Cooking oh cooking..

Standard

Hey Mom, forgive me..
Ternyata begini rasanya ketika masakan kita tak dimakan oleh orang yang kita harapkan akan memakannya. Dulu, hampir setiap weekend beli ketoprak, kadang kalau malam jajan siomay atau kebab, sesekali beli mie ayam habis itu nggak makan lagi. Alasannya, pengen makan selain nasi dan (jujur) kadang bosan dengan menu yang sama setiap hari. Tanpa tahu seberapa lelah dan penatnya mempersiapkan itu semua.

Please forgive me, Mom..
Dulu dengan santainya berucap, “ya udah sih Mah, kalo nggak habis kan bisa taro di kulkas”, tanpa memperhatikan apa yang kau rasa saat itu. Ah betapa durhakanya aku. Ditaruh di kulkas pun ternyata tak menjamin akan kumakan makanan itu keesokan harinya. Bertambah sedihkah hatimu, Mah?

Forgive me, Mom..
Memang benar janji Allah, bahwa sekecil apapun suatu perbuatan pasti akan dibalas olehNya. Dan aku baru sadar, “mungkinkan ini balasan untukku karena dulu pernah tak mau menghabiskan masakannya?”. Seperti hari ini. Ba’da subuh, sembari mendengarkan jamaah oh jamaah di trans tv, sudah kuniatkan akan menyiapkan kentang goreng, tempe goreng, ikan selar goreng dan tumis terong. Untuk syahdan. Juga jagung kukus untuk camilannya. Kucoba berikan padanya, untuk sarapan dan yah hanya beberapa suap itu pun ada yang dilepeh olehnya. Siang sama, sore pun sama.

Sudah beberapa kali sebenarnya syahdan semacam GTM. Kadang aku bingung, apa lagi yang kusajikan agar ia mau makan? Stok roti gandum sedang tak ada, biskuit pun hanya malkist roma sayur dan biskuit gandum coklat. Kusuapi pisang, hanya setengah buah. Kuberikan jagung, dimakannya beberapa butir dan sisanya ia hambur-hamburkan. Kuberikan kentang agar ia mau makan sendiri, alhamdulillah masuk beberapa tapi di waktu siang dan sore saat kentang gorengnya sudah tidak garing lagi, dilepeh semua dari mulutnya. Duhai Allah, anakku tak sampai makan satu porsi pun hari ini. πŸ˜₯

Please forgive me, Mom..
Aku belum sepandai engkau dalam mengolah bahan makanan, apalagi seperti Mamah Iwat. Jauh. Teramat jauh. Kau pasti tahu hanya masakan itu itu saja yang baru bisa kusajikan. Sayur sop, sayur bayam, terong balado, kentang balado, goreng-gorengan, ah bahkan sayur asam pun belum pernah kubuat. Dan satu lagi, sambal, kesukaannya yang (sebenarnya) tak boleh terlewatkan.

Pernah suatu ketika, kucoba sajikan sayur sop ayam kampung untuk mereka berempat. Ya, aku, dia, syahdan, dan mamang agung juga mamang bangkit. Tadinya berharap sayur sop itu akan habis dalam satu hari. Tapi ternyata, hehehe.. setengahnya pun tak sampai. Iya Mah, aku tahu. Sayur sop nya terasa hambar. Jangankan asin atau gurih, ini hambar. Waja saja kalau masih bersisa. Dan saat itu aku semakin tahu bahwa Allah sedang menegurku.

Forgive me, Mom..
Maaf aku jarang berterima kasih padamu. Belanja pagi-pagi. Memilih sayuran yang segar dengan harga terjangkau. Memilih ikan yang masih segar dan buah-buahan (jika ada di warung). Membeli telur satu kilo untuk stok beberapa hari ke depan. Juga bumbu-bumbu dapur yang dibutuhkan agar masakanmu lebih berasa. Dan wow ternyata berat juga ya belanjaannya, padahal hampir setiap hari ke warung itu sendiri. Jalan kaki pula. Tidak jauh sebenarny, tapi lumayan berat juga kalau belanjaannya sebanyak itu. (Aku pernah beberapa kali menemaninya).

Maaf aku bahkan jarang membantumu memasak. Lebih sering bersama Syahdan, mulai dari mandi, menceboki, menyuapi, menidurkan, dan kadang menemaninya bermain, walaupun sebenarnya ada papah juga si tante dan dede azka. Dulu, rasanya malas berkecimpung di dapur, tapi setelah menikah aku baru tahu bahwa belajar masak itu memang perlu. Ya pastinya supaya suami dan anak lebih suka makan di rumah daripada jajan di luar. Kapan ya bisa seperti itu?

Mom,
Ternyata menyiapkan makanan untuk disajikan itu butuh waktu lama ya. Apalagi macam aku yang jarang memasak. Mungkin sesuai jam terbang juga kali ya, kalau sudah terbiasa memasak akan lebih cepat dalam menyiapkan itu semua. Dari awal bagian seperti cuci mencuci sayuran , lalu goreng menggoreng atau mengukus, and then menyajikannya di meja makan dan terakhir mencuci alat masak yang tadi dipakai.

Capek? Pastinya.. kadang sampai pegal nih tangan dan kaki. Tapi eh tapi, semua itu akan hilang begitu apa yang sudah dimasak sebelumnya, habis disantap. Aku tak berharap banyak masakanku habis disantap mereka, karena cukup tahulah, rasaku belum sebanding dengan rasanya mama iwat. Hehehe. Syahdan saja cukup. Kalau dia mau menghabiskan masakan yang kubuat untuk makannya dalam satu hari, rasanya “terima kasih ya Allah..”. Hepi bukan main.

Mom, thank you..
Terima kasih selalu menyajikan masakan yang enak dan sehat untukku, bahkan di usiaku yang sudah hampir tiga puluh. Terima kasih selalu membuatnya penuh cinta untuk kami di rumah.

Doakan aku ya, agar bisa sepertimu dan sepertinya. Agar ia dan syahdan suka dengan apa yang kumasak.

Advertisements

4 thoughts on “Cooking oh cooking..

  1. :”( makasih sudah mengingatkan lewat postingan, Bu. Jadi ingat waktu kecil dulu saya juga suka nggak habisin masakan Ibuk. hiks

  2. Chichi

    Kalo aku masak, malah aku yang nggak masak masakanku sendiri mbak. 😦
    Liat keluarga makan masakan kita kok rasanya udah kenyang ya..
    hehe πŸ˜€
    Dulu waktu kecil suka ga abisin masakan Ibu juga, malah senengnya jajan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s