12 Hari

Standard

Assalamu’alaykum syahdan.,

Hey nak. Maafin ummi ya.. maaf sepanjang pagi tadi ummi bermuka masam. Bukan karenamu, nak. Tapi karena ummi belum terbiasa dengan ritme baru sebagai seorang ibu. Mungkin ini salah satu cara Allah mentarbiyah ummi, nak. Bahwa menjadi seorang ibu memang butuh keikhlasan dan pengorbanan. Kesabaran dan rasa syukur tanpa batas.

Cinta, duabelas hari sudah kau hadir di kehidupan kami. Atas izinNya tentunya. Dan sejak hari pertama hingga hari ini, ummi juga ayahabi menemukan hal baru. Pembelajaran baru. Belajar menjadi seorang ibu dan ayah.

Nak, ternyata menjadi seorang ibu itu luar biasa ya.. :’) . Semalam, sewaktu kau bangun karena lapar dan minta diganti popoknya, ummi juga abi terbangun. Ummi bersihkan, tapi tangisanmu tak berhenti juga. Bangunlah semuanya: ota, nnin, ngki, juga tante silvi. Ah tangisanmu memang heboh, nak. Bukan.. bukan salahmu, cinta. Itu adalah bentuk komunikasimu pada kami, iya kan? 🙂

Kembali ke cerita ya, nak.

Dan saat ummi membersihkan juga mengganti popokmu, nnin bilang kalo ummi terlalu santai. Katanya, kasihan dirimu kalau ummi terlalu santai membersihkan dan mengganti popokmu sementara dirimu sudah menangis sejadi-jadinya; ditambah pantatmu yang tampak kemerah-merahan, katanya pasti kau merasakan perihnya di daerah pantat.

Jeleknya ummi, ummi sering menjawab setiap diingatkan atau diberitahu oleh nnin atau ngki. Dan seketika, rasanya ingin menangis, nak.. Ummi tahan semampunya, karena pada saat itu, semuanya masih ada di dalam kamar. Tante silvi mengambil alih peran ummi. Tantelah yang memakaikan popokmu lalu membedong dirimu. Ah, tante silvi mungkin tahu apa yang ummi rasa, nak..

Seselesainya kau dibedong, kita bertiga saja di kamar ini. Dan saat itulah ummi tak bisa menahannya. Maafkan ummi, cinta.. maaf. Maaf ummi terlalu santai setiap membersihkan dan mengganti popokmu. Maaf juga kalau kau sampai menunggu lama padahal rasa taknyaman karena kotornya pantatmu ditambah laparnya perutmu membuatmu menangis sedemikian rupa di malam itu.

Maafkan ummi, cinta..

Maaf ya, ummi masih belajar membersihkan dan mengganti popokmu. Ummi tahu, nak.. ummi tahu, tante silvi membela ummi di malam itu. Katanya padamu, “maafin ummi ya de.. umminya masih belajar”. Begitu kan kata tante padamu, nak?

Ayahabi mencoba menghibur ummi. Katanya, nnin tak bermaksud menyinggung ummi. Dan ayahabi sepertinya tak pernah mau melihat ummi menangis, nak.. ah, ayahabimu memang lembut hatinya.

Iya, nak.. ummi tahu, nnin tak bermaksud menyakiti hati ummi.. nnin berkata seperti itu karena tak ingin cucunya yaitu kau, menangis begitu sedihnya dan merasakan perih karena iritasi di bagian pantat. Ummi tahu, cinta.. itu hanya bentuk kasih sayangnya nnin padamu dan ummi; mungkin caranya saja yang kurang pas dengan kondisi ummi pada saat itu.

Maaf ya nak.. maafkan ummi semalaman menangis hanya karena itu.

Ummi sayang sama dede syahdan.. ummi juga sayang sama nnin.

Nak, ayahabimu ikut berjaga menemani ummi. Ah kasihan ayahabimu, nak. Ayahabi bukan tipikal orang yang bisa bergadang atau tidur larut malam. Dan ummi tahu itu.

Maafin ummi ya, ayahabi.. maaf ya waktu istirahat ayahabi jadi berkurang..

Makasih ya udah bantuin setiap dede syahdan kebangun di malam hari.. makasih ya a.. :’)

Rawa badung

Ahad,03/08/2014

Advertisements

One thought on “12 Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s