tentang patah hati

Standard

Ini bukan tulisanku. Dan aku takakan serajin ini menuliskan ulang dari sebuah buku yang menjadi salah satu buku favoritku. Terlalu panjang. Bersyukur: begitu kucari di google, aku menemukan semua tulisan beliau sama seperti yang ada dalam buku itu.

Serial Cinta.

Ingin menyampaikan ini pada seseorang, pada kalian yang -mungkin- pernah merasakan patah hati, sakit hati atau ditinggal ‘pergi’ oleh dia yang sudah terlanjur memiliki tempat khusus di hati.

Aku pernah mengalami. Dan sejak membaca tulisan (dibawah) ini, seperti ada banyak tangan yang menamparku berkali-kali untuk tidak menyesali dan tak perlulah kau bersedih hati. Karena selalu ada ‘sesuatu’ dibalik kalimat-kalimat disana.

Ah sudahlah! Baca saja tulisan ini sampai selesai kalau kau ingin tahu apa isinya.

Sayap yang tak pernah patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’ lalu mati. Atau, jangan-jangan ini juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas dihempas takdir, atau layu tak berbalas.

Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung:

O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati

Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.

Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita! ~ Anis Matta ~

from: http://serialcinta.blogspot.com/search/label/Sayap%20yang%20tak%20Pernah%20Patah

# untukmu: kau pasti bisa melewatinya..

Advertisements

18 thoughts on “tentang patah hati

  1. Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta dihati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.”

    bagian ini membuatku berpikir mbak, (mungkin) ada benarnya
    ada pengalaman yg cukup menarik dan sedikit membingungkan (menurutku)
    saat kita sedang merindukan seseorang (entah sahabat, entah keluarga, entah pula ‘seseorang’ uhukk)
    eh, tiba-tiba ada sms/telp/sapaan masuk dari seseorang itu (mungkin hanya menanyakan kabar atau bicara apalah)
    aneh ya? kok bisa? jangan2 ini memang bahasa jiwa

    # comment sotoy 😀

    • kalo mbak mah, tulisan beliau bikin mbak mikir.
      *serial cinta ajah sampe beberapa kali mbak baca saking ‘tingginya’ bahasa beliau.. hahaha..

      # bahasa jiwa ato ikatan hati? –.–?

  2. Serius saya perlu berulang kali untuk memahami tulisan diatas. Belum punya bukunya euy.

    pengen sedikit saya cuplik kalimat yang keren diatas:
    “Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yan sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan”

    jadi ingat salah satu cuplikan sinetron Para Pencari Tuhan (ndak ngiklah loh) , kira-kira ucapan bang Jack ketika akan meminang ibunya Azzam : “kalau dia (ibunya Azzam) menolak cinta saya, maka artinya dia belum beruntung hidup dengan saya” huk huk…
    artinya masih ada kesempatan lain kan ^_^.

    • beli deh bukunya, mas.
      BAGUS! *recomended..

      kalo saya begini, mas: “kalo dia menolak saya, itu berarti dia bukan yang terbaik buat saya..” (hadeeh.. PD amat saya!) *yah, kalo emang nggak berjodoh, berarti kan ada seseorang yang lebih baik untuk kita.
      ^^v

  3. hmmm…lagi sendu dan galau yah?? lagi patah hati?? semoga enggak yah…
    gimana skripsinya?? udah kelarkah?? maaf yah jarang bisa full BW dan mampir kemari, lagi rempong ditempat kerjaan..
    semoga apapun yang terjadi tetap semangat dan ikhlas…
    nice quote for this day..”…Kalau sudah kau niatkan untuk beribadah padaNya,
    maka seperti apapun ending-nya, tak pelu ada rasa kecewa.
    Karena tak ada yang sia-sia,
    jika memang hanya ridhoNya-lah yang kau butuhkan.
    IKHLAS ya..

    • T.T
      terharu baca komen mama kinan yang nanyain ttg skripsi..
      masih dalam perjalanan, Bun.

      gmn kbr bunda juga keluarga? kinan?
      gpp kok.. aku juga minta maaf jarang bgt silaturahim ke rumah bunda..

      # hm, ndak galau sih, bun. cuman sempat merasa ‘menyesal’ karena ngga bisa membantu saudari saya itu 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s