bangku kuliah, hidayah itu berhasil diraihnya. Ia tahu bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya dan tak ada lagi alasan untuk kemudian menunda-nunda hal tersebut. Dan akhirnya, si muslimah inipun memutuskan untuk menggunakan jilbab.

Keluarganya kaget, terlebih kedua orang tuanya. Melihat perubahan yang dilakukan oleh si anak perempuannya itu, mereka memberi dua pilihan,  “Lepas jilbabmu itu atau kalau tidak, pergi dari rumah ini!”

T.T  Ya Tuhaan.. aku tak bisa membayangkan seandainya aku berada di posisi si muslimah ini. Antara perintahNya dan perintah kedua orang tuanya, dia pun memilih untuk menaati perintah Tuhannya.

“Aku tak akan melepas ini (sembari memegang jilbab yang melekat di tubuhnya) sampai aku mati!”

Allahu Akbar! Merinding betul mendengarnya.

dan ustad pun melanjutkan (kurang lebih intinya begini), “maka, ketika keimanan itu sudah menancap dalam hati seseorang, tak ada lagi satu pun keragu-raguan di sana“. *hiks.. tertohok sekali aku mendengarnya.

Ah! itu hanya satu cerita saja. Bahkan aku pernah melihat hijrahnya seorang sahabatku yang sedari semester awal ia belum berjilbab-tomboi-slalu menggunakan seaptu kets dan celana jeans, lalu disemester 3 ia memutuskan untuk berhijrah. Semester 4 atau semester 5 ia mulai memakai rok dan jilbabnya pun sudah menutup dada-tak lagi transparan-tapi hebatnya sepatu kets itu tetap menjadi teman setia kedua kakinya.

Semester 6-7 mulai memakai gamis -dan tetep dengan sepatu kets favoritnya. Pindah ke salah satu asrama putri yang bertempat di daerah Pogung. Dua tahun belajar di sana dan selepas dari sana ia mengabdikan diri sebagai salah satu pemandu adik-adiknya.

Ah! Aku malu sendiri dibuatnya. Subhanallah.. Dan sekarang, kakinya pun sudah menjelajahi negeri Jerman bersama beberapa teman lainnya. *aku kangen nasihatmu, Luh..

Jadi inget pengalaman sendiri :D. Tapi yah subhanallah sekali.. Sejak saat itulah, aku menyadari betul bahwa dakwah keluarga itu penting (banget) dan ternyata dakwah keluarga itu jauh lebih sulit dari dakwah kampus T.T

Eh, kenape ceritanya malah ngalor ngidul? hehe. maaf ya. sering begini –.–“ . ya suw lah, apapun itu:

Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1433 H. Semoga targetan 1 tahun kedepan semakin baik dan lebih berorientasi surgawi 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Hijrah yuk! (episode jilbab)

  1. Dakwah keluarga dalam suatu keadaan lebih sulit daripada dakwah kampus (dakwah kampus saja susahnya minta ampun), karena di keluarga ada orangtua yang selama ini mendidik kita dan seringnya orangtua merasa lebih superior dari kita. Ya, meskipun sudah dikasihtahu dengan cara yang paling baik, kadang-kadang mereka tetap saja keras.
    (*saya tidak tahu kalau yang dimaksud dengan dakwah keluarga di sini posisinya sebagai Ibu/Bapak)

    Tapi yuk Hijrah, mudah-mudahan di setiap waktu kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. :mrgreen:

  2. Hmm… jadi ingat juga pengalaman pertamaku pakai jilbab. Aku tinggal dengan Om dan tante. Mereka melarangku pake jilbab, karena khawatir gak bisa istiqomah.
    Dulu sih masih jarang2 orang pake jilbab. Alhamdulillah, jaman sekarang jilbab sudah gak aneh lagi. Bahkan tante dan sepupuku sekarang berjilbab juga, meskipun pakaian masih ngepress bodi 🙂

  3. wah maaf saya ndak akan pernah pake jilbab apalagi gamis!!

    karena saya laki-laki he he…

    jadi ingat pengalaman seorang teman, bahwa gara-gara berjilbab seluruh jilbab dan pakaian muslimnya dibakar sama orang tuanya. Tapi alhamdulillah pada akhirnya orang tuanya menerima keadaan putrinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s