Menjadi seorang istri #1

Standard

Di suatu sore, dimana aku diperkenalkan oleh suamiku di hadapan mereka (yang katanya punya nama Laskar 2009), bertemulah aku dengan seorang akhwat sholihah. Seorang adik angkatan yang usia pernikahannya baru mencapai 4 bulan. Dan kini sedang mengandung alias hamil *mupeng: modeon. Namanya Echa =).

Pertanyaan pertama yang ditujukan padaku adalah “gimana mbak, rasanya menikah?” (sembari senyam senyum bgitu).

Butuh waktu beberapa detik untuk menemukan jawabannya dan yang terlintas di benak adalah “rasanya menikah? LUAR BIASA, cha!”.. (hahaha.. tertawalah dia mendengar jawaban singkatku itu).

Luar biasa?

Hmm.. multitafsir ya? ato ambigu? 😀 yang jelas, menikah itu rasanya campur aduk dan ya itu tadi, yang terpikirkan olehku hanyalah frase “luar biasa”.

Peralihan dari status single menjadi ‘have been married’ jelaslah banyak perbedaannya.

Kalo dulu aku bisa sesuka hati pergi kesana kemari tanpa perlu izin pada siapapun, sekarang mah harus izin dulu ke suami. Kalo dulu aku bisa pergi ba’da maghrib dan pulang menjelang jam 9 malam hanya untuk ‘mencuci mata’ ke Toga Mas atau ke Mirota Kampus, sekarang mah udah dapet pesen untuk ‘berada di kos/rumah sebelum maghrib (yaah paling banter: isyalah ya) eh tapi tergantung keperluan juga’. Intinya sih harus izin kemanapun kau mau pergi.

Sepele banget ya?

Kalo ada yang tanya, “Kenapa harus izin segala?”

Jawabannya sederhana: karena Baginda Rasul berpesan demikian kepada para istri.

(ARRGGHHH… bukunya ketinggalan di rumah T.T –tadinya mao posting tentang cerita seorang istri yang bener-bener nggak meninggalkan ‘area’ yang telah dipesankan oleh suaminya ketika suaminya pergi lantas ada kabar bahwa orangtua si istri sakit keras dan mengingat pesan sang suami, si istri tetap berada di tempatnya tanpa melanggar pesan dari sang suami.. hingga akhirnya orangtua si istri meninggal dunia).

Baiklah.. kembali ke tulisanku sebelumnya.

Tentang pulang malam, beberapa pekan yang lalu. Pergi belanja ke Indo Grosir, sepulang dari kajian pekanan dan aku ditemani oleh seorang ukhti (sebut saja namanya ukhti fulanah). Mendorong sebuah kereta belanjaan dan tiba-tiba si henpon berbunyi.

Lagunya Ungu feat Andien yang bersenandung di antara music yang diputar di supermarket itu. Ringtone khusus yang akan berbunyi hanya jika ada panggilan (telepon) darinya. *uhuy!

Kuangkat si henpon dan TARA! Tebakanku benar.. dia aka seseorang yang sekarang menjadi doi-ku itu menanyakan aku sedang berada dimana. Kujawablah dengan santai, “di Indo Grosir”. Pertanyaan tetap berlanjut, “Sama siapa?”. Hohoho.. bisa ditebaklah ya bagaimana jawaban yang kuberikan padanya, “sama ukhti fulanah. Kenapa emangnya?”

**krik.krik.krik**

“Ngapain neng?”, tanyanya lagi.

Hehe.. “belanja. Beli beberapa barang. Ini mumpung ada yang bisa nemenin”, jawabku singkat.

“Hmm gitu. Ya udah, cepet pulang ya. udah malem”, pesannya.

“Iya.. nanti pulang secepatnya. Tapi kan sekarang masih jam 7 kurang. Isya juga belom kok”, kataku lagi. (hadeeh.. nih akhwat gak nyadar apa ya kalo dia udah jadi seorang istri?)

“Bukan gitu, neng. tapi kan ini udah malem. Kalo bisa, besok besok sebelum maghrib udah di kos yah”, petuah pertamanya.

“Emangnya kenapa sih, a? Kan belom jam 9”. *ngeyel: modeon.

“Kan sekarang neng udah ada yang nanggung. Sekarang kan aa yang jadi penanggung jawab neng, jadi kalo ada apa-apa sama neng, aa yang pertama kali dimintai pertanggung jawabannya..”, petuahnya yang kedua.

Dan apa kau tahu bagaimana jawaban (spontan) si neng?

“Oh iya, ya! aku kan istrimu dan aku udah punya suami yaitu kamu! (sembari ketawa tiwi)”..

~Hadeeeh.. gimana si suami nggak shock coba pas denger jawaban kayak bgitu?

“Jyaaah.. masa neng lupa sih kalo udah nikah? –.–“ .. hiks, hiks.”, katanya.

Hehe.. maafkan aku aa sholih.. maaf ya.

***

Menjadi seorang istri itu, LUAR BIASA!

Belajar untuk slalu taat pada seseorang yang statusnya bukan lagi sebagai sahabatmu, melainkan taat kepada seorang suami.

Belajar untuk mencintai seseorang yang baru saja mengucapkan janji dihadapanNya dan seluruh penduduk langit dan bumi.

Belajar menerima segala apa yang ada pada dirinya seperti yang pernah Ummi Ummi Munawiroh sampaikan padaku beberapa bulan lalu.

Dan harus selalu memiliki kesadaran sepenuhnya bahwa statusmu sekarang ini jelaslah berbeda dari sebelumnya: dimana tanggung jawab juga kewajibanmu bertambah sebagaimana mestinya.

Tapi yang pasti, menjadi seorang istri itu hmm menyenangkan. Karena yang pasti sudah bebas berekspresi kepada dia yang sudah menjadi mahrammu. *uhuy! (eh, semoga ini tidak membuat kalian mupeng. Hehe)

**tulisan yang sudah lama sekali dibuat tapi baru bisa diposting

Advertisements

8 thoughts on “Menjadi seorang istri #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s