Buat Abang

Standard

Lama kita tak bertukar surat cinta, Bang. Ah iya, sudah beberapa bulan ini aku memiliki panggilan baru untukmu. Semula hanya “aa”. Lalu berganti “abi”. Dan kini aku lebih suka memanggilmu dengan “abang”. Janganlah marah, cinta. Aku tak bermaksud menyamakanmu dengan abang ojek atau abang tukang bakso di Jakarta (ya kalo di Banjarmasin, nggak ada abang ojek. Adanya “paman”), hanya merasa, butuh suasana romantis baru setelah kita tak lagi berdua.

Lama kita tak jalan berdua, Bang.
Ya, aku tahu. Kau slalu ingin mengajak jagoan kita ikut serta. Belanjakah, mengantarku ikut pengajiankah, atau sekedar beli makan saat aku tak masak hari itu (ah, bukannya aku memang jarang sekali memasak untukmu?). Dan untuk satu hal ini, kita masih suka berselisih, terutama saat jagoan kita sakit. Flu atau agak demam atau pilek. Kau yang tetap ingin mengajaknya ikut pergi bertiga, dan aku yang lebih suka ia di rumah saja bersama mamang-mamang agar bisa beristirahat. Apa kau sudah tak ingin pergi berdua saja denganku, Bang? *sembari nangis di pojokan*

Setahun sudah.
Sejak Allah menguji kita tanpa memberi peringatan terlebih dahulu. Eh, mungkin kita yang tak peka dengan peringatan dariNya, Bang. Sampai kemudian dalam waktu hitungan hari, hilang sudah apa yang pernah kita bangga-banggakan.
Setahun sudah.
Dan sejak saat itu lisanmu semakin sering berucap “maaf” kepadaku. Semakin sering terlihat merasa bersalah.

Ustadz bilang, Allah menguji hambaNya pada titik terendahnya. Sepertinya titik terendah kita sama, Bang. Bagaimana menurutmu?

Kau pasti menyadari. Aku lebih sensitif dari sebelumnya. Apalagi saat menjelang hari H. Apa apa yang kau lakukan, selalu salah di mataku. Perihal lemari baju yang masih terbuka pun bisa jadi pemicu “emosijiwa” bagiku. Maafkan aku, Bang. Ini pasti karena aku jauh dariNya. Ah, aku selalu rindu,. Rindu menghadiri majelis ilmu. Atau mendengarkannya bersama si Levo. Lalu kurangkum dengan catatan-catatan sesuka hati yang mungkin hanya aku yang mengerti. Rindu pula bersilaturahim. Mencari ribuan hikmah dari mereka yang kita cinta. Bang, jadikah kita belajar tahsin bersama?

Maaf.
Aku selalu menyalahkanmu. Sebab kau pernah berkata seperti ini padaku, “aa mah emang selalu salah”.
Maafkan aku ya, Bang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s