Kenapa Aku Belum Hamil? *lanjutan*

Standard

Yey! Akhirnya bisa ngelanjutin tulisan ini.

Mau berbagi aja tentang apa yang sudah didapat dari kajian yang kudengar kemarin beberapa hari yang lalu : ) . semoga bermanfaat, bismillah..

ibu_hamil_1

Cerita Ibu Fatimah dan sebuah penelitian

Jadi gini, ummi mengawali materi dengan bercerita bahwa dia mendapatkan kunjungan di hari raya Idul Fitri kemarin dari seorang ummahat yang bernama Ibu Fatimah. Ibu Fatimah ini (ketika itu) membawa anaknya yang keenam yang umurnya sekitar sembilan bulan dan ibu Fatimah sendiri umurnya kira-kira sebaya sama ummi Nunung (43 tahun). Katanya, “anak keenam ini adalah bonus dari Allah : ) ..”

Waktu ummi ngeliat si dede bayi alias anak keenamnya bu fatimah, ummi merasa ‘ada yang beda dengan si dede bayi’ dan bertanyalah ummi pada bu fatimah.

Eh ya, pasti pada bertanya: bedanya tuh apa sih?

Ummi bilang, si dede bayi ini udah bisa merangkak en hampir bisa berjalan :o..

Usut punya usut, ternyata bu fatimah ini menerapkan sebuah hasil penelitian yang pernah ia dengar di sebuah seminar yang pernah diikutinya.

Hasil penelitian pada sebuah seminar

Ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang dokter kandungan yang ternyata diaplikasikan oleh bu fatimah saat beliau hamil anak keenamnya. Penelitian itu ialah..

Jadi, si dokter ini meneliti beberapa bayi (yang ketika itu mereka masih dalam kandungan), yang diberikan beberapa perlakuan berupa metode-metode. Ummi gak menyebut variabel satunya, cuman dari metode-metode itu, metode yang terbukti menunjukkan hasil positif itu adalah :

Saat usia kandungan ibu menginjak usia empat bulan, si ibu diminta membaca surah-surah di Alquran (dan cuman si ibu sajah yang membacanya. bukan si ayah). Nah, dari 114 surah, ternyata ada beberapa surah yang menunjukkan grafik yang terus meningkat. grafik ini menunjukkan respon janin ketika mendengarkan surah-surah tersebut.

Surah-surah itu adalah surah al fatihah, ar rahman, yusuf, maryam, al ikhlas, an nas. Nah, kalo ditanya “kenapa cuman surah itu aja?”..ย  Dokter cuma kasih jawaban bahwa hanya keenam surah itu yang menunjukkan respon yang luar biasa yang terlihat pada janin :D..

Penasaran nggak sama penelitiannya?

๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Jadi gini, penelitian atau eksperimen ini bisa dilakukan ketika janin (dalam kandungan) berusia 5 bulan.

NAH! Pada usia kehamilan 4 bulan, si ibu merekam suaranya (saat membacakan surah-surah tersebut) dan itu harus dengan tartil. hmm ummi bilang, kalo belum lancar, ikut tahsin atau perbaiki bacaan kita sampai benar-benar tartil. Oh ya, rekamnya jangan pakai henpon ya. Pakai alat perekam aja: kayak MP3 ato semacamnya.

LALU.. di usia kehamilan 5 bulan, mulailah perdengarkan rekaman itu tepat diperut ibu (tanpa perantara): jadi, tempelin deh tuh MP3 ke perut ibu : ) . Waktunya itu sekitar jam 20.00 sampai selesai, kira-kira satu jam-an.

DAN.. cara itu dilakukan sampai usia kehamilan 9 bulan.

— Terus, dimana peran ayah?

Eits. jangan dikira si ayah nggak punya peran loh ya! justru di sini peran ayah dibutuhkan untuk membantu ibu dan dede bayi tetap berada dalam kondisi yang tenang. tanpa suara-suara lain, termasuk suara si kakak (kalo semisal udah punya anak pertama) apalagi suara tivi.

Daan.. hasil dari penelitian yang dilakukan oleh dokter itu adalah: bayi-bayi yang diberikan perlakuan berupa metode tadi tuh ternayta nggak rewel (jarang menangis), mudah merespon, punya semacam kode-kode tertentu semisal si bayi mau buang air, jadi nggak ngerepotin si ibu ^^.. perilaku bayi itu terlihat saat usia mereka berada sekitar 1 bulan sampai 1 tahun.

JUGA… ketika si dede bayi itu mendengar lagi surah-surah tersebut (yang udah kusebut diatas), mereka seperti memberikan respon dan seolah berkata, “ini surah yang pernah aku denger waktu aku masih di perut ummi..”

~kyaaa… >.<ย  so sweet amat ya.

Eksprimen itu ternyata sudah dilakukan juga oleh beberapa ummahat dan terbukti!

Sekolah dalam Perut

Sekolah dalam perut yang dimaksud ummi itu yaa semacam sekolah pada umumnya (kayak SD, SMP, SMA)..

Jadi udah ada jadwal, kurikulum, juga komunikasi antara guru (disini adalah ibu) dan murid (yaitu si dede bayi) yang udah dibuat oleh si ibu.

Semisal: kalo pagi ibu menyapa, “assalamu’alaykum, sayang.. gimana kabarmu di sana, nak? ummi sama abi alhamdulillah baik-baik aja di sini. oh ya, hari ini kita mau belajar tentang sirah nabawiyah ya..”. *kebayang nggak sih, belom jadi bocah aja udah dapet kata-kata ‘sirah nabawiyah’.. ๐Ÿ˜ฎ

nb: pakai kalimat positif ya.. : )

Dan itu ternyata sudah dilakukan oleh seorang ummahat asli indonesia yang tinggal di timur tengah. ummi nggak menyebut siapa namanya, tapi biar lebih enak kita pake inisial aja ya. Anggaplah ummahat ini adalah Bu L. Nah, waktu bu L ini hamil, bu L menerapkan sekolah dalam perut menurut versinya beliau. Ada waktunya membacakan sirah, ada waktunya membacakan hadist, dst.

Dan hasilnya adalah.. si dede bayi dari Bu L ini waktu usia 6 bulan sudah bisa menyebut nama ‘ummi’. usia 10 bulan sudah bisa menyebut huruf R dengan jelas. ๐Ÿ˜ฎ *WOW!

Ah ya! orang-orang barat plus orang-orang yahudi pun sudah menerapkan sekolah dalam perut ini loh!

Pernah denger kan, cerita tentang kenapa orang-orang yahudi itu cerdas-cerdas? Nah! itulah yang sudah mereka terapkan.

Cerita lain dari beberapa ummahat

Cerita pertama itu: seorang ustadzah yang sudah hafal Alquran ternyata.. jauh sebelum ia menikah, ia mencari calon pasangan (suami) yang hafal Alquran juga. WEW! Visioner banget yak!

Cerita lain dari seorang ummahat yang punya kurikulum sendiri saat ia tengah mengandung 4 bulan. Kalo ummi cerita, jadi hari Senin itu waktunya belajar Alquran. Selasa itu belajar hadis. Hari ketiga itu belajar fisika. Hari keempat itu matematika, dst.. ๐Ÿ˜ฎ

Eh ya, jadi pas belajar itu, si ibu juga berinteraksi sama dede bayinya. Kayak orang ngobrol gitulah.. : ) plus sentuhan sentuhan lembut ke perut. Jadi si dede bayi juga merasa ‘diajak’ belajar.ย  Misal “hayu nak, kita belajar matematika dulu ya hari ini : ) ” .

Tentang waktu, ummi bilang sih baiknya ada dua sesi dalam satu hari dimana waktu malam hari itu lebih panjang daripada pagi ato siang hari. PLUS.. dilakukan setelah makan, jadi udah ada energiย  ๐Ÿ˜€ juga

The last one: KONSISTEN.. : )

konsisten sesuai jadwal, sesuai kurikulum. jadi kalo semisal ada satu pelajaran yang terlewat, itu diganti dilain waktu dan dikomunikasikan ke dede bayi (secara verbal) sembari elus-elus perutnya >.<

Tambahan:

Alm. ustadzah yoyoh pesen ke ummi, “urusan rumah tangga (kayak nyuci piring, nyapu, ngepel dll) biar khadimat aja yang handle. TAPI kalau urusan anak-anak HARUS kita (baca: ibunya) yang pegang”. Jadi kita nggak cuma mendidik anak-anak kita aja, tapi juga mendidik orang lain yang jadi khadimat di rumah. Dan kalo persepsiku sih, untuk urusan teknis dalam pekerjaan rumah tangga biar khadimat aja yang kerjain tapi kalo untuk perkembangan anak-anak, akhlak dan ibadahnya harus kita yang pegang. *cerita ini juga ada di bukunya Langkah Cinta Untuk Keluarga.

Buat yang masih single

Pertama: pilih calon pasangan yang ‘oke!’. ini mah pake bahasaku.. hehe. buat para ikhwan, cari akhwat yang CERDAS, bukan sekedar sholihah. Cerdas disini maksudnya: dia tau bedanya makanan bergizi dan makanan yang sekedar mengenyangkan, dia juga tau kalo halal itu pastinya satu paket sama thoyyib, dan hal-hal lainnya yang mungkin kita anggap sebagai hal kecil tapi sebenernya itu penting! KARENA.. kecerdasan seorang anak (dominannya) itu diturunkan secara genetis oleh ibu : ) .

Kedua: cukupkan modal satu juz (juz 30) atau dua juz yang sudah kita hafal sebelum kita menikah. Biar nanti setelah menikah kita dan pasangan kitapunya tekad yang sama tuk terus menghafalkan Alquran sampai akhir hayat.

***

Ah subhanallah.. dengerin taujihnya ummi nunung itu seolah menjawab pertanyaanku selama ini: kenapa aku belum hamil?

kalo pake bahasanya Syahrini: Cetar Membahana Badai lah pokoknya!! ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ *ketauan suka nonton IMB ๐Ÿ˜›

Jadi, gitu deh ceritanya.. kalo mau lebih oke lagi, mending donlot aja kajiannya di radiokrph.com di bulan november : ) Dijamin akan rugi kalo cuman baca tulisan ini doang karna apa yang kutulis ini cuma sepertiga dari semua yang disampaikan ummi : ).

Yasuw, mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan.. kalo ada yang salah, silakan diralat. kalaopun ada yang benar itu semata-mata atas izinNya kepada saya untuk membagikan hal ini ke temen-temen.

***

So, kalau kamu belum menikah.. ndak usah sedih ato galau ato desperado..

Juga kalau kamu belum dikaruniai anak (just like us), husnudzon ajah: bahwa Allah sedang memberi kita waktu lebih tuk mempersiapkan generasi-generasi yang CERDAS. bukan sekedar ‘punya anak’. Seperti kata-kata di bawah ini:

Untuk teman senasib dan seperjuangan: memiliki anak bukan sebuah perlombaan karena teman atau saudara kita tlah dianugerahi anak terlebih dulu. tetapi adalah taqdir Allah atas hambaNYa, Dia memberikan atau memudahkan kepada siapa saja yang dikehendakiNYA..yang terpenting adalah optimis dan giat berusaha. .Aamiin

(Mbak Azizah Helmiati, dari status fesbuknya seorang kawan)

***

Banjarmasin, 06.12.2012

Advertisements

29 thoughts on “Kenapa Aku Belum Hamil? *lanjutan*

  1. berkunjung ke rumah mbak Nifha yang baru…. membaca tulisan yang puaaanjang dan mencerahkan… terima kasih. ini bareng ummi bacanya… ๐Ÿ™‚ salam buat Akang Panj

  2. hwaaaa… seneeeng bangeeet baca iniiih mbaa… inspirative…
    waahh kayaknya aku harus langganan blognya mba nivaaa….
    inspirative dan bnyk ilmunyaaa
    (dlm beberapa bln terakhir jarang blog wlking krna lg “jungkir balik” di rumah sakit mba. Hehehe…

  3. Risma

    asalamu alaikum mba’..
    aku juga uda lama nungguin kehadiran si dedek bayi, n aku uda kangen bangat ma baby,, sempat juga aku putus harapan. tapi pas membaca ceritanya mba’ aku jadi nyadar lau keputusannya ada di tangan ALLAH. maksi atas ceritanya mba’..

  4. Mosyi

    Satu kata: SUBHANALLAH!
    Keren banget nih, artikelnya. Makasi ya Niefha, udah sharing! *ehh gak jadi satu kata deh komennya*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s