PilihanNya, bukan pilihan manusia

Standard

“Ya Allah.. Ya Rahmaan.. Ya Rahiim.. Ya Maliik.. Ya Qudduus.. Ya Salaam.. Ya Mu’min.. Ya Muhaiimin..”   (Asmaul Husna –dibawakan oleh Ary Ginanjar)

Gara-gara adek keduaku ini, aku jadi ketularan suka sama lantunan Asmaul Husna yang dibawakan oleh Ary Ginanjar itu. Yah.. yang namanya hidayah mah emang nggak pandang umur en posisi seseorang ya! Buktinya, seorang kakak mendapat hidayah untuk mendengarkan dan (ikut) menghafalkan Asmaul Husna (yang seharusnya mah udah dari dulu dilakuin) –.–“

By the way, anyway, bus way, lantunan musiknya melow banget. Bener bener pas buat muhasabah. Dan pastinya pas banget jadi soundtrack tulisanku kali ini.

~aih.. kenapa pas bgini ya moment-nya?

# pagi hari

Kukirimkan SMS itu padanya. Sekedar menanyakan kabar karena sudah hampir satu setengah bulan kami tak berjumpa. Sebenarnya aku ingin menanyakan kabar Mr.S-nya. Dua bulan yang lalu ia bercerita bahwa Januari ini dosen pembimbingnya akan pensiun dan itu artinya ia harus bisa ujian sebelum dosennya itu pensiun. Apa ‘tulisanmu’ sudah selesai dan sudah diujikan?

Tapi, kuurungkan niatku itu. aku hanya menanyakan kabarnya saja: apakah ia sehat ataukah ada sesuatu yang membuatnya tak membalas SMS-SMS dariku. Entahlah, tiba tiba saja pagi ini aku merasa khawatir. ~Semoga kau baik-baik saja..

# waktu dhuha

aku melihat profil salah satu adek angkatanku yang baru saja mengganti statusnya dari ‘single’  menjadi ‘is being married’ dan membaca salah satu statusnya yang ia tulis beberapa hari yang lalu. Hmm sebenarnya sih kalimat yang ditulisnya itu begitu sederhana. Tapi begitu kubaca ulang kalimat tersebut,  itu berhasil membuatku terdiam selama beberapa saat.

Bunyinya begini:

“Dia bukan pilihanmu, bukan pula pilihan orangtuamu. Dia adalah pilihan Allah untukmu”.

Hmm… serupa dengan prinsipku, hanya saja sedikit beda denganku. Kalau aku, “Dia (laki-laki itu) mungkin bukan pilihanku, tapi kalau orangtuaku memberi tanda setuju, bagiku, itulah pilihanNya untukku”.. ~tsaaah…

Yaah, menikah tak harus dengan seseorang yang disukai kan? Memperjuangkan seseorang yang kita sukai memang diperbolehkan, tapi yang utama tetaplah ridho orang tua (terutama ridho seorang ayah –kalau kau adalah anak perempuan) yang menempati urutan kedua setelah ridho Allah. Selama lakilaki itu memiliki pemahaman agama yang baik (dan akhlak yang baik) dan berhasil mendapatkan ACC langsung dari orangtuaku, itu sudah cukup.

Seperti kata beberapa sahabatku, “cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Selama disana ada IMAN, tak ada yang perlu dikhawatirkan”.

Tapi sayangnya, kalimat itu seolah menghilang dari benakku ketika aku mendapatkan berita terbaru.

# siang hari

sebuah pesan masuk ke inbox henponku. Berita (gembira) dari seorang temanku yang mengabarkan bahwa ada teman kami ada yang akan menggenapkan separuh dien-nya di bulan ini.

Senang? Ya, tentu saja. Tapi ada ‘sesuatu’ dihati yang (jelas-jelas) tak bisa kututupi.

Eh tunggu. Tunggu. Tunggu.

Ini bukan karena aku cemburu pada temanku itu. sama sekali bukan.

Aku hanya merasa ‘hilang sudah harapan untuk mempertemukan ‘mereka’..

# beberapa bulan yang lalu

ada keinginan menjodohkan seorang saudariku dengan seorang saudaraku (bukan saudara kandung, tapi saudara seiman). ‘mereka’ berdua ini temanku, hmm aku tak berani menganggap ‘mereka’ sebagai sahabatku, tapi ‘mereka’ sudah memiliki tempat khusus di hati ini.

Tak pernah memiliki pengalaman menjadi mak comblang. Tapi dari dalam hati: aku ingin melihat saudariku ini menikah dengan ‘dia’ (seseorang yang kami anggap baik –dan seseorang yang kurasa bisa menjaga semangat keistiqomahan saudariku ini. *maaf, nama mereka tak bisa kusebutkan).

Aku tahu, dengan menjadi mak comblang dengan status yang masih single itu terlalu beresiko bagiku, tapi yaah tak ada salahnya juga kan mencoba. Maka, ketika keyakinan untuk jadi mak comblang itu sudah bulat, kulakukan langkah pertama tanpa sepengetahuan saudariku ini. Ah iya, sekarang ini mereka berdua tak mengenal kata pacaran.

Baru sampai di langkah pertama, tibatiba saudariku ini menghubungiku: memintaku untuk mencarikan murobbi untuknya. Ia ingin mengaji. ~Haduh, kalau sudah begini aku tak berani mengambil resiko menjadi mak comblangnya.

Jadilah seketika itu juga –dengan izinNya, kuhentikan upayaku sebagai mak comblang (jadi-jadian) :D. Ah, Allah memang Maha Membolak-balikkan hati manusia.. Yang awalnya aku keukeuh meminta padaNya untuk bisa menjodohkan saudariku ini dengan ‘dia’ (yang namanya tak bisa kusebut), ternyata keinginanku itu perlahan menghilang.

Sudahlah Va.. kalau mereka berjodoh, pasti akan ketemu juga. Nggak usah ambil resiko dengan menjadi seorang mak comblang bagi mereka–kecuali kalau kamu sudah menikah! Bantu dengan doa: minta padaNya agar Dia mempertemukan saudarimu ini dengan seorang ikhwan yang sholih. Jaga saudarimu ya Va.. okeh?

Dan ternyata Allah memiliki kehendakNya sendiri.

***

Untuk kalian yang akan menunaikan sunnah Rasul: baarokallohulaka wa baaroka’alaika wa jaama’a bainakuma fii khoiir.. J ..

Dan untuk seorang saudari nan sholihah: Semoga dirimu kan dipertemukan dengan dia yang sholih –sesuai pilihanNya.. :’)

Jakarta,

Awal Januari 2012

Advertisements

14 thoughts on “PilihanNya, bukan pilihan manusia

  1. sya suka dengan penggalan kalimat ini….”“Dia (laki-laki itu) mungkin bukan pilihanku, tapi kalau orangtuaku memberi tanda setuju, bagiku, itulah pilihanNya untukku”.
    ini berat lho…..butuh keikhlasan yang mendalam dan tentunya juga sebuah pengorbanan:D

    • ntar kalo mau copas, dicantumin ya (mbak niva, 2011)
      ~hahaha.

      yah, ikhlas. pengorbanan. menerima. dan sebagainya..
      kata teman, itu butuh proses.

      # Salam buat Seli ya, dari Hotaru.. salam kenal, gitu! ^^

  2. Memang seringkali kita ngak bisa memahami bagaimana Alloh memasang-masangkan mahluk-Nya, Kadang menurut kita si A dan si B tidak mungkin berjodoh ee malah justru berjodoh..yah begitulah kehidupan he he he.

  3. waduh mak comblang yg berstatus single? huk huk… jadi ingat cerita cerita konyol dulu waktu SMU. Karena banyak mak comblang yang ternyata terpikat dgn yang dicomblangin.

    ini juga yang terjadi dengan kisah Lana (dalam novel cinta suci zahrana -kang abik-). Mak comblang akhirnya malah menikah dgn yang dicomblangin.. ^_^. Ndak ada yang salah, tapi waktu baca novel itu, asli.. lucuu banget.

    tapi ini kan ndak terjadi sama mbak niefha ^_^.

    yup.. pilihan manusia memang ndak mesti selalu sama dengan pilihan Allah, tapi tak sedikit yang sama lho…

    • ~hehehe.. gak terjadi pada saya kok mas.
      cuman, saya mendapati kasus seperti itu terjadi pada salah satu sahabat saya. Saya sampe geleng geleng kepala waktu dia cerita.
      Dan akhirnya, malah sahabat saya itu yang dilamar sama cowok yang mau dia comblangi *ini cerita yang berbeda 😀

  4. nichan sayang… insyaAllah saudari kita mendapatkan yang terbaik dan lebih baik lagi… Allah kan Maha Tau yang terbaik…
    hanya mengerti beberapa (#) sajah…

    • iya, Moy.
      tapi jujur- diawal aku merasa menyesal ‘kenapa nggak kulakukan?’..
      ~ya sudahlah..
      Aku bersyukur sekarang dia memilih untuk menjadi lebih baik.

      # persepsi kita tentang ‘dia’ itu, sama kan yah? ato beda? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s