Wedding stories #1

Standard

Cerita pertama

Dia: “aku mau cari ikhwan yang asalnya sama kayak aku, Chan..”

Aku: “maksudnya yang sedaerah, gitu? kenapa harus yang sedaerah?”

Dia: “aku pengen, nanti setelah menikah, tempat tinggal kami bisa deketan sama rumah orangtuaku”..

Aku: “loh, kan ada mas-mu. Mas-mu sama istrinya nggak tinggal di rumah sana?” (maksudnya: rumah orangtua kawanku ini).

Dia: “nggak. Mas-ku sama istrinya tinggal di kota yang beda, chan. Lagian juga adekku itu masih SD, jadi yah kalo semisal orangtuaku butuh sesuatu, aku lebih gampang bantuinnya”..

~ah.. aku tak pernah terpikirkan sampai kesana

***

Dia: “Aku akan menikah hanya dengan ikhwan yang disetujui sama orangtuaku juga keluargaku. Dan aku lebih prefer sama pilihan orangtua”.

Aku: “eh? Emangnya orangtuamu udah tau kriteria calon suamimu?”

Dia: “udah, chan.. (sembari tersenyum). Jujur, aku lebih memilih biar ibu/bapakku aja yang milihin calon suami buatku. Karena dengan begitu, mereka sudah menerima kondisi si ikhwan. Bukan berarti aku nggak setuju sama yang namanya BKKBS, tapi kalo semisal aku dapet biodata dari BKKBS, rasa-rasanya lebih sulit buat ngenalin ikhwan itu ke keluargaku. Iya- kalo misalnya aku kenal sama tuh ikhwan. Lah kalo aku baru kenal pas ta’aruf itu, gimana coba ngenalinnya ke orangtua? Hehe..”

Aku: “ooh.. tapi tetep kan, murobbi dilibatkan?”

Dia: “insyaallah tetep lewat murobbi-lah Chan.. J tapi yah intinya mah, kalo orangtuaku nggak setuju, sekalipun murobbiku kasih ACC, aku nggak akan melanjutkan proses..”

Aku: “kenapa? Nggak coba melobi orangtua?”

Dia: “kalo orangtua udah bilang NGGAK, aku milih berhenti Chan. Aku pengen kalo aku nikah, orangtuaku ridho sama pilihanku dan ridho juga sama pernikahanku..”

#  Ini cerita pertama dari salah satu mantan temen liqoku. Dan karena dia pula aku merubah ‘sedikit’ sudut pandangku tentang idealisme memilih calon suami.. jazakillah khoir ya ukht J

Dan Alhamdulillah saat ini aku sudah memiliki keponakan yang cantik darinya.. >.< ndut, chubby.. dan pertemuannya dengan calon suaminya ketika itu sungguh diluar dugaan. Di sebuah rumah sakit. Penawaran itu datang dari seorang perawat (laki-laki) yang menawarkan seorang laki-laki padanya untuk ta’aruf. Subhanallah.. prosesnya cukup cepat dan cerita lengkap yang kudapatkan darinya membuatku semakin yakin bahwa “jodoh itu bisa datang dari manapun Dia mau..” =)

Hikmah: ridho orangtua tetaplah yang utama..

 …

Cerita kedua

“Dulu, saya bilang ke ibu saya: kalau semisal aku suka sama seorang gadis dan ternyata ibu nggak setuju, aku nggak akan menikahinya, bu.. tapi, sekalipun aku nggak suka sama gadis itu tapi ibu ridho ato setuju, aku mau menikahinya”…, bgitu katanya mengawali kisahnya.

–heh? Kok iso?

“Pokoknya, kalo ibu saya nggak setuju, saya nggak akan menikahi akhwat itu sekalipun saya mencintai dia. Karena buat saya, ridho orangtua saya itu yang utama.. dan ini pun berlanjut sampai saya sudah berumahtangga.

Dulu, almarhum bapak berwasiat (dalam bahasa jawa): saya diminta tinggal di rumah mereka untuk nemeni ibu sekalipun saya sudah berumahtangga. Tapi saya nggak mau. Pelan-pelan saya sampaikan ke ibu, ke kakak-kakak saya, ke keluarga besar saya tentang hal itu. dan itu saya komunikasikan selama 1 tahun. Sampai kemudian akhirnya ibu mengizinkan.

Saya sampai tanya begini ke ibu (percakapan dalam bahasa jawa), “bu, ibu ridho nggak kalo aku tinggal di yogya aja?”. Dan ibu saya menjawab, “ibu ridho, ‘le.. ibu ridho dunia akhirat… sekalipun jauh tapi dekat di hati”

(hiks..waktu denger cerita ini, aku hampir nangis.. )

***

“Setelah menikah, saya dan istri sepakat untuk tidak meminta apapun pada orangtua. Sekalipun kami dalam kondisi benar-benar tidak punya, saya dan istri tidak akan pernah meminta pada mereka. Dan alhmadulillah, sampai sekarang kami masih hidup, hehe..”

# ini cerita ustad sholihun J..            

Hikmah: komunikasi dengan keluarga harus selalu dibangun dan dijaga dengan baik.. karena ini untuk dakwah jangka panjang..

 …

Cerita ketiga

Ada seorang ikhwan. Dia ta’aruf sama seorang akhwat –yang bapaknya ini adalah seorang pendeta jawa tulen (kebayang nggak sih gemana ‘susahnya’ dapetin tuh akhwat?)

Dalam masa ta’arufnya, si ikhwan ini diminta oleh bapak dari si akhwat untuk ke rumahnya setiap sabtu malam. (kayak orang ngapel yak?)

Awalnya ikhwan ini ragu (wajarlah yaa.. kalo aku jadi si ikhwan, aku juga jadi mikir berkali-kali. Malah merasa ‘prosesku ini syar’i nggak ya kalo tiap malem minggu aku kerumah si akhwat?”). tapi setelah berkonsultasi dengan seorang ustad, akhirnya dia maju! Bersedia silaturahim ke rumah si akhwat setiap malam minggu.

Ketika si ikhwan ini bertanya, “tapi motivasi saya melakukan ini, apa ya ustad?”

Ustad itu menjawab, “motivasi antum: selamatkan aqidah si akhwat!”

T.T  (sumpeh! Aku nggak kepikiran sampe sejauh itu !! )

Sebenarnya, hal ini pun ada tujuannya sendiri. Bapak si akhwat ini ingin mengenal lebih jauh tentang calon menantunya ini, alhasil dia diminta datang setiap akhir pekan ke rumahnya. (aku ngebayangin: si ikhwan ini diinterogasi banget sama calon mertuanya :D)

Dan alhamdulillah.. setelah delapan kali main ke rumah si akhwat, barulah bapak akhwat tersebut memberikan izin kepada si ikhwan untuk menikahi anaknya.. >.<

–perjuangan belum selesai.

***

Ternyata, ada semacam ‘tradisi’ yang harus dilaksanakan ketika pernikahan berlangsung, yaitu: proses dimandikan (aku nggak tau apa istilah jawanya). Ikhwan inipun bingung kembali. Dan lagi-lagi dia berkonsultasi pada sang ustad.

Ustad hanya menjawab, “udah, ikutin ajah”

Si ikhwan ini tambah bingung. “tapi, stad..??”

Ustad ini memberikan jawaban, “akhi, mengikuti apa yang mereka mau itu bukan berarti kita meyakini apa yang mereka yakini.. dan dalam ilmu fiqh, kita diperbolehkan melakukan suatu perbuatan (yang dirasa nggak baik) untuk menghindari keburukan yang lebih besar lagi”..

–hm, sederhananya bgini. Dalam hal ini, kalaupun si ikhwan ini setuju untuk mengikuti prosesi dari tradisi yang dimiliki oleh keluarga si akhwat berupa ‘dimandikan’ tadi, itu diperbolehkan. Karena kondisinya terpaksa.

(wow! Aku baru tau! Subhanallah ya, islam itu nggak pernah mempersulit, ia selalu mempermudah..)

Alhamdulillah, sampai sekarang mereka baik-baik saja.. J

# cerita ini disampaikan oleh ustad sholihun kemarin malam

Hikmah: …apa coba hikmah dari cerita ketiga ini? ^^

 

…bersambung

Advertisements

25 thoughts on “Wedding stories #1

  1. Ahmad Alkadri

    Paman saya pernah ngalamin yang cerita kedua, menikah dengan perempuan dari keluarga murni katolik. Keluarganya setuju, istrinya masuk Islam, dan sampai sekarang hubungan kedua keluarga – keluarga paman saya, termasuk saya – dan keluarga dari pihak sana masih sangat baik.

    Hehe… komunikasi sama saling pengertian… plus paman saya memang orangnya shalih banget… 🙂

    Hikmah cerita ketiga: ada hal-hal yang layak untuk dilakukan, demi kebaikan yang lebih besar 😀

    • wow! 😮 Subhanallah!!

      iya, komunikasi tetep dijaga. dan itu butuh ‘usaha’ lebih.. apalagi beda keyakinan begitu ya. eia, kapan-kapan, ceritain ttg kisah beliau, Dri 🙂 ..

      #request

  2. dari dulu aku ga ada cita-cita untuk peknggo (ngepek tonggo) 😀
    kalo ada apa-apa (terutama yg jelek-jelek), mertua jadi tahu. Bukannya ingin munafik atau terlihat baiknya saja, tapi hanya ingin mereka husnudzon bahwa kita baik-baik saja.
    masalahnya, itu baru rencana. hahaha..

    • ~hohoho..
      it’s mistery, mas..
      so, sesuatu yang terkadang tak pernah kita harapkan atau tak ingin kita dapatkan mungkin suatu hari nanti justru akan diberikan olehNya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s