Aku, Menjadi Ibu dan Penyakit Lupus

Standard

Inilah untungnya ada sebagian buku bacaan yang sudah kukirim ke rumah. Nggak semuanya ada di Yogya (baca: kamar kos). Dan buku yang kupilih hari ini adalah: Keep Smiling for Mom karya Azti Arlina. Terbitan Mizania. Aku membelinya di toko Book City, Buaran Plaza tahun lalu. Tadinya mah nggak ada niat beli buku, eh begitu mampir ke rak paling belakang: TARAAA!! Lagi ada diskon untuk beberapa buku: salah satunya buku ini. Cuman Rp10.000 =D. beli aje deh. Tentang parenting sih soalnya. Hahaha..

Okey! kembali ke topic awal.

Disini, mau sedikit berbagi tentang pengalaman beberapa orang ibu dengan latar belakang aktivitas yang berbeda J.

#1

Ibu Dian Syarif, seorang penyandang penyakit lupus.

Ibu ini bekerja sebagai public relation manager di sebuah bank swasta ternyata cukup menyita waktu kesehariannya sebagai seorang istri. Sembilan tahun menunggu kabar baik dari Allah tentang kehadiran seorang anak, ternyata Allah memberinya sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Lupus. Sebuah penyakit kelainan darah.

Setiap harinya, beliau harus meminum 20 tablet obat yang bernama tablet prednison untuk menormalkan trombositnya. Dan efek sampingnya tentu saja ada. L

Satu hal yang membuat bu Dian merasa ‘shock’ ketika ia diberitahu bahwa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi yaitu hilangnya penglihatan. Dan hal itu pun benar-benar terjadi padanya. T.T

Hampir merasa depresi. Yah, jelaslah ya, wong beberapa kali harus menjalani operasi (bahkan sampai delapan belas kali operasi, cobaa!!) T.T . bukan Cuma itu. Rahimnya pun harus diangkat dan itu berarti harapan menjadi seorang ibu pun kandas sudah.

Ah, tapi Allah Maha Baik. Ujian demi ujian yang diberikan padanya tak sebanding dengan apa yang sudah diterima olehnya. Keluarga yang harmonis, karier yang memuncak, harta yang melimpah, suami yang setia dan kesempatan untuk beribadah ke Tanah Suci pun diperolehnya dari Sang Maha Pemurah.

Dibalik kondisinya yang serba kekurangan, bu Dian menyadari bahwa hidup itu harus senantiasa bersyukur dan hidup itu harus selalu diisi dengan amal untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.

Terakhir, “kita harus meningkatkan keyakinan Ilahiyah agar memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap ujian yang Allah berikan”

Advertisements

7 thoughts on “Aku, Menjadi Ibu dan Penyakit Lupus

  1. Tuh, kita dengan keadaan yang sehat segar bugar begini, masa’ kalah sama ibu itu? 😦 Jangan kalah!
    Ayo ayo manfaatkan tubuh kita yang tanpa kekurangan ini dengan lebih baik lagi. 🙂

  2. Lupus Eritromatosus Sindrom, penyakit autoimun. Setahu saya penyakit ini mengerikan. Tapi, hebat ya ibu itu. Saya salut. Ini menginspirasikan untuk memanfaatkan kesehatan kita sebaik mungkin, dan supaya terus bersyukur. 🙂

  3. penyakit autoimun, ia menyerang dirinya sendiri
    subhanallah…saya kenal seorang teman yang menderita penyakit serupa
    tapi semangatnya luar biasa dan kalau berbicara dengannya saya jadi malu pada diri sendiri

    ia nampak begitu bersemangat menghadapi kehidupan dan selalu menilai sesuatu dari kacamata “inilah nikmat Tuhan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s