LDM #1

Standard

Yang Long Distance Marriage, sila merapat. Saya mau curhat. #eh.

Dulu, sebelum menikah, inginnya menjadi pelaku LDR atau LDM. Tapi sebulan setelah menikah, eh justru berubah. 😀 Say NO to LDM! Why? Karena ujiannya terlampau berat. Ini IMHO sih.

Delapan setengah bulan sudah ‘menumpang’ di rumah orangtua. Sejak akhir Mei 2014, saat usia kehamilan memasuki bulan ke delapan. Rencana pertama, akan kembali ke Banjarmasin di bulan September atau Oktober. Ternyata gagal. As a newmom, sang nenek masih terlalu khawatir kalau kalau anak perempuannya ini tidak terampil merawat si jabang bayi. (Emang sih masih kikuk). Secara ya, si bungsu yang baru saja menyelesaikan studinya di Akbid jauh lebih terampil menggendong, memandikan, dan meninabobokan si jabang bayi ketimbang kakak perempuannya. Jadi wajar saja kalau sang nenek masih ‘menahan’ anak perempuan (pertamanya) ini.

Rencana kedua, bulan November. Minggu kedua November, setelah mamah memenuhi undangan walimatul ‘ursy anak sahabat lamanya di Bandung. Dan itu pun sama. Gagal. Orang rumah bilang, “nanti aja sih ke Banjarmasinnya, kan tanggal 20 mamah ulang tahun”. Well. Balik ke Banjarmasin di bulan November pun dicoret sudah.

Selanjutnya bulan Desember. Minggu kedua Desember. Ini permintaan khusus abi-nya tuk kembali ke Banjarmasin. Tapi apalah daya. Serupa dengan bulan sebelumnya. Mereka bilang, “Tanggal 25 kan anniversary nya mamah papah. Tanggal 28 nya dede Azka 1 tahun.” Ah. Itu sebuah kode. –.–” . Yah sebenarnya bukan itu yang utama. Ada hal lain yang membuat ku tak bisa kembali ke Banjarmasin kemarin.

Dan sekarang sudah Januari.
Abi, apa aku boleh menghadiri wisudanya Ota?

LDM. Bukan cuma kesetiaan yang diuji. Tapi juga rindu. Tanyakanlah pada para ayah, apa yang mereka rasa saat harus pergi meninggalkan si buah hati? Ah ya, kuberitahu satu rahasia. Mereka, para ayah itu, sesampainya di kota tujuan, yang pertama ditanyakan adalah “gimana kabar anak kita, mah?”. (hahahaha.. istrinya gak ditanyain, pak?). Ops. Ini seperti nada cemburu nggak yaa? :p Yah, rahasia ini berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa emak-emak pelaku LDM juga sih. Jadi, valid tidaknya, silakan nilai sendiri.

LDM. Bukan cuma rasa percaya yang diuji. Tapi juga pola komunikasi. Semisal kondisimu sedang lelah. Seharian melakukan pekerjaan domestik, mengurus jabang bayi, dan sempat berhadapan dengan ‘orang birokrasi’. Inginnya ada ‘wadah’ untuk menampung semua rasa, lalu dikirimlah satu dua alinea cerita via whatsapp atau SMS. Berharap segera mendapat balasan yang berupa perhatian, ternyata eh ternyata sudah balasannya lama, isinya cuma Oke atau Ya atau Sabar ya. 😀 *gubrak! Kalau saja tak berprasangka baik, yang ada pasti justru makan hati. Coba deh diingat lagi, kapan terakhir kau menghubunginya? Meneleponkah atau kirim SMS kah. Lalu, apa isi percakapan kalian? Kabar sajakah atau panjang kali lebar seperti luas?

LDM oh LDM..
Kalau di sini sesekali aku makan di restoran, bagaimana denganmu di sana?
Kalau di sini makanku teratur, bagaimana denganmu di sana?
Kalau sesekali kucucikan dan setrikakan pakaian mereka di sini, lalu siapa yang mencuci dan menyetrika pakaianmu?

Long distance marriage.
Semoga hanya sementara.
Semoga Allah semakin cinta.
Dan semoga kaupun semakin cinta: padaku. (Hahaha.. apaan sih?) 😛

Advertisements

3 thoughts on “LDM #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s