Sister-in-law

Standard

Jadi kakak ipar itu, hmm.. belum berani mengatakan LUAR BIASA. tapi ndak bisa juga dikatakan BIASA SAJAH. karena selalu ada rasa yang berbeda ketika ada peran baru yang (pastinya baru) kau dapatkan dariNya. dan aku belum bisa menyimpulkannya dengan tepat kedalam sebuah frase.

Dalam proses menuju hari H itu, -jujur- galau luar biasa yang kurasa ketika aku tahu “kalaulah kami berjodoh, maka aku akan menjadi seorang kakak dari sembilan orang adik”.

Ya, sembilan. Tak sebanyak Pak umar al Faruq sih, tapi mendengar kata sembilan sajah sudah membuatku galau. tujuh itu dua adik kandungku dan tujuh adiknya. 😮 ..subhanallah yah! sesuatu banget! ~.~

Satu pertanyaan ketika itu: “mampukah aku?”

Ya Tuhan.. menjadi kakak dari dua orang adik saja aku merasa belum becus, ini lagi mau ditambah enam adik darinya. ~huhuhu.. help me. *lebay deh loe Va!

~Ah sudahlah! Ketika sebuah amanah telah sampai ke tanganmu, itu berarti Dia tahu bahwa kau akan mampu mengembannya. So, take it! ^^  *ceritane menyemangati diri sendiri.

Maka, tepat di tanggal 24 Maret 2012 lalu, peran baru itu pun melekat di bahuku.

🙂 Menjadi seorang kakak (ipar) itu, hmm NANO-NANO rasanya 😀

(alm) Fajar, Agung, Gusti, Endah, Bangkit, dan Opik. Gimana ya rasanya kedatangan ‘orang baru’ di kehidupan mereka? Di keluarga mereka: as sister-in-law. *tolong jangan bayangkan seperti sinetron Indonesia yang nggak mutu ceritanya 😛 .

(alm) Fajar Arohman. Assalamu’alaykum, Jar. Ini Teh Niva, seseorang yang akan menemani a panji sampai nanti (insyaallah..). Kita belum pernah ketemu ya. Teteh cukup sering denger namamu dari a Panji, pastinya dari setiap cerita yang ia tuliskan di blognya. Dan dulu, teteh pun ternyata sudah pernah mendengar namamu disebut oleh Shandy. Kalian saling kenal kan? Dia adek pertama teteh yang ternyata satu SMA dan satu Rohis sama Fajar.

Iya, Jar. Shandy dulu pernah cerita. Sepulang sekolah dia bilang, ada temennya yang meninggal. Sakit. Teteh lupa nama penyakitnya, tapi Shandy bilang penyakitnya itu nyerang tiba-tiba gitu aja. Teteh nggak begitu memperhatikan ceritanya. Tapi dari situ teteh mengambil hikmah bahwa “kematin itu bisa datang kapan saja”..

Percaya nggak, saking seringnya teteh ‘denger’ cerita tentang Fajar, teteh jadi pengen ketemu sama yang namanya Fajar :D. Seperti apa sih orang yang jadi adek pertamanya a Panji (yang waktu itu a Panji masih jadi seseorang yang teteh anggap sebagai sahabat), gitu Jar. hehe.. semoga Fajar baik-baik aja ya disana. ~teriring doa untukmu, dek. semoga Allah memperkenankan kita bertemu di tempat terindahNya :’)

Agung Arohman. Kesan pertama buat Agung: cool dan pendiam (sekali). Dan dibalik ke-cool-an nya itu, ternyata adek yang satu ini baiknya tak perlu diragukan. Suatu hari, dimana ketika kakak pertamanya (alias suamiku) minta tolong dilaundry-kan pakaiannya (laundry yang satu hari gitu deh) dan Agung pun menyanggupi. Lalu ditinggallah pakaiannya itu di kos Agung dan balik lagi kesana sehari setelahnya (eh, sehari setelahnya ato sore harinya ya??).. intinya, begitu balik ke kos Agung tuk ambil pakaiannya, dengan terharunya, si aa berkata “ternyata neng, pakaian aa tuh nggak dilaundry-in sama dia, tapi dicuciin sendiri, terus disetrikain sendiri. Bae amat  tuh anak”.. 😀 (makasih ya Gung.. :) )

Wew! Kalo si Ndi (adek pertamaku kayak gitu juga, kukasih coklat dah buat tuh anak!) .. Tau darimana coba kalo pakaian si aa dicuci en disetrika sendiri sama si Agung? Karena pas kami ke sana (aku nunggu di luar kok!) ternyata, Agung ‘ketauan’ sedang menyetrika celana panjang kakaknya itu. ~weeeh.. so sweet banget yak! Malah dia bilang “maap ya a, belom selese disetrika”.. T.T

Oia, ‘kenapa tuh pakaian nggak dicuci sendiri sama si aa’ ato  ‘kenapa nggak dicuciin sama istrinya’, hmm nggak usah dibahaslah ya. 😛

Adek yang satu ini lagi berjuang menyelesaikan skripsi. Katanya dia pengen ngalahin IPK kakaknya diijazah nanti 😀 :D. SEMANGAT, Gung!

Gusti Arohman. Pecinta bola. Pokoknya bola mania deh! Udah gitu, Gusti nih juga mulai berwirausaha: menerima pesanan kaos gitu eh, hm mungkin lebih spesifiknya kaos bola :D. waah.. belajar jadi enterpreneur ya Gus?

Gusti ini kuliah di Unpad. Ambil jurusan hmm kelautan (tepatnya apa, aku ndak hafal.. T.T maaf ya Gus). Btw Gus, Dini, sepupu teteh dari papah juga kuliahnya di Unpad loh! Tapi dia ambil D3 di hmm perpajakan kalo gak salah ^^b. Satu angkatan juga sama Gusti. Hmm kampusnya terpisahkah?

Sri Endah Lestari. Satu-satunya anak perempuan dari keluarga Arohman. 🙂 Adek yang satu ini juga lulusan SMA 71 Jakarta loh! *eh, kok malah bangga ama SMA sendiri yak? =p .. Usianya terpaut satu tahun dibawah si dede (adek perempuanku) dan alhamdulillah tahun ini dia dinyatakan LULUS dari tingkat SMA-nya >.< .. Lagi prepare ujian tertulisnya SNMPTN.   SEMANGAT ya neng!

Jadi inget sama permintaanku (yang nggak mungkin banget terkabul) untuk diberikan kakak laki-laki alias posisiku berubah menjadi seorang adik di keluargaku 😀 :D.. Asik kali ya kalo jadi adek en punya kakak laki-laki yang baik hati >.< (kyaaa…malah jadi mupeng setiap baca buku Aisyah Putri-nya Asma Nadia; yang punya kakak laki-laki yang oke punya. halah!)

~neng, gimana rasanya punya kakak laki-laki? dari dulu teteh pengen banget loh punya kakak laki-laki ^^

Bangkit Arohman dan Taufik Arohman. dua orang adek yang setiap kali melihat mereka, aku seperti melihat kedua adikku dirumah ^^v.. akur gak akur gitu deh. lucu. eh lucu disini bukan berarti aku suka ngeliat mereka berantem loh ya! hanya saja bagiku, ‘berantemnya mereka itu’ lebih terlihat seperti bukti cinta dan sayangnya mereka satu sama lain. mungkin ada lah sedikit rasa kesel, jengkel, juga marah disana, tapi kurasa apa yang mereka ‘lakukan’ itu lebih pada “ini cara gue nunjukkin kalo gue sayang sama elo!” .. hehe..

jadi kangen ngeliat mereka berdampingan 😀

Ah iya, kembali ke NANO-NANO itu tadi: Dari banyaknya sapaan ‘kakak’ yang ada di penjuru dunia ini, aku mendapat dua panggilan yang berbeda dari mereka ^^.

Ada yang memanggilku dengan panggilan “teh Niva”. =) jelaslah ya, karena kami sama-sama berdarah Sunda. Nggak mungkin juga aku dipanggil “Uni” ato “Daeng” ato “Ayu” ato “Mbak” 😀 :D.. *ini bukan tentang diskriminasi RAS loh ya ^^v . Okeh! Tiga orang memanggilku dengan sapaan “teteh”. They are Endah, Bangkit, and Gusti 🙂 .. makasih ya..

Dan dua orang diantaranya memanggilku dengan panggilan “kak Niva”. Aduh, berasa masih SMA. Secara gitu ya, aku dipanggil ‘kak’ tuh cuman di SMA doang. Plis deh, inget sama umur dong, Va!

Tapi buatku, dipanggil ‘kakak’ ataukah ‘teteh’, it doesn’t matter..

Dan bagi teteh, menjadi kakak (ipar) bagi kalian itu sebuah amanah yang kalau boleh kusebut: bukanlah amanah yang ringan.

Maka pada malam itu, di Buaran Plaza (tepatnya di Bakso Lapangan Tembak), terima kasih telah menerima teteh sebagai ‘the new one’ di keluarga kalian. makasih ya :’) .. teteh bukanlah Laisa, bukan pula Tania, tapi untuk kedepannya nanti, teteh akan berusaha untuk bisa menjadi kakak perempuan yang baik bagi kalian juga bagi kedua saudara baru kalian yaitu Ndi dan dede :).. Dan semoga, ikatan ini slalu ada.

Makasih ya :’)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s