29.09.2011

Standard

lebih bijaksana,
lebih peka,
lebih tinggi (mungkin gak ya? :D.. yang penting sehat deh),
lebih bersyukur,
lebih bersabar,
lebih bertanggung jawab & mandiri,
lebih baik dari sebelumnya..
*semoga

(seperempat abad @awal Dzulqoidah 1432 H)

halaqoh quran

Standard

Setting tempat: Masjid Nurul Ashri, Deresan

Setting waktu: Ba’da Maghrib

Senin, 19/07/2011s

Sore itu aku mendatangi Masjid Nurul Ashri yang lokasinya ada di daerah Deresan, dekat dengan penerbit Kanisius. Yah, lumayan dekatlah dengan kosku ^^. Katanya, ada Kajian Tafsir setiap Senin sore di sana. Dan surah yang dibahas adalah Surah An Nur. Waah.. pas banget ya! Entah sejak kapan aku ingin mendapati ilmu tentang tafsir surah tersebut tapi sepertinya keinginan itu ada ketika kubaca sebuah hadis yang bunyinya seperti ini,

 “Diriwiyatkan dari Mujahid bahwasanya Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam bersabda, ‘Ajarkanlah surah al Maidah kepada kaum laki-laki kalian dan ajarkanlah kaum perempuan dengan surah An Nur’. Kemudian Umar bin Khaththab menyebarkan perintah Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam itu kepada para pemimpin di wilayah masing-masing, ‘Ajarkanlah surah An Nisa, Al Ahzab, dan An Nur’.”

Kutipan itu kuambil dari Asbabun Nuzulnya Syaamil Quran (terjemah per kata) tapi btw, kok gak ada perawinya ya? –.–“  . mungkin ada diantara kalian yang bisa memperjelas siapa perawinya? =D *please..

Dan aku juga pernah mendengar ada yang mengatakan bahwa seorang suami memiliki kewajiban mengajarkan isi surah An Nur kepada istrinya (kalo yang ini aku lupa: bersumber dari buku yang kubaca ataukan dari kajian yang kudengar.. maaf ya. Validitasnya jadi agak meragukan ya? ^^b ). Kalaupun itu BENAR, kurasa, tak perlu menunggu untuk diajarkan oleh suamiku nantinya.. Lagipula, siapa juga yang bisa menjamin aku akan menikah di sini? =) Karena menikah itu masih ‘mungkin’ bukan ‘pasti’.. Jadi, “Kalo kamu mau dapet ilmu tentang tafsir surah an Nur, gak perlu menunggu sampai kamu menikah dulu.. Tapi, datang ke kajiannya aja..” (bicara dalam hati)

Sebenarnya aku datang telat –banget-. Secara, sampai di selasar Masjid sekitar jam 16.15 dan ternyata pematerinya belum datang. Hmm, kemana Ustadnya ya? “Sudahlah Va.. Jangan jadi alesan buat ‘kabur’ karena Ustadnya datang telat. Inget tuh tujuan pertama kamu datang ke sini tuh untuk apa?” (lagi-lagi bicara dalam hati) =D

Continue reading