Banjarmasin #1

Standard

Akhir tahun 2011. Kutuliskan nama beberapa kota (dan tempat) di selembar kertas berwarna putih. Aceh, Malang, Bunaken, Bandung, dan Banjarmasin. Sederhana saja: untuk Malang dan Bunaken tujuannya ingin jalan-jalan, untuk Bandung sekedar ingin berkunjung ke rumah sepupuku sekaligus berlibur selepas sidang, dan untuk Aceh juga Banjarmasin inginnya sih silaturahim ke beberapa kawan dunia maya yang berdomisili di sana.

Uang? Hahaha.. jelaslah pasti butuh uang untuk bisa menjelajah kelima tempat itu. Tapi entah kenapa, saat itu aku sama sekali tak begitu memikirkannya. Merasa yakin saja bahwa Allah kan mengabulkannya. Yah, kalaupun tak semuanya, pasti ada satu yang kan kusinggahi di tahun 2012.

Dan rupanya, bukan hanya singgah saja yang kulakukan melainkan juga berpindah kemudian tinggal di sebuah kota yang belum pernah kudatangi.

Banjarmasin.

Bukan karena untuk bertemu dengan kawan dunia maya seperti yang kutuliskan sebelumnya. Bukan pula karena aku melamar pekerjaan lalu ditempatkan di sana. Dan pastinya, bukan karena sekedar iseng saja aku berada di kota itu sekarang. Saat ini. Terhitung sejak akhir Maret 2012.

: )

Yah. Kalian pasti tahu. Aku menikah dengan seseorang yang berdomisili di kota itu. hmm mungkin lebih tepatnya bukan berdomisili, tapi bekerja di sana. Yah, bagiku ada sedikit perbedaan dari definisi kedua kata tersebut: domisili lebih mendekat pada ‘tinggal menetap’ sedangkan bekerja ya berarti ‘bekerja di kota tersebut’. 😀 hahaha.. terkesan maksa ya?

Banjarmasin: for the first time.

Pertama kalinya naik pesawat terbang.

Kota pertama di pulau Kalimantan yang kudatangi.

Dan hidup terpisah dari keluarga yang paling jauh setelah Yogyakarta, (hahaha.. kotaku hanya ada 3: Cirebon-jakarta-yogya. Otomatis, paling jauh adalah Yogya :D)

Teman pertama: Jidah (yang dikenalkan suamiku jauh sebelum kami menikah). Kenal melalui SMS saja dan baru bertemu di bulan September lalu.

Adalah Ni’mah, pengurus FLP yang akhirnya bertemu juga di sebuah forum rutin FLP yang dihadiri oleh suamiku, setelah beberapa bulan sebelumnya telah bertukar sapa di jejaring sosial bernama facebook.

Dan adalah Mbak Imuth, seseorang yang ternyata kenal dengan Teh Ussy juga SK ketika mereka menjalankan sebuah ‘tugas’ di sini.

Sebutlah Mbak Ike, partner kerja suami di kantor yang memberiku mukena cantik sebagai hadiah pernikahan kami. Juga Mbak Dian, yang begitu ramah menyapa dan mengajakku berbicara saat pertama kali aku dikenalkan kepada teman-teman kantor oleh suami.

Mama Amel dan Mama Damar. Tetangga pertama yang menyapaku di hari pertama aku keluar rumah. Katanya, “Ini istrinya Om Panji ya?” : )..

Kukira, tak ada saudara (secara silsilah) di kota ini. Ternyata ada! Dan mereka adalah Wa Wita beserta keluarga. Rumah pertama yang kami silaturahimi. Jalan-jalan pertama yang kami nikmati. Dan traktiran di restaurant ternama yang pernah kami datangi..

Terima kasih kepada mereka yang telah ‘mengenalkanku’ pada sebuah kota bernama Banjarmasin : )

*to be continue

Banjarmasin, 16.01.2013

 

Advertisements

7 thoughts on “Banjarmasin #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s