Wedding stories #2

Standard

Melanjutkan postingan sebelumnya..

Cerita keempat

Adalah seorang ikhwan. Berusia 19 tahun. Masih menjalani bangku kuliah di semester dua. Ketika itu, ia meminta izin pada orangtuanya: hendak menikah.

–heh?  19 tahun udah minta nikah? +.+

Dan orangtuanya pun menyetujui. Memberi izin. Mempersilakan.

Maka, menikahlah si ikhwan ini dengan seorang akhwat. Ia-nya berusia 19 tahun sedangkan istrinya ketika itu masih berusia 17 tahun.

Cerita kelima

Adalah seorang ikhwan. Berusia 19 tahun juga. Masih menjalani bangku kuliah di semester dua juga. Dan dia meminta izin kepada orangtuanya juga: untuk menikah.

–Weeh.. jangan-jangan nih ikhwan temenan sama ikhwan di cerita keempat?

Tapi nasib ternyata berbeda. Ikhwan ini tak mendapat izin dari orangtuanya. Lantas, tak jadilah ia menikah di usia itu.

kau tahu, apa yang membedakan antara keduanya?

“Karena ikhwan yang pertama itu sudah mandiri. sudah mulai membiayai kuliahnya sendiri. sikap dewasanya pun sudah terlihat. sedangkan ikhwan yang kedua itu, ia-nya masih mendapat kucuran dana dari orangtua, jangankan untuk menghidupi dirinya sehari-hari, untuk biaya kuliah saja ia belum mampu membayar dari kerja keringatnya.

“bagaimana orangtua kita bisa percaya? ketika kita meminta izin untuk menikah tapi ternyata kita masih bergantung pada mereka. ketika kita menyatakan diri ingin menikah tapi ternyata sikap kita masih jauh dari dewasa.

“tentang tanggung jawab, tentang mandiri finansial, juga tentang pengambilan keputusan..”

Jadi, kalau memang sudah berniat untuk melangkah ke sana, tunjukkan pada orangtua bahwa kita memang sudah layak ke arah sana..

# masih dari kajian di annida

Cerita keenam

Dan ketika orangtuamu masih belum memberikan izin padahal kau hampir menyelesaikan studi S2-mu. sudah memiliki penghasilan dari kerja keringatmu. dan umur pun sebenarnya sudah ‘hampir diujung waktu’.lalu apa yang seharusnya kau lakukan?

adakah yang salah denganmu?

hmm.. ini untuk akhwat. kasus yang terjadi pada seorang teman akhwatku.

beberapa kali sudah mengenalkan calon suami kepada orangtua, tapi tetap saja tak ada yang diterima. alasan-alasan yang bagi kawanku ini sebenarnya hanyalah alasan kecil. ah iya! kecil besar itu kan relatif ya. mungkin bagi kawanku ini, hal itu hanya dianggap sebagai hal kecil tapi bagi sang ayah hal itu justru merupakan hal besar yang harus dipertimbangkan ulang.

hh..

“agak sulit memang” –ini jawaban dari ustad. sampai kemudian beliau menambahkan, “kalau begitu, kenapa tidak dicoba saja: sampaikan pada ayah untuk minta dicarikan calon suami untuk anti”.

–aku juga kepikiran seperti itu. kalo semisal papah ndak ngasih-ngasih ACC, ya suw, minta tolong papah aja buat nyariin. beres kan!

“tapi kan kadang persepsi ato kriterianya berbeda..”, kata kawanku ini.

aku hanya menjawab, “bilanglah ke ayah, kamu mau calon suami yang seperti apa.. kriterianya.. jadi, ayah bisa tahu dan akan mencarikan yang seperti itu..” *eh, enak banget gue ngomongnya! berasa udah berpengalaman ajah. hahaha…

maaf deh.. aku nggak bermaksud menggurui loh ya. itu pun berdasarkan pengalaman orang lain. dari cerita mereka yang sudah lebih dulu melangkah ke jenjang kedua. sekedar berbagi sajah.

kawanku ini hanya terdiam. sepertinya ia sedang memikirkan ‘kalimat seperti apa yang akan disampaikannya kepada sang ayah perihal bahasan tadi’.. *yosh! good luck, ukht!

Aku jadi teringat materi sebelumnya yang masih bisa dihubungkan dengan cerita keenam ini. Poinnya adalah: lihatlah sesuatu dari sudut pandang orangtua. bukan dari sudut pandang kita sebagai anak.

JLEB!

mungkin orangtua kita masih menginginkan kita berada di dekatnya.. mungkin orangtua ingin kita selesai kuliahnya (huhuhu.. yang ini sungguhsungguh emjeje pangkat tiga).. mungkin orangtua punya kriteria yang sedikit berbeda tentang calon pendamping kita -toh bagaimanapun, mereka pasti mengharapkan anak perempuannya mendapat suami yang sholih dan bertanggungjawab bukan? ..atau justru orangtua menunggu kita menyampaikan secara langsung tentang kriteria itu.

yaah. ada banyak kemungkinan..

Cerita ketujuh

hmm.. sampai enam saja lah ya. sudah saatnya istirahat.. 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Wedding stories #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s