Monolog

Standard

Ikhtiar itu tak ada batasnya..

Itu bukan kataku. Aku mengutipnya dari status salah satu temanku di facebook. Itupun dia ambil dari pernyataan temannya lagi.

Berdoa tanpa ikhtiar itu jelas tak mungkin! Ikhtiar tanpa doa pun akan percuma.

Sadarkah kau, wahai manusia?

..

Sepenuh hati mereka melafazkan doa doa itu padaNya. Untuk keistiqomahanmu. Untuk keberhasilanmu. Untuk kebaikanmu. Untuk masa depanmu. Dan kurasa kaupun tahu: saat ini yang paling sering mereka pinta adalah kelulusanmu.

Apa kau menyadarinya?

..

(-) Kenapa sih harus lulus? Kenapa keberhasilan seorang mahasiswa harus dilihat dari status sarjananya?

(+) Kenapa katamu? Hel-looo… lantas untuk apa kau mengikuti UM UGM, melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi dan mengikuti mata kuliah yang kau sukai? Untuk apa?

(-) untuk apa? (tersenyum) . Sejak awal, mengambil jurusan psikologi ini bukan sebagai ‘modal’ bagiku untuk bekerja. Karena aku tak ada niat untuk kearah sana. Aku bahkan tak tahu akan bekerja dimana nantinya selepas menjadi sarjana psikologi. Kurasa kaupun tahu. Aku hanya ingin,  semua ilmu di bangku kuliah ini bisa kuterapkan pada diriku sendiri. juga pada keluargaku. Kau tak tahu kan seperti apa rasanya ketika melihat ayah dan ibumu bertengkar? Kau juga mungkin tak pernah merasakan bingungnya menjadi perantara diantara mereka. Menjaga seseorang yang kusayangi dari dia yang sangat sangat tidak kausuka. Sampai kemudian akhirnya kau menyadari bahwa dikeluargamu sendiri, kau membutuhkan seorang kawan.

(-) Partner. Dia yang sefikroh denganmu. Dia yang tahu kondisi keluargamu. Dan dia yang sama-sama memiliki visi terbaik untuk keluargamu. Ini bukan tentang pendamping hidup tapi bisa jadi dia adalah adikmu, dia adalah kakakmu, dia adalah ayahmu, dia adalah ibumu atau mungkin dia adalah saudara sepupumu.

(-) Aku tak tahu harus menyalahkan siapa. Tapi, sekalipun aku menyalahkan mereka, tak ada gunanya. Percuma. Iyakan?

(+) Jadi, untuk apa kau menyalahkan orang lain, Va?

(-) Aku tak menyalahkan siapapun. Aku hanya ingin membuat keluargaku menjadi lebih harmonis. Lebih nyikologis. Karena dulu, aku ingat sekali -diawal semester aku duduk dibangku kuliah- ketika adikku berkata “Teh, katanya rumahku itu surgaku kan ya? Tapi kenapa sekarang rasanya nggak kayak begitu? 😦 ” –hiks. sedih bukan main. Rasanya seperti “percuma aku merasa bahagia dengan lingkungan yang kondusif di yogya tapi ternyata adikku sendiri merasakan hal yang sebaliknya di kota yang berbeda”..

(+) (sebaiknya aku diam saja. membiarkan dia mengeluarkan semua uneg-unegnya)

(-) Salah ya kalau aku tak ingin bekerja dan berpenghasilan selepas lulus kuliah?

(+) (duh, aku jawab apa ya?)

(-) Sejak awal, aku hanya ingin menjadi seorang ibu. Jadi bayanganku ketika itu: selepas lulus S1, pilihanku hanya dua: menikah atau melanjutkan magister psikologi. Tak pernah tertarik untuk bekerja di perusahaan sebagai staf HRD, atau bekerja di rumahsakit. Sampai kemudian keinginan untuk bekerja itu muncul di tahun 2006 ketika aku mulai terjun di TPA Al-Itihaad. Menjadi seorang pendidik. Atau, menjadi seorang konselor pernikahan/keluarga. Yaah.. untuk yang kedua ini, latarbelakangnya sederhana: pusing dengan masalah keluarga sendiri juga masalah keluarga mereka yang suka bercerita padaku (padahal aku sempat merasa “kalian nggak salah nih minta solusi ke aku? secara juga aku cuman mahasiswa Psikologi. Bukan Psikolog) -yang akhirnya membuatku ingin melanjutkan studi ke magister profesi psikologi untuk mengambil spesialisasi dalam bidang keluarga. Tapi semua tinggal rencana.

(+) Lalu, apa maumu sekarang, Va?

(-) Mauku? … Kalau saja aku berani, aku ingin berhenti di sini saja. Melepaskan titel S.Psi yang entah sudah sejak tahun berapa tak pernah kuusahakan dengan maksimal. Kalau saja aku berani, aku akan mengatakannya pada mereka saat ini ini juga. Mengatakan bahwa aku akan mencari penghasilan sendiri -tanpa harus memiliki titel di belakang namaku.

(+) Apa kau serius?

(-) Hahaha.. sayangnya aku tak pernah berani melakukan itu. Terlalu takut mengecewakan mereka. Takut pula untuk membuat mereka-mereka-dan mereka lainnya merasa kecewa atas sikapku ini. Gengsiku terlalu tinggi untuk mendapatkan gelar ‘seseorang yang gagal’ dalam keluarga.

(+) (kasian banget sih nih anak)

(-) menurutmu, kalau aku tak menyelesaikan ini sampai akhir. berhenti disini. apakah aku akan mendapat label anak durhaka dariNya?

(+) maaf,, aku tak tahu jawabannya..

(-) mungkin, aku harus segera bertemu dengannya ya. sekalipun nanti aku dimarahi. dicaci maki. atau bahkan diminta mengulangi penelitian ini, tak perlu kupedulikan. aku bahkan kepikiran, kalaupun aku sudah tidak ‘diterima’ lagi olehnya, aku akan mencari pembimbing lain yang mau membimbingku (walaupun sebenarnya aku masih ingin dibimbing olehnya.. sampai akhir.. tapi aku kan tak tahu, apakah beliau masih bersedia atau tidak. toh selama ini yang salah adalah aku: karena tak pernah menghadapnya). hhh…

(+) ya sudah, dicoba saja. kau tak akan pernah tahu hasilnya sampai kau mencobanya.. 🙂

(+) tenanglah.. kau tak sendiri, sekalipun mereka meninggalkanmu, masih ada aku disini dan masih ada Dia yang slalu membersamai. kau percaya hal itu kan?

(-) … baiklah.. terima kasih  masih bersedia mendengarkan ceritaku. dan kau memang paling tahu bahwa aku hanya butuh penguatan. bukan pertanyaan.

 

*tepat adzan dzuhur

Advertisements

13 thoughts on “Monolog

  1. Niiiiiiiiiiif…. *pukpuk* ya ampuuun.. kok aku jadi ikut sedih yah baca ini? situasiku gak sama memang sama kamu saat ini, tapi apa yang kamu bilang soal kuliah bukan untuk kerja dan sebagainya itu, itu aku bangeet. dan bukannya motivasi itu harusnya bisa jadi motivasi yang paling kuat?
    gelar memang bukan segalanya Nif, aku juga tahu. toh aku yang sekarang dan aku yang dulu belum lulus juga sama saja. yang mbuat aku berubah pola pikir adalah tempat aku belajar banyak hal beberapa tahun belakangan ini. di kampusmu aku berubah nif,

    dan ini yang selalu aku bilang ke adek2 tingkat yang gak mau ngelanjutin kuliah: lanjutkan, perjuangkan sampai kamu tidak bisa berjuang sama sekali. sampai tidak ada celah untuk dilewati, tidak ada tembok yang gak bisa kamu panjat, dan tidak ada oksigen untukmu bernafas, tidak ada kesadaran untuk membuatmu berpikir.
    karena, tidak akan ada yang bisa menggantikan bayangan senyum orangtua saat melihat kamu bertoga. entah aku yang simpel atau gemana, tapi memang hanya itu yang saat ini ngebakar semangatku buat ngerampungin kuliahku. jangan ditanya jenuhnya kek apa, apalagi usia kita ini gak jauh, dan aku juga dulu nyelesain kuliah di filsafat lama banget. sampek pengen bilang; ‘hoiii..bisa gak sihhh kagak usah dilanjutin??’

    btw, keknya aku malah curhat di kolom komentar ini. hahahahaha..
    jangan-jangan kita ini pernah ketemu di kantin atau di perpust ya? hihihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s