Merencanakan Generasi Penerus

Standard

#3

“Terkadang saya suka bertanya sendiri, apa hal yang paling membuat saya bahagia dalam hidup ini? Ternyata jawabannya adalah sesaat setelah saya melahirkan”.

Wirianingsih. Ibu dari sepuluh anak penghafal Alquran.

Menjadi ibu dari sepuluh orang anak bukanlah bagian hidup yang beliau rencanakan. Justru suaminya-lah yang pernah mengutarakan hal tersebut dan ternyata itu menjadi doa yang dikabulkan olehNya. ~Allahu Akbar!

Ah, membaca (sebagian) kisah beliau membuat saya mupeng. Tentang keluarga qurani, tentang keterampilan membagi waktu, tentang cara mendidik anak, tentang visi dan misi berkeluarga, sampai tentang  merencanakan generasi penerus.

Oke! Kita bahas satu persatu ya (eh sebagian aja de ya. kalo mau lengkap mah, baca bukunya ajah =D)

Menjadi keluarga Qurani. Poin pertama yang harus dilakukan adalah memilih pasangan hidup yang bertakwa –agar visi dan misi antara suami istri itu sama: membentuk keluarga Qurani.

Poin kedua Beliau menuturan bahwa dua pertiga pendidikan anak itu didapat dari rumah sedangkan sepertiganya didapatkan dari sekolah, pesantren,  dan lembaga formal lainnya. Itulah mengapa Ustadzah wiwik mengatakan bahwa pesantren hanyalah sebuah alternatif.

Poin ketiga: merencanakan ‘ingin memiliki anak yang seperti apa’.

Nah yang menarik disini yaitu: sebelum anak-anaknya lahir, beliau sudah menargetkan anak pertamanya harus seorang ahli matematika. Ketika  itu belum terpikirkan anaknya nanti harus hafal Alquran. Bukan hanya iu, beliau pun sudah merencanakan anak pertamanya ini harus kuliah di ITB. Dan memiliki nazar jika keinginannya itu terkabul, beliau akan mengajak umroh anak pertamanya itu. Dan subhanalahnya, hal itu tercapai. >.<

Itu cita-cita pertamanya. Cita-cita keduanya: anak keduanya nanti harus menjadi Alquran berjalan. Belum terpikirkan pula agar anak keduanya nanti harus menjadi seorang hafizh, tapi setiap selesai tilawah, beliau selalu berkomunikasi dengan anaknya (yang masih berada dalam kandungan). Dan sejak anak-anaknya mulai besar (balita deh kayaknya), beliau menargetkan sebelum berusia 6 tahun, anaknya harus sudah lancar membaca Alquran (dan yah pastinya mah yang ngajarin tuh Ustadzah Wiwik secara langsung: metode qiro’ati). *tibatiba teringat sama qiro’atiku yang masih ada ditingkat pemula L.

~Ah! Subhanallah banget deh pokoknya! Asli mupeng banget kalo baca kisah beliau. T.T

Tentang keteladanan seorang ibu. tentang kerjasama antara istri dan suami dalam mendidik anak. tentang persiapan menjadi seorang istri dan seorang ibu. tentang membina umat (“nggak ada istilah cuti dalam berdakwah”, begitu katanya) dan membina keluarga. tentang pertolongan Allah yang slalu ada. dan lain sebagainya.

# KEREN!

Advertisements

9 thoughts on “Merencanakan Generasi Penerus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s