Cerita di Angka Dua Puluh Empat # 1

Standard

Bedah Buku with FLP Banjarmasin

Hari itu hari Ahad. Seminggu yang lalu. Sehari sebelumnya, doi-ku bilang, “besok ada bedah buku sama anak-anak FLP, neng”. Oow.. Hmm padahal aku pengen banget jalan-jalan ke Masjid Sabilal. oke! Nggak mungkin dong aku ngelarang dia untuk datang? 😛 Dan terucaplah kalimat itu, “hmm a, habis bedah buku, ada agenda lagi gak? (sembari senyam senyum en kedip kedip mata) ß bo’ong ding!

Doi bilang, “nggak”. Yey~! *bersorak sorai didalam hati. “asiik.. habis itu kita ke Sabilal yuk! Kemaren kan belom jadi ke sonoh”. Tau gak,jawabannya si doi seperti apa? “Ya udah, neng ikut aja yuk. Kan bedah bukunya di sana”. *eh? (ter-gubrak-gubrak). Sebenernya mah si doi udah ngajak sebelumnya, cuman aku belom kasih jawaban. Aku malah nanya “ada agenda lagi gak setelah bedah buku?”.. gituh!

Dan akhirnya, ikutlah aku ke Masjid Sabilal itu >.<  .. ~penasaran banget sama masjidnya! Hehe..

Sepanjang perjalanan, ada beberapa tempat yang sudah ‘disulap’ jadi tempat walimah sepasang suami istri. Jadi pengen mampir *eh? (laper: modeon)

Hmm lumayan jauh juga. Yah kalo di yogya, jaraknya mungkin sama kayak dari annida ke masjid syuhada :D… Di depan pintu gerbangnya “a, kita mampir dulu yuk buat sarapan 😀 😀 ..” si doi geleng-geleng kepala tanda keheranan. Mungkin doi berpikir, “nih anak dari tadi mikirnya ‘pengen mampir mulu’ setiap ngelewatin tempat nikahan’.. *aye sotoy banget ya? 😛

Sampai di sana, diparkirlah si skupi di sebelahnya tiang listrik. Agak nyempil sih emang, hehe. Tapi tak apa. Hmm jadi grogi mao ikutan acara bedah bukunya. hmm gak jadi ikut aja deh. Hehe.. labil banget. Eh, bukan labil! Setelah kupikir-pikir, lebih baik aku di masjid aja sembari melakukan ini itu en berfoto-foto ria :D.. lagipula aku nggak enak juga datang ke acaranya FLP, secara kan aku bukan anggota FLP Banjarmasin, hehe. Kalo jalangkung tuh ‘datang tak dijemput, pulang tak diantar’, maka kalo aku pada hari itu adalah, ‘datang dijemput (si doi), tapi tak dapat undangan untuk ikut hadir’.. 😛 .. malu ah. Hehe..

Setelah melobi-lobi si doi tuk keliling sabilal aja en gak ikut doi ke forumnya anak FLP, akhirnya dapet izin buat keliling sabilal aja ^o^ ~hohoho.. segeralah aku meluncur mencari pintu masuknya.

Pertemuan tak terduga

Hmm kayaknya mendingan masuk dari pintu masuk yang banyak orang en banyak sandal di depannya deh *sindrom khawatir kehilangan sepatu (astaghfirullahal’adzhiim. haduh Va.. kok malah jadi su’udzhon gini sih sama orang lain??). ya suwlah! Mari kita cari pintu masuk yang ada penitipan sepatu en ada kesetnya :D.. eh, ternyata diujung.

Seperti biasa: langitnya cerah banget! >.<  leaps sepatu en for the first time menginjakkan kaki di ubinnya Sabilal 😀 .. baru beberapa langkah, tiba-tiba ada seseorang yang berseru, “……” (aku gak denger apa yang dia ucapkan). Kuperhatikan orang itu, dia sepertinya mengenalku. Seorang akhwat. Berbaju merah plus dengan jilbab merahnya, rok panjang dan berkaos kaki.

Si akhwat masih terlihat ‘shock’ begitu melihatku di Sabilal. Sementara aku, dalam hati sibuk mengingat, “nih akhwat siapa yak?” *hadeeeh, aku kok nggak inget ya?

Anak FLP-kah, yang habis menunaikan sholat dhuha en mau ikut forum bedah buku itu? atau temen kantornya si doi? (eh, tapi siapa?). ato anak MITI, temennya si doi juga? (eh, tapi anak MITI yang kukenal cuman ega ama riska, itu pun anak UI ama IPB). Jadi, siapa doong.. T.T  *merasa nggak enak hati karena aku cuman senyam senyum gak jelas sementara dia terlihat ‘shock’ becampur bahagia bertemu denganku *GR banget gue!

Oh iya!  catatan: waktu melihatku ada di Sabilal, si akhwat menutup mulutnya dengan tangan kanannya (saking ‘shock’nya kali ya?) so.. maklum dong ya kalo aku nggak tau siapa dia.

Kami pun saling mendekat. Dan aku masih belum tahu siapa orang yang ada didepanku ini. Masih dengan mulut yang tertutup oleh tangan kanannya, si akhwat bertanya lagi, “kamu kok di banjar, niv?”.. *dia manggil aku dengan sapaan ‘Niv’, berarti satu angkatan nih. Atau dia seniorku –orang yang umurnya diatasku-.

Belum kujawab pertanyaannya, terlihatnya wajahnya. JENG! JENG!

Satu detik. Aku belum ngeh siapa dia.

Dua detik. Otakku masih mencari profil orang ini di laci-laci yang sudah lama tertutup.

Dan Tiga detik.. “ya Allah.. Dianing!! ” >.<

Mendapatiku berkata seperti itu, heranlah dia. “loh, kamu baru tahu, kalo ini aku? Ih, jahat banget si niva..”

~.~ “jyaah.. maap bu! Aku pengling ngeliat kamu kale.. secara, selepas kau lulus sebagai S.Psi, kam dirimu diterima di PLN Bali. Jelaslah aku nggak kepikiran kalo itu adalah kamu! Soale yang kutahu kan kamu ada di Bali.. hehe 😛 “

Ngobrol sebentar (masih tempat yang sama), dan kami sama-sama nyadar bahwa lantai masjid ini panasnya luar biasa.. “ngobrol dulu aja yuk niv! Aku janjian sama temenku, tapi dia belom dateng.” ~hayuk! Dengan senang hati..

~ah, subhanallah.. dibujuk-bujuk sama doi tuk ikut forumnya FLP ternyata aku tetep gak mau ikut dan rupa-rupanya, inilah yang mempertemukanku dengannya. Dianingtyas. Teman satu angkatan. Satu fakultas. Dan pernah berjuang bersama di KMP juga Nuansa.

Sebuah pertemuan yang tak terduga, memang. Dan aku senang bertemu dengannya lagi 😀

Advertisements

5 thoughts on “Cerita di Angka Dua Puluh Empat # 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s