Perjalanan menuju Bandara

Standard

Pagi tadi, aku mengantarkan Mbak Endang ke Bandara Adi Sucipto. Mbak En ini mbak kosku di Annida. Seorang dosen di UII sekaligus seorang apoteker. Sedang menyelesaikan penelitiannya di UII. Alumni DS ini sederhanaaa banget orangnya dan pastinya baik hati.

Semalam, selepas sholat (aku lupa, sholat Maghrib bukan ya?), Mbak En menanyakan apakah aku bisa mengantarnya ke Bandara besok pagi (Jumat ini) dan akupun mengiyakannya.

-Ah.. kapan ya aku naik pesawat? (eh, lanjut aja bacanya.. yang ini diabaikan saja)

Berangkat jam 6 lewat,

Kau pasti tahu, Allah slalu memiliki caraNya sendiri ketika ingin mengingatkan hamba-hambaNya.. tak terkecuali aku. Maka, dalam perjalanan di sepanjang Ring Road Utara itu, berceritalah Mbak En tentang seorang sahabatnya yang akan menikah Sabtu besok di Balikpapan.

Namanya Mbak N. Psikologi angkatan 2001 (kalau ndak salah). Mbak N dan Mbak En ini adalah teman satu kamar di PP Darush Sholihat.

Diceritakanlah padaku bahwa Mbak N ini hampir tak pernah mengeluh -secara verbal ataupun nonverbal. Kalaupun beliau (Mbak N) sedang memikirkan masalah hidupnya, yang terlihat diwajahnya hanya sebuah senyum manis -bukan senyum miris-. Dan ternyata, Mbak N ini seorang mualaf! Allahu Akbar!

Terlahir di lingkungan keluarga yang tidak mengenal ajaran Islam, otomatis keluarganya pun bukanlah muslim. Di bangku kuliah inilah Mbak N ‘berhasil’ menjemput hidayah yang telah Allah berikan padanya.. sebuah cahaya untuk hijrah menuju ridhoNya.. dan cahaya itu adalah Islam.

“Besok itu, dia menikah sama seorang ustad, dek..”, cerita mbak En. (aku membatin ‘subhanallah..’)

“dan ustadnya ini seorang penghafal Alquran”, tambahnya lagi.

# eh? iyakah?

“tahu info ini pun dari temen-temen yang lain yang ada disana. Subhanallah ya..” (dan aku tetap menyimak sembari mengendarai Hotaru)

“ujiannya semasa kuliah itu masyaAllah! berat banget! kebayanglah ya gimana kalau keluarga kita ‘berbeda’. Nah, dari dulu itu dia di uji sedemikian rupa sama Allah.. Aku malah pernah merasa kayaknya kalo aku ada di posisi dia belum tentu aku bisa menjalani hidupku..”, katanya lagi. (aku jadi penasaran, ujiannya seperti apakah itu?)

“Allah emang Maha Adil. Dari perjalanan hidupnya yang seperti itu, dia diberi hadiah lebih dariNya. Suami seorang hafidz”..

“kita mungkin mikirnya, ah! seorang hafidz pasti nyarinya yang hafidz juga.. -iya gak dek?” (dan aku mengiyakan)

“tapi Allah ternyata punya caraNya sendiri bagaimana Dia memberikan ‘pengganti’ dari semua ujian yang dulu pernah Mbak N dapatkan..”

…hiks. hiks. em je je banget.

Sampai di sini aku tak banyak berkomentar. Mencoba mencerna semua ucapan Mbak En. Tentang akhlak baik Mbak N, tentang sikap menerima dan ikhlas, juga tentang ‘keajaiban’.

“Kalau saja kau sadar Va, kesempatan itu masih diberikan olehNya: untukmu..”

***

maaf aku belum membalas komentar kalian di rumahniefha ini.. masih speechless dengan semuanya. terima kasih atas segala nasihat juga semangatnya :’) .. jazakumullah khoiir..

Advertisements

8 thoughts on “Perjalanan menuju Bandara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s