Kecil yang membahayakan!

Standard

Kau tahu?

Malam itu aku mengikuti kajian pekanan di Annida. Kajian Jumat malam di kos tercinta. Malam ini kajiannya diisi oleh Ustad Sholihun. Melanjutkan tema bulan lalu: Syirik.

Bismillah.. dimulai aja yah.

Syirik itu berarti menyekutukan Allah. Jaman dulu, perbuatan syirik itu dapat terlihat jelas karena jaman dulu itu masih banyak orang yang menyembah patung-patung atau pohon-pohon juga benda mati lainnya. Nah, kalo jaman sekarang, syirik itu bisa terlihat dari dua bentuk perbuatan:

1). Menyembah patung atau pohon atau benda (yang memang benda mati itu benar-benar nampak). Nah, ini namanya syirik secara hakiki.

2). Menyembah sesuatu dimana benda/makhluk yang disembah itu sudah tak ada secara fisik. Semisal: di daerah pedalaman, masyarakat masih mempercayai adanya roh burung atau roh nennek moyang yang dipercaya masih hidup lalu ada perayaan khusus di hari tertentu. Atau semisal perayaan apa sih tuh namanya yang di laut lepas.. yang para nelayan ngasih makanan (dibuang ke laut) sebagai wujud rasa syukur/menolak bala. Nah, yang ini namanya syirik secara maknawi.

Inti dari syirik itu adalah menggantungkan diri selain pada Allah subhanallahu wata’ala.. tapi, kalopun kita sudah bergantung padaNya en kita juga bergantung sama yang lain, tetep ajah itu namanya syirik juga –.–“

Nah, ada tiga kategori ato ciri-ciri orang yang sudah bergantung pada selain Allah:

1). Menyesali masa lalu yang gelap dan mengkhawatirkan masa depan yang suram.

JLEB! Emjeje banget! Secara, aku sering merasa begitu.

Contohnya sederhana ajah. Semisal kamu sudah akan menikah. Menjelang hari H, pikiran-pikiran buruk itu muncul:

‘duuh.. aku bisa jadi istri yang baik nggak yah?’

‘kalo istriku tau tentang masa laluku (mantan penjahat: ceritanya), apa dia masih mau menerimaku?’

Dsb…

Intinya gini, “nggak perlu (lebay) seperti itu. masa lalu cukuplah jadi pelajaran dan kalaupun masa lalu kita benar-benar kelam, nggak perlu juga menceritakan itu ke pasangan kita. Aib yang sudah ditutup olehNya, tak perlu dibuka oleh kita. Biarkan itu dijaga oleh Dia saja. Dan tentang masa depan, nggak usah repot-repot mikirin sesuatu yang belum terjadi, mendingan mikirin yang sekarang lagi terjadi aja”..

Gitu.

2). Menjadikan ‘sebab’ suatu peristiwa itu sebagai tandingan Allah subhanallahu wata’ala

Contohnya gini: kita sakit. Sering kali tanpa sadar kalo kita ditanya, “udah sembuh?” .. kita jawab, Alhamdulillah udah. Kemarin udah ke dokter fulan. Dikasih obat xx eh, besoknya udah baikan”.. –nah, ini ada indikasi dimana syirik pun terlihat dari keyakinan kita.

Kenapa?

Loh! Yang nyembuhin kita kan Allah! Bukan dokter Fulan. Apalagi obat xx itu.. karena, kesembuhan itu diberikan olehNya melalui dokter fulan dan obat xx tadi.

Sederhana yah. Tapi kalo “aku sembuh karena dokter fulan” benar-benar diyakini dalam hati, waaah dampaknya luar biasa terhadap pemahaman tauhid kita!

3). Mengalami keguncangan ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan

Nah, inilah alasan kenapa kita nggak boleh bergantung selain padaNya. Karena ujung-ujungnya, kita akan merasa kecewa dan merasa putus asa ketika ‘dia’ yang kita harapkan dapat memberikan apa yang kita pinta ternyata tak memberikan apa-apa untuk kita.

Ada contoh menarik yang disampaikan oleh Ustad disini.

Tentang memilih pasangan hidup.

Pesannya, “jangan sampai, para wanita memilih calon suami dari penghasilan atau pekerjaannya..” (maksudnya, hal itu jangan menjadi kriteria utama. Karena bagaimanapun juga, criteria utama tetaplah pada pemahaman agamanya yang baik).

Ketika kita mengedepankan penghasilan/pekerjaan sebagai criteria utama, biasanya itu karena khawatir tentang rizki. “nanti aku mau dikasih makan apa kalo dia-nya belom punya pekerjaan tetap (atopun penghasilannya pas-pasan)..?”

Hei! Kalo pikiran seperti ini pernah muncul, harus cepet-cepet istighfar.. bisa jadi itu menunjukkan bahwa kita nggak percaya dengan rizki dariNya.

Pesannya lagi, “kalau kalian ingin menikah, niatkan untuk ibadah. Niatkan hanya karena  Allah subhanallahu wata’ala.. tentang rizki, tentang anak, tentang kehidupan setelah menikah nantinya biarlah Dia yang akan mengaturnya”..

Serem nggak sih?

Keliatannya hal sepele. Tapi ternyata termasuk syirik kecil..

***

Ada cerita menarik lagi tentang menikah.. disambung di postingan selanjutnya aja ya

Advertisements

8 thoughts on “Kecil yang membahayakan!

  1. Wah, sedikit menyinggung diri saya nih kajian tentang syirik kecil ini… Utamanya poin dua.
    Kadang-kadang saya tidak sadar mengatakan begitu. Tidak sadar kalau sebab dari segala sebab adalah Allah SWT. Jadi kalau kita berterima kasih sama dokter Fulan kadarnya sekian, kita harusnya bersyukur kepada Allah dengan kadar yang berkali-kali lipat dari kadar kita berterima kasih kepada si Fulan itu.

    • nah. itulah, Fal. persis ketika ustad menyampaikan itu, saya pun baru ‘ngeh’ kalo ternyata tanpa sadar diri menganggap bahwa sembuh dari sakit itu karena dokter ato karena obat yang saya minum.

      padahal sumbernya dari Dia. pemiliknya juga Dia.

      # akhirnya disadarkan

  2. hik hik baca-baca postingan mbak niefha ini pasti ndak jauh-jauh dari tema nikah. judul.ya syirik tapi didslamnya ada tema nikah huk huk. ayo mbak semangat

  3. Ahmad Alkadri

    Dan tentang masa depan, nggak usah repot-repot mikirin sesuatu yang belum terjadi, mendingan mikirin yang sekarang lagi terjadi aja

    Setuju… tapi teuteup jangan pernah meninggalkan yang namanya perencanaan… dan mimpi. Hidup tanpa keduanya bagai hidup tanpa jalan… bagaimana bisa ngelihat ke depan? :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s