Ekonomi keluarga #1

Standard

Papah bilang, kalau mau bantu orang lain, kuatkan dulu perekonomian kita. Jangan sampai kondisi kita kurang. Begitu. Ah awalnya aku tak setuju dengan statemen tersebut. “Bukannya kalo sedekah saat kita sempit tuh jauh lebih baik daripada saat lapang?”, pikirku saat itu. Daaan.. aku pernah mengalaminya. Semacam senjata makan tuan. Inginnya memberi ini itu untuk sanak saudara, tapi apa daya tangan tak sampai.

Ada masanya harta kita berlebih. Ada masanya juga harta kita kurang, hmm yah semacam lebih besar pasak daripada tiang. Dan pasti ada keinginan memberikan sesuatu entah itu untuk orangtua, untuk adik/kakak, teman pengajian, atau untuk adik binaan. Apalagi kalau sudah berkeluarga, daftar namanya pasti bertambah; untuk mertua, untuk adik/kakak ipar, untuk keponakan, untuk nenek/kakek dari suami, dan kerabat lainnya.

Karena itulah papah selalu berpesan kalau mau bantu orang lain, kuatkan dulu ekonomi keluargamu. Gimana mau bantu orang lain kalau kebutuhan pribadi saja tidak terpenuhi, kira-kira begitu intinya.

Percaya nggak kalau finansial itu merupakan hal yang sensitif dalam sebuah keluarga? Antara suami istri ataukah keluarga besar. Tapi yang mau dibahas di sini, lingkup keluarga besar.

Well, sebenarnya pesan yang papah sampaikan itu dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadinya. Keluarga besarnya. Papah anak pertama dari enam bersaudara. Alhamdulillah sejak aku masuk sekolah TK papah sudah memiliki mobil. Sedan Opel. Ah tak tahulah aku apa merknya. Dan aku juga tak tahu itu dibeli secara cash atau kredit. Nah, seiring berjalannya waktu ada lah ya keinginan tuk ganti mobil. Karena kuota penumpangnya bertambah (apalagi kalau mau mudik, bawaannya banyak bingits).

Singkat cerita, papah berencana mengganti si Opel dengan mini bus semacam kijang atau xenia. Tapi ternyata rencananya itu dipending. Ya, dipending karena abah (sebutanku pada kakek) pernah berpesan, “Ono, Beli mobilnya nanti aja. Tunggu adik-adik kamu mapan semua” (kira-kira begitu. Tapi dalam bahasa sunda). Seperti diceritakan oleh mamah. Sewaktu kutanya kenapa harus nunggu mapan semua?, katanya, abah nggak mau ada rasa iri/cemburu diantara anak-anaknya. Itulah kenapa abah berpesan ke papah untuk menunda beli mobil baru. Karena pada saat itu, beberapa adiknya belum memiliki mobil.

Dan abah ingin ekonomi keluarga keenam anaknya ‘sama’. Bukan sama dalam jumlah rupiah (penghasilan). Tapi pada taraf kemapanan. Lah terus apa bedanya? Hahaha.. aku yo bingung gimana membahasakannya.

Hmm, intinya (lagi nih), jangan sampai dalam satu keluarga ada yang menonjol perekonomiannya (berlebih maksudku) dan ada yang kekurangan. Peluang timbulnya rasa iri/cemburu bahkan perpecahan dalam keluarga lebih besar.

Begitu.
Lain kali disambunglah..

Advertisements

3 thoughts on “Ekonomi keluarga #1

    • 😀 😀 😀
      Kalo bagi bagi, yang terima gak usaha dong neng. Maksudnya, cari cara gimana supaya tidak ada kesenjangan ekonomi antar keluarga, apalagi sama adik atau kakak sendiri ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s