Bukan ngikutin jam anda, mbak!

Standard

Sore itu listrik di sekitar Jakal (jalan kaliurang KM bawah, pen.) masih mati. Belum ada tanda-tanda akan nyala kembali. Ah, daripada aku dikos saja dan sudah mati gaya berada di dalam kamar, kayaknya lebih seru kalo aku ke perpus kota. Itung-itung sekalian nge-charge si Levo biar batrenya penuh en bisa dipake lagi (khawatir nih listrik nyalanya nanti malem).

Jadilah aku ke perpus kota mengajak Teh Usy. Sekalian ke toko buku Sadar Ilmu yang ada di Pogung en beli maem (karena sudah mulai lapar).

Sampai di perpus kota sekitar jam 16.00. Menuliskan nama di buku pengunjung dan langsung menaruh tas di tempat penitipan tas. Naik ke lantai dua (karena cuma di lantai dua dan di luar saja yang ada ‘colokan’ kabelnya) dan mengambil posisi pewe di salah satu kursi yang dekat dengan si colokan kabel.

Kuhidupkan si Levo dan kuaktifkan detector wifi si Levo. Tapi.. haduh… kenape nggak ke-detect ya wifi di perpus kota ini? >.<  adoooh.. padahal pengen sekalian posting tulisan en pengen donlot-donlot kajian (mumpung perpusnya sepi). Hiks. hiks. ya suw lah, baca buku aja, sembari nunggu batre si Levo penuh lagi.

Kulihat  Teh Usy mengambil sebuah majalah Femina. Hmm buku apa yang menarik kubaca? *sembari clingak clinguk nyari buku bagus yang akan kubaca

Dan TARAAA..!!  Persis di depan mataku, terlihatlah sebuah buku yang (sebenarnya) sudah lama kutaksir. Aku lupa apa judulnya tapi buku ini hardcover, tentang mekkah & madinah dan perjalanan ibadah haji & umroh. Ada gambar Ka’bah di depannya. Dan aku hafal betul, buku ini hampir mencapai dua ratus ribu rupiah harganya. >.< ..

Kuambil buku tersebut dan kembalilah ke meja dimana aku duduk pertama tadi.

Jujur.. buku inilah yang paling menarik untuk kubaca (perihal haji dan umroh).. karena aku merasa ‘belum siap’ membaca buku-buku tentang haji dan umroh (walaupun sebenarnya ingin juga menginjakkan kaki disana).

Membuka halaman per halaman. Kubaca secara perlahan (karena aku cukup sulit menghafalkan nama kota, tahun, dan tokoh dalam waktu yang bersamaan).. Bertanya ini itu pada Teh Usy tentang gambar-gambar yang ada disana dan mendengar sedikit banyak cerita tentang ibadah haji orang lain.

Tiba-tiba…

*seperti suara di stasiun kereta api: pemberitahuan*

“Diberitahukan kepada seluruh pengunjung perpustakaan kota Yogya bahwa hari ini perpustakaan kota Yogya tutup pada pukul 17.00 oleh karena itu, bagi pengunjung yang ingin meminjam atau mengembalikan buku diharapkan untuk segera melakukan transaksi sekarang juga. Terima kasih”

Kulirik henponku “aiih.. masih setengah jam begitu udah diumumin segala..”

Kulanjutkan membaca buku hitam tersebut dan tak terasa tinggal kami saja yang masih ada di lantai dua (eh ada mas penjaganya juga ding).

Ah, masih 15 menit lagi. Aku matiin si Levo dulu deh.

Dan ada suara, “mbak, sudah jam 5. Perpusnya mau tutup. Olalala.. ternyata itu suara si mas penjaga.

“Loh, kan masih 15 menit lagi, mas. Ini masih jam lima kurang lima belas menit”, jawabku santai.

“Loh, itu kan jam mbaknya. ‘Loh, kan belum jam lima, Mas. Jam saya belum jam lima tuh!’.. Disini udah jam lima, mbak! Yang dipake kan bukan jam mbaknya, tapi jam disini!”..

Ya Rabb.. ketus sekali jawabannya!

“Oh, gitu. Nyantai dong, Mas. Saya beres-beres dulu”, kataku sembari mematikan si Levo dan berusaha mengendalikan amarahku.

~Hhh… kalau aku jadi supervisornya, sudah kutegur dia! Nggak etislah ya pake nyebut-nyebut, “loh itu kan jam mbaknya. Disini udah jam lima, mbak! Dst..” . Apa-apaan sih!! Mbok ya kasih jawaban yang lebih enak didengar gitu loh. Semisal “maaf mbak disini sudah jam lima, kalau mau melanjutkan membacanya, silakan datang lagi besok (sembari tersenyum ato dengan nada yang ramah)”.

*jadi esmosi, saya!*

Selesai merapikan semuanya, “ayu Teh kita ke bawah”. Teh Usy diam saja. mungkin teteh tau bahwa aku sedang ‘bete’ karena ucapan mas-nya tadi.

Persis di perempatan lampu merah Gramed, kulirik patung jam yang ada di sebelah kiriku. Spontan lisanku berkatan, “Tuh kan Teeeh.. Itu aja masih jam lima kurang sepuluh. Coba? Yang beda kan cuman di perpus kota aja toh? Aneh banget sih..”. Dan teteh hanya meng-iya-kan.

Calm down, Va.. tenang.. istighfar.. inget tuh pesennya ustad syatori.. inget juga hadist tentang marah.. sabar ya bu!  Jadikan itu ladang amal buatmu.. *menenangkan diri sendiri

Advertisements

2 thoughts on “Bukan ngikutin jam anda, mbak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s