Dear my partner .

Standard

Ba’da tahmid wa sholawat.. teriring salam untukmu disana, kaifa haluka ya akhi? Semoga kau baik-baik saja di bawah lindunganNya..

Rasanya, baru kemarin kukirimkan surat itu padamu –padahal sudah beberapa bulan kita tak bertukar cerita. Kusampaikan semua uneg-uneg-ku, segala kekhawatiranku, beberapa mimpi dan harapanku, juga tentang sesuatu yang menjadi rahasia antara kau dan aku.

Hanya enam halaman. Kemudian kau memberiku sebelas halaman sebagai balasannya.

Bagaimana kabar mereka di sana? Baik-baik sajakah?

Ah iya! selamat ya atas kelulusanmu.. atas wisudamu.. dan atas profesimu yang baru sebagai mahasiswa pascasarjana sekaligus sebagai salah satu tenaga kerja di ibukota. Maaf, kemarin aku tak bisa menghadiri wisudamu. Eh, memangnya aku diundang? Hahaha..  ~becanda! Aku tak mau mempermalukan kalian disana. Jadi cukuplah aku di sini saja :D.

# 1

Pekan lalu aku bertemu dengan Ayyash, Icha, juga umminya di perpustakaan kota  (kau belum menganal mereka kan?). Sebenarnya disana juga ada abi mereka, tapi aku tak memiliki muka untuk bertemu dengannya. Jadilah aku sekedar bertukar sapa dengan mereka -hanya dalam hitungan detik –kemudian, mereka pamit untuk pulang lebih awal.

Mencoba mencari dimana sosok beliau yang aku hormati. Beliau yang telah menularkan ‘segala energy positif’ dan ide-ide brilliant-nya padaku. Beliau yang menaruh kepercayaan dan harapannya padaku untuk mengelola sebuah program di ujung Yogya –walaupun, aku belum menjadi sarjana lulusan S1 seperti yang diharapkannya. Dan beliau yang sungguh aku ingin bertemu dengannya.

Sekedar meminta maaf. Benar-benar minta maaf. Sekedar meminta restu. Sekedar ingin tahu perkembangan program ini dan itu yang sedang dijalaninya. Sekedar mendengarkan nasihat-nasihat sederhananya. Sekedar bertukar mimpi dan cita-cita.

~ah! Setelah almarhum pak firin, beliaulah bapak ketiga bagiku.

Apa kau tahu?

Persis ketika aku melihat mobilnya meninggalkan perpustakaan kota kemarin itu, dada ini terasa sesak. Entahlah. Seperti merasa kehilangan seseorang yang telah memberiku berjuta inspirasi. ~Kalau saja di teras sana sepi pengunjung, mungkin aku sudah menangis sendirian. Merasa kehilangan.

Dan tiba-tiba aku merasa rindu.

Beberapa hari setelahnya, kudapati pesan singkat itu di handphone-ku. Dari dia yang kuhormati. Kukira isinya menanyakan kabarku. Tapi ternyata itu info lowongan kerja. Sebagai educator di salah satu lembaga di pulau seberang.

Hahaha..

Mataku memerah.

Entahlah! Terkadang rasa itu masih ada. Ingin membersamai mereka. Ingin mendengarkan cerita demi cerita. Dan ingin menjadi bagian dari keluarga di sana.

Tapi,

Tapi aku tahu, hampir tak mungkin itu akan terjadi. Cukuplah aku menjadi penggembira yang sering muncul secara tiba-tiba dan datang sesuka hati tanpa diminta. Cukuplah aku menjadi seseorang yang telah mendapatkan banyak ilmu setelah berinteraksi dengan mereka di sana. Dan cukuplah aku menjadi seseorang yang beruntung setelah mengenalnya sejak dua tahun lalu.

Bukan berarti aku menyesali apa yang telah kupilih. Bukan begitu, maksudku.

Hanya saja, sesuatu yang baru saja kutinggalkan itu, awalnya sudah menjadi salah satu batu bata dari rumah yang akan kubangun nanti. Sesuatu yang penting.

Kau tahu kan, rasanya kehilangan sesuatu yang penting itu pasti menyedihkan..

**ngomong-ngomong, apa kau mengerti ceritaku ini? Hm. Kalau kau tak mengerti, ya sudahlah. Dengarkan saja yah!**

Kau tahu, Allah seperti menjawab semua kegelisahanku.

Malam itu, seorang Ustad bercerita tentang sebuah amal. Birrul walidain.

Sederhana. Katanya –mengutip sebuah hadis- Ridhonya Allah ada pada ridho orangtua. Beliau memulai cerita dengan settingan beberapa tahun yang lalu, “Jadi, ketika saya mendapatkan wasiat dari almarhum bapak untuk tinggal di Pati dan menemani ibu di rumah, wasiat itu saya ‘langgar’. Karena saya tidak mau tinggal di kota itu. pilihan saya ada 3: Yogya, Jakarta atau Bogor.”

Menarik bukan? Ini sama persis denganku!

Beliau melanjutkan, “saya lakukan pendekatan ke ibu juga ke keluarga besar saya, ke kakak-kakak saya, pokoknya saya lakukan terus pendekatan-pendekatan itu. menyampaikan secara perlahan bahwa saya ingin tinggal di Yogya saja. dan akhirnya, mereka membolehkan”.

~aiih.. enaknya..

“tapi, sekalipun akhirnya saya diperbolehkan tinggal di Yogya, suatu hari saya pernah bertanya pada ibu saya, ‘Bu, ibu ridho nggak aku tinggal di yogya?’ –dan ibu saya menjawab “ibu ridho, Le..”.

“sampai sekarang, pertanyaan itu terkadang masih saya ajukan. Dan suatu hari ibu saya menjawab ‘ibu ridho, le.. ibu ridho dunia akhirat.. jauh dimata, dekat dihati’.” (maaf, yang ini sebenarnya pakai bahasa jawa, tapi aku terjemahkan saja ya)

Ya Tuhaaan.. apa kau tahu? Aku malu!

Sungguh teramat malu ketika beliau berkata “saya takut, ibu saya belum ridho kalau saya tinggal di yogya.. karena itulah saya sering menanyakan itu ke ibu berulang kali”..

Kau benar. Ada sesuatu yang hilang dari pemahamanku selama ini tentang birrul walidain. Ridho mereka.

Ya Tuhan, bahkan sejak kemarin aku tak pernah menanyakan hal itu pada mereka. Tentang rencana hidupku. Tentang mimpiku. Tentang calon pendampingku. Tentang masa depanku.

Barulah kutahu, keegoisan ini masih mendominasi.

Tiba-tiba teringat pada tulisannya Bang Ippho di salah satu bukunya. Katanya, “bisa jadi terhambatnya karir kita, terhalangnya studi atau mungkin sulitnya menemukan pasangan hidup itu adalah dikarenakan adanya ketidakridhoan orangtua terhadap apa yang kita lakukan saat ini”..

Hiks. Tertohok.

***

 

Advertisements

6 thoughts on “Dear my partner .

  1. bukankah suatu keadaan yang bisa membuat kita menjadi ingat kpd Allah itu merupakan keadaan yang terbaik? boleh jadi kita mencintai sesuatu padahal itu buruk buat kita dan boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu yang terbaik buat kita, Allah lebih tahu pa yang terbaik buat kita…
    we must keep husnudzon billah because bersama kesulitan pasti ada kemudahan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s