FF #1

Standard

Agak berat menyampaikan hal ini padamu,Bang.

Kalau saja bukan iman yang berbicara, rasa yang pernah tumbuh ini akan tetap kupertahankan sampai kau benar-benar datang melamarku. Tapi aku tahu, tak baik pula menolak lamaran seorang laki-laki yang sholih –iya kan?

Kau pernah bilang padaku –dulu- “nanti, kalau ade mau nikah, kabari abang dua bulan sebelumnya ya.. biar abang bisa pesen tiket jauh-jauh hari..” (ah! apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu itu, Bang? Beberapa kali kau pernah mengatakan akan datang ke rumahku, tapi tak pernah sekalipun kau membuktikan hal itu. Omong kosong!)

Ah iya, kembali pada ucapanmu ketika itu. Saat itu juga, pupuslah harapanku untuk bisa bersanding denganmu. Dan aku semakin tahu diri: bahwa aku tak selevel denganmu. Levelmu tinggi, Bang. Jauh.

Kukira, kaulah laki-laki pilihanNya yang ia kirimkan padaku.

Seorang pendidik. Gemar membaca. Hobi mengoleksi buku. Senang berimajinasi lalu kau tuangkan semuanya dalam sebuah tulisan. Dan kau pun ternyata seorang dokter. Abah pernah berkata seperti ini padaku, “Di Mekkah itu, abah slalu ingat padamu. Abah slalu doain cucu pertama abah ini. Biar sehat. Biar sukses. Abah juga doain biar nanti cucu abah ini dapet suami seorang dokter”.. Aku hanya bisa tersenyum ketika itu. Antara mengaminkan dan tidak. Tapi aku tahu Bang, abah mengatakan itu dengan penuh ketulusan.

Saat itu, kukira itulah hasil istikharahku.. aku akan menunggumu sampai kau benar-benar datang ke rumahku.

Kukira, doamulah yang  mendapat ACC dariNya ketika kau menyampaikannya padaku melalui sebuah pesan disana –di hari lahirku setahun yang lalu- “semoga di usiamu 24 tahun ini, abang bisa menikahimu..”.

Aku sungguh berharap ketika itu.

Tapi ternyata apa yang kuharapkan tak sesuai dengan apa yang Ia rencanakan.

Apa kau tahu, Bang? Aku mengagumimu. Mengagumimu sepenuh hatiku. ~walaupun aku tahu, rasa kagum ini sudah bercampur dengan rasa yang lain. Entahlah. Apakah ini cinta. sayang atau sekedar suka semata. Tapi yang pasti: batas itu sudah kulanggar. Bukan sebagai kakak-adik tapi sebuah perasaan lebih yang tak mampu kudefinisikan lagi.

***

“Yang namanya menunggu itu tak pernah menyenangkan”. Tapi ah, seorang temanku menyanggah ucapanku itu.

Katanya,  “Nggak selamanya begitu kok. Menunggu itu ada juga yang menyenangkan 🙂 ”

“Kapan? Kapan menunggu itu terasa menyenangkan?”, tanyaku.

Kau tahu jawabannya?

Sederhana..

Katanya, “Menunggu itu terasa menyenangkan ketika kita menunggu waktu sholat tiba. Menunggu di detik-detik terakhir menjelang adzan. Menunggu panggilan dariNya untuk ‘istirahat’..” (lalu tersenyumlah ia)

~ah.. aku tak sampai kesana. benar juga ucapannya itu. jadi merasa malu. sangat malu. jazakillah khoir, ukh..

***

Maka,

kupilih jalan itu.

Aku tak akan menunggu, Bang.

Untuk apa aku menunggu sesuatu yang (bahkan) aku tak tahu kau akan memenuhi janjimu atau tidak?

Aku hanya tak mau berharap (lebih)

berharap pada sesuatu yang mungkin (saja) itu bukan menjadi hakku.

Toh aku pun tahu diri

karena ternyata levelmu tinggi: jauh diatasku

Maka, ketika ia datang dan menyampaikan maksudnya pada kedua orangtuaku, lantas mereka pun mempersilakan, tanpa pikir panjang aku menjawab “iya”.

Inikah yang namanya ‘kalau sudah jodoh, jalannya insyaallah dipermudah.. ‘?

Doakan aku dari negeri seberang: adikmu yang akan tetap menjadi saudara(mu) seiman dijalanNya

: menjadi lebih baik dari sebelumnya juga tetap istiqomah hingga akhir masa

dan aku akan melakukan hal serupa.

Advertisements

8 thoughts on “FF #1

    • abang tukang bakso..
      mari mari sini..
      aku mau beli..
      # nyanyi: modeon

      terinspirasi sama ceritanya abang borno en si mei (ah, novel itu tetap membuat mbak ketawa ngekek)

    • dia kan nyari nafkah, mel
      # eh, itu mah lagunya wali ding..

      tapi yang pasti mah, ini bukan bang toyib
      😀 😀

      btw Mel, mbak jadi pengen pasang emoticon “goyang pisang”
      ^^b

    • belom berani bikin “om-om”, moy..
      eh iya, masih suka komunikasi sama si om? *loh, kok nyambungnya ke sonoh?

      kiani lg ngapain?
      si anis udah hamil (lagi) loh..
      XD … ~kyaaa.. *heboh sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s