Banjarmasin #2

Standard

Hajatan

Menghadiri pernikahan beberapa kawan di sini merasakah ada sedikit yang berbeda. kalau biasanya aku sampai di lokasi pastinya mengisi buku tamu. Lalu aku bersalaman dengan kerabat kedua mempelai yang berseragam, kemudian bersalaman dengan kedua mempelai dan kedua orangtua, then menikmati hidangan, dan kalau memungkinkan akan bersalaman lagi dengan kedua mempelai juga orangtua untuk berpamitan.

Nah! Di sini berbeda. Dari pengalamanku selama ini (haiyah! Baru juga beberapa kali dateng ke walimahan), begitu sampai di lokasi, setelah mengisi buku tamu langsung disodorkan hidangan untuk disantap. Barulah setelahnya bisa bertemu dengan kedua mempelai dan orangtua alias bersalaman dengan mereka di pelaminan. Kemudian pulang tanpa berpamitan.

Dan uniknya lagi, kalau di Jawa biasanya yang menjadi hantaran berupa makanan adalah buah atau roti atau kue kue basah. Nah! Di sini, dari beberapa pernikahan yang kuhadiri, ketika bertandang ke rumah mempelai wanita, yang terlihat adalah kue-kue tart dengan warna warna terang: pink, merah, putih, kuning, dan krem. Mungkin ada lebih dari lima kue yang diletakkan di lemari khusus atau meja khusus untuk menyimpan itu.

Lalu, untuk dekorasi biasanya mereka menggunakan warna emas, merah, orange atau kuning.

Yah.. sebenarnya tak tahu juga sih yang kutuliskan ini bisa digeneralisir ataukah sebaliknya. Tapi yah, dari sini aku ingin berbagi tentang pengalamanku menghadiri undangan pernikahan di kota Seribu Sungai ini.

Makanan

Well, pertama adalah beras. Selama ini, beras yang kumakan ataupun kumasak di rumah en di kos itu adalah beras yang ketika matang mereka menempel satu sama lain. Hmm mungkin istilah kerennya adalah ‘lengket’ (hahaha… ops!). dan baru kutahu kalau itu disebut sebagai “beras jawa”. Sesampainya aku di kota ini, menghadiri acara gathering di kantor suami (dan pastinya lagi sesi makan bersama ^^ ), cukup kaget begitu mengambil nasi “eh, kok nasinya berjatohan?”.. hahahaha.. maksudku, nasi yang kuambil ketika itu ndak  nempel satu sama lain seperti nasi yang sering kumakan sebelumnya, tapi ini adalah nasi yang biasanya dipakai untuk membuat nasi goreng 😀 (tau kan nasi yang kumaksud?)

Nah, itulah yang mereka bilang dengan “ini nasi Banjar, Va. Beda kan, sama nasi di Jawa?”

^^b  oalah.. baru tau aku kalo nasi Banjar tuh begitu wujudnya.

Katanya, orang Banjar itu lebih suka masakan bersantan daripada tumisan. Dan ini terbukti dari ucapan seorang mbak angkatanku di kampus yang sedang menyelesaikan studi Magister Profesi Psikologinya. Sebutlah namanya Mbak Nana, yang berasal dari Banjarmasin dan pernah berbagi cerita tentangku tentang “makanannya orang Banjar” di Rempah Asia yang ada di Jakal km 4,5. Ini poin kedua.

Kawanku bilang, “orang Banjar itu nggak suka makan makanan yang sama dalam sehari. Inilah yang ketiga. Jadi, kalau sehari itu tiga kali makan, berarti mereka akan masak tiga menu yang berbeda di setiap waktunya”. Eh? Nggak mubazir ya?

dan seketika aku merasa bersyukur sebagai orang jawa yang tetap menikmati hidangan yang ada walaupun itu sudah dihidangkan di pagi hari atau siang hari sebelumnya. I mean, kalo semisal masakan yang dibuat di pagi harinya tuh nggak habis, then  siang hari bikin masakan baru, njuk masa’ masakan menu sarapannya dibuang begiru sajah?

ah tapi kurasa, setiap hidangan yang dimasak pastinya akan dihabiskan oleh mereka dalam satu waktu tersebut. Bukan begitu? *nanya ke orang Banjar.

Kata Sapaan

..Baru tahu kalau ading  itu sapaan untuk adik atau anak yang usianya lebih muda dari kita.

..Baru tahu juga kalau aa  itu dipake untuk memanggil seseorang yang dituakan. Hmm semacam kakaklah ya kalo di Bahasa Indonesiakan. bukan hanya ditujukan kepada kakak laki-laki seperti “aa” dalam Bahasa Sunda, tapi juga ditujukan pada kakak perempuan. Hmm, aku sih menyimpulkan ini berdasarkan pengamatan pada beberapa kawan di sini. Seperti mbak Dian yang memanggil “aa” pada mbak Ike.

..Baru tahu kalau acil  itu berarti bibi.

Baru tahu juga kalau biasanya mereka dipanggil paman  bukan abang, mas, atau bapak. Mereka yang kumaksud itu hmm tukang-tukang atau penjual seperti penjual bensin eceran, tukang parkir, ataupun penjual kerupuk langganan kami. Dan kalaupun dipanggil dengan sapaan pak atau mas biasanya itu karena kita sudah tahu bahwa mereka berasal dari Jawa ato bukan orang banjar :D.

sempat merasa aneh sih, toh sapaan paman hanya kugunakan dalam bahasa tulisan seperti saat membuat karangan tentang keluarga. dan rupanya di sini aku mulai menggunakan kata sapaan itu secara verbal kepada mereka.

..Baru tahu kalau di sini lebih lazim memanggil kakak  daripada mbak atau mas atau aa atau teteh ^^. Berasa kembali ke jaman SMP: dipanggil kakak sama adek kelas. Sebutlah murobbiku. Beliau yang hampir berusia 40 tahun itu tetap dipanggil ‘kak’ oleh seorang teman liqoku (temanku ini sudah lama tinggal di Banjar). Wajahnya memang awet muda, kukira usianya masih diawal 30 tahun. Pengalamannya mengisi halaqoh mahasiswa pun tetap sama: dipanggil dengan sapaan kakak. Dan yah, teman-temanku yang lain memanggilnya dengan sapaan ‘mbak’. Hanya aku yang memanggilnya dengan sapaan ‘ibu’.

..Itu dulu saja ya.

Rumah

Menjejakkan kaki di rumah (kontrakan) ini seperti berada di atas panggung. Semacam ada sebuah ruangan kosong yang ada di bawah telapak kaki. “ah, mungkin hanya perasaanku saja”, pikirku saat itu. Tapi kemudian, ketika aku berjalan cepat dari dapur menuju teras, terasa seperti gempa >.< .. “Aih.. sering terjadi gempakah di sini?”

–.–“  parno: mode on.

Saat itulah dia memberitahuku. Katanya, “rumah di Banjar itu emang begini. Kayak rumah panggung kan?”. Aku menggangguk, lantas bertanya lagi, “kenapa rumahnya harus begini?” –pertanyaan ini muncul karena masih merasa ‘aneh’ tinggal di rumah yang beda dari biasanya. Jawabnya, “karena, lahan di sini mayoritas rawa. Ato tanahnya bukan tanah gembur kayak di Jawa pada umumnya. Jadi, kalo mau bangun rumah, harus buat fondasi dulu kayak panggung”.

~ooo.. aku baru tahu! 😀

“Tapi kok, rumahnya mamah Amel sama rumah-rumah yang ada di depan gang masuk itu nggak keliatan kayak rumah panggung?”, tanyaku lagi. “Mereka juga sama kok, rumah panggung juga. Cuma, mereka udah nguruk tanah. Jadi, area rumah yang tadinya rawa, udah diuruk pake tanah jadi ketutup en keliatan kayak rumah di Jawa”, katanya kemudian.

~hmm.. iyakah?

Sempat tak percaya dengan penjelasannya, sampai kemudian ketika aku dan dia makan di sebuah kedai pempek ternyata benar semua ucapannya. Kedai pempek itu berdiri persis di atas rawa dan terasa memang bunyi “dak. duk. dak. duk.” setiap kaki melangkah. ^^

Harga Barang

Nah! Yang ini pastinya harus dibahas. 😀 😀 😀

mereka bilang, harga barang di Banjarmasin itu jauh lebih mahal daripada di Jawa.

mereka juga bilang, pertama kali mungkin akan ‘shock’ begitu tahu harga di Yogya jauuuh lebih murah.

dan ternyata semuanya kualami sendiri T.T

*masih berlanjut

Banjarmasin, 17.01.2013

Advertisements

2 thoughts on “Banjarmasin #2

    • nah! itu dia mas.
      yang kue hantaran itu tak ada potonya 😦
      padahal warna warni begitu kuenya.. *mendadak lapar

      kalo yang tentang rumah, tak posting di tulisan “our home” ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s