PR untuk ummi #1

Standard

“Januari besok, syahdan udah bisa bicara ya, bu. Kata yang terucap itu ada maknanya”, pesan dokter Puji, dr.sp.A yang kupilih untuk Syahdan.

Entah kenapa aku merasa ini agak berat.
Dan akhir Januari kemarin, sesaat sebelum berkunjung ke kimia farma Ulin, dekat DM, aku sempat merasa takut. Bukan takut sebab dokternya galak. Bukan, bukan itu. Beliau baik, ramah, dan suka bercerita. Aku hanya takut akan diajukannya sebuah pertanyaan yang sebenarnya aku sudah tahu apa jawabannya.

“Kata apa saja yang sudah diucapkan, bu?”
atau
“Kenapa yaa.. belum bermakna ya kata yang terucap?”

Tanpa Televisi
Sebenarnya bunda Elly Risman tidak pernah berkata bahwa tidak perlu ada TV di rumah, beliau hanya berpesan bahwa jika anak sering disuguhi televisi atau gadget, ia bisa mengalami gangguan berkomunikasi. Yah, ini pakai bahasaku sih ya. Redaksi tepatnya aku lupa.

Sebenarnya sejak Syahdan lahir dan kami berdua sudah kembali ke rumah ini lagi, aku berniat untuk menghibernasikan televisi yang ada di rumah. Maksudnya supaya rumah ini lebih hidup, yang lebih banyak terdengar adalah lantunan dzikir, yang sering terucap adalah nasihat nasihat (untuk diri sendiri khususnya), dan yang terlihat adalah interaksi juga komunikasi dua arah antar penghuni rumah.

Ya, dengan adanya gadget saja sudah membuat yang dekat terasa begitu jauh. Ah, bagaimana mungkin seorang laki laki lebih mengetahui kondisi kekasihnya dibandingkan dengan kakaknya. Bagaimana mungkin seorang ibu lebih update mengenai infotainment daripada tumbuh kembang buah hatinya. Dan bagaimana mungkin seorang ayah lebih memahami berita olahraga daripada keadaan keluarganya.

Hidup tanpa televisi itu bukan tak bisa. Bukan tak mungkin. MAU atau TIDAK. Itu saja.

Aku pernah memenjalaninya.
Di ponpes? Bukan! (Ah jadi teringat, keinginan menjadi santri di Amanina yang tak terwujud. Hahaha). Well, tempat itu adalah Annida. Kos muslimah yang lingkungannya bisa dibilang sebelas duabelas dengan asrama putri , macam amanina atau DS, walaupun tak setertib keduanya. Satu tahun. Sekitar satu tahun aku di sana. Awalnya kukira nge-kos tanpa TV itu pasti akan mati gaya. Ah ternyata nggak juga. Alhamdulillah malah merasa lebih terjaga. (Jadi kangen majelis ilmunya abi syatori).

Mungkin awalnya terasa sulit, “masa nggak ada TV di rumah?”. Tapi nanti akan terbiasa kok. Lebih banyak waktu untuk bercengkrama, lebih banyak waktu untuk membaca, lebih banyak waktu untuk bermain bersama anak-anak, lebih banyak waktu untuk beribadah. Dan listrik lebih sedikit hemat.

Sebenarnya ingin menghibernasikan si kotak ajaib ini, tapi satu suara lawan tiga suara kan sudah jelas mana yang akan menang :P. Mungkin belum bisa untuk saat ini. Yah semoga aku tak merasa butuh. Sebab kalau sudah terlalu lamammenonton, rasanya mual, eneg, sakit kepala.

Kurang Stimulasi
Ini ada di poin penyebab anak mengalami hambatan berbicara. Di situsnya IDAM seingatku.

Merunut ke belakang, duhai Allah.. ternyata begitu banyak kesalahanku sebagai seorang ibu. Maafkan ummi, syahdan.. , maaf ummi pernah membentakmu, maaf ummi pernah meninggalkanmu sendiri di kamar, maaf ummi pernah memelototimu. Maaf.. ummi minta maaf.. *tear*
Mungkinkah karena itu semua, lantas merusak sel sel otaknya, sehingga ia belum mengucapkan kata yang bermakna sampai di usianya 18 bulan ini?

Maafkan ummi, nak..
Maaf ya.

Advertisements

6 thoughts on “PR untuk ummi #1

  1. keponakan titin juga gitu ko, neng. baru rada jelas dan bermakna setelah 2 tahun.

    gini:

    pas lebaran pulang bahkan titin belum bisa tau apa yg diomonginnya. mata juga g terlalu fokus. pas udh balik bandung, 2 minggu kemudian tin telpon dan keget ternyata dia nyebut nama titin meski belum jelas.

    kata ibunya:
    kakaknya seminggu kn nginep di rumah utinya, nah saat itu ibunya fokus sm si adik. ngobrol dan nyanyi2. si adik juga didengerin lagu-lagu yg ternyata sgt menstimulus perkembangannya.

    bahkan tin sempet watir sendiri. karena udh mau 2 tahun msh ga jelas aja ngmgnya.

    tiap anak beda2 kasus siy. tapi pasti aa syahdan bentar lagi bisa jelas bicara.

    *emaap sok tau tanpa ilmu ini yah. heu.. cuma crta pengalaman.

  2. sabar mbaaakk, sama kayak kasusnya asma. sebelum 2th baru bisa panggil abi umminya, kata lain masih ga jelas, belum bisa merangkai kata, malah suka dibilang ngomong pake bahasa planet sama orang-orang. hiks. setelah di sampit asma sering tak ajak baca buku, cerita, ngobrol, diajarin merangkai kata sederhana mulai dari 2kata sampai nambah terus. alhamdulillaah asma sekarang udah mulai bisa merangkai kata menjadi kalimat bermakna. asma sebelum 2th itu paham sama instruksi, artinya dia paham apa yang dikatakan orang cuma belum bisa menanggapi dengan benar. alhamdulillah sekarang bisa. emang butuh proses kok mbak, yang sabar aja, aku awalnya juga risih denger omongan orang, tapi tak biarin, sembari berproses. asma sekarang udah hampir 2,5tahun umurnya. emang ga “sepintar” teman sebayanya yang udah cas cis cus. tapi dia ada kepintaran dalam hal lain yang bikin kami ga pernah berkecil hati 🙂

    semangaaat ya mbaaak, terus distimulasi aja, insyaAllah pasti ada progressnya. btw ini kami di rumah juga ada tv mbak, sering nyala apalagi pas tak tinggal beberes, huhu. ya jadi PRku juga sih biar ga sering nyalain tv.

  3. arohmanpanji

    maaf yah shalihah…

    Smoga aa bisa lebih baik menjaga dan mendidik Syahdan, sama shalihah, juga sama mamang2nya..

    Tetap smangat Syahdan shalih, abi dan ummi bersamamu slalu #sayang umi, sayang abi, sambi ngelus2 kepala kami #terharu

  4. Yang saya dengar (dari pelaku homeschooling) yang paling penting itu, lupakan target, karena tiap anak punya fase masing2. Tetap semangat 🙂

  5. nichan… maaf lama sekali ga mampir ke sini.. kemana aja aku.. di tempat yang lama aku ga sempet nge blog chan.. alhamdulillah sekarang insyaAllah bisa… apa kabar?

  6. mbak..umur 18 bulan ya Syahdan? masih wajar menurutku. kemampuan anak emang beda2. anakku 3,5 tahun..kemampuan bicaranya kurang dari anak seusianya. kata Om yang orang fisioterapi..yang penting anak menunjukkan keinginan bicara. menunjukkan tanda2 bicara. perkara kata-katanya blm jelas..itu proses.

    smg Syahdan sholih..sehat selalu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s