(Judulnya apa ya?)

Standard

Malu hati saat tahu seperti apa akhlak para ulama terdahulu dalam menyikapi ejekaan atau hinaan orang lain terhadapnya. Malu hati saat tahu respon dari seorang ustadz yusuf mansyur yang diejek lantaran meminta masyarakat indonesia berdoa pada saat live di stasiun televisi, malah beliau mendoakan kebaikan untuk si pengejek.

Ah, aku tak ada apa apanya.

Kadang ingin marah. Kadang ingin berontak. Kadang ingin menyampaikan secara langsung pada anda pemimpin di tempat suami saya bekerja. Kalau semisal suami saya menolak perintah anda untuk tetap ‘bekerja’di hari sabtu atau minggu hanya karena harus mengantar istrinya hadir ke pengajian, kira-kira hal ini akan anda izinkan atau tidak ya?

Ah mungkin memang Allah ingin aku lebih sering mendoakannya.
Atau mungkin Allah ingin aku memperbaiki akhlakku.
Walaupun sih ya, tak sejahat as sisi atau fir’aun atau siapa lagi ya?

Ya suwlah,
Bisa jadi kita liqonya webinar aja kali ya?
Kayak orang orang pada umumnya, yang sudah familiar dengan kata webinar. Atau kulwap.

No family time

Standard

Dear para pimpinan,
Memang sih ya kita harus kerja, kerja, dan kerja.
But, pegawai kan juga punya hak untuk ‘istirahat’.

Adek ipar pulang selalu malam. Itu pun ba’da isya. Cuma satu atau dua kali aja kayaknya dia pulang sebelum maghrib (dalam 1 bulan).

Suaminya temen juga sama. Malah, waktu free untuk bercengkrama sama istri pas tengah malam. Idem, sampai rumah ba’da isya.

Dan hari ini, entah yang keberapa kalinya diminta ketemu nasabah.
Di hari bukan hari kerja.
Di waktu bercengkrama bersama keluarga.

Sebenarnya, apa sih yang dicari oleh kalian?
Prestasi perusahaan saja?
Sebenarnya apa visi misi kalian sebagai pemimpin?
Biar target tercapai dan perusahaan berada dalam posisi aman? Terus dapet bonus berlipat, terus dapet pujian dari berbagai pihak?
Maaf saya emosijiwa.

Have a good night, my son..

Standard

image

image

image

Sayang,
Ummi beritahu satu hal.
Diantara sekian banyak nikmat yang Allah beri, satu yang tak boleh lupa untuk disyukuri ialah …
Melihatmu tertidur dengan nyenyak.
Pun dengan abi-mu.
Terlebih saat batuk pilek menemani beberapa terakhir ini.
Rasanya,
Damai.
Syafakallah, Sayang..
Semoga sebelum kita kembali ke  Banjarmasin kondisimu sudah pulih ya.
Pun dengan ummi dan abi.
Alhamdulillaahirobbil’aalamiin.

Driving

Standard

Well, nggak ada yang mau merepotkan orang lain, apalagi keluarga sendiri. Itulah kenapa nak, ummi pengen banget belajar nyetir mobil. Punya atau belumnya, itu bisa dinanti-nanti. Setidaknya, kalau kita lagi di jakarta sementara abi lagi di sebrang sana, dan kitamada perlu ke sana sini, kita bisa berangkat sendiri. Pinjam mobil ngki, sih ya. Tapi kan nggak perlu minta anterin ngki atau bro ota. Manalah ummi diijinkan membawamu naik motor berdua saja? Apalagi naik angkot.

Bro ota sekarang sudah ada tante bubun juga dede azka, nak. Jadi kalau ummi mau minta tolong bro ota untuk antar atau jemput kita, ummi harus mempertimbangkan perasaannya tante bubun. Kira kira mereka sudah punya agenda bersama atau tidak di hari H? Atau mungkin agenda mendesak dan penting. Seperti hari ini. Sedangkan ngki, kita tahu, uyut sering menanyakan ngki. Terlebih saat ini, kondisi kesehatan uyut yang belum stabil. Kalau bukan karena ada acara besok, ngki pasti sudah bolak balik jakarta-cirebon untuk mengontrol kondisi uyut. Dan kalau kita meminta tolong pada ngki, ummi merasa tak tega. Khawatir ngki kecapekan.

Di nnin iwat sebenarnya ada mamang agung. Tapi kan mamang agung bukan mahramnya ummi. Nggak mungkinlah ya. Ummi juga nggak mau, sayang.

Jadi memang sebaiknya ummi juga abi bisa nyetir mobil sendiri. Yah, bahasa bakunya mah mengendarai mobil. Biar kita nggak ngerepotin mereka lagi. Biar bisa lebih bermanfaat buat orang lain.

Betapa..

Standard

Benar betul nasihat ustadz yusuf mansyur kemarin. “Kita belom sedekah aja, Allah udah ngasih ke kita”. Ibarat kata, baru niat pun, balasan itu sudah sampai ke kita. *speechless* Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustai?

“Udah berbulan-bulan kita berdoa minta rizki sama Allah, tapi sampai sekarang kok belom dikasih? Ya SABAR dong! Allah aja sabar sama kita. Setiap hari lagi! Coba, Allah panggil kita jam 12.00, lah datangnya baru jam 14.00. Allah panggil kita jam 15.30, lah datangnya baru jam 17.00. Pernah nggak denger cerita ada orang yang baru insyaf di usia 70 tahun? Itu Allah nungguin dia selama itu, gimana Allah nggak sabar?”
#plak.

Itu yang kudapat dari ustadz yusuf mansyur kemarin. Redaksinya tak sama persis memang, ada yang kutambahkan, tapi esensinya sama.

Ah betapa..
Kenapa mintanya pas lagi kekurangan doang, va?
Kenapa berdoanya pas lagi ada masalah aja, va?
Kenapa mendekatnya pas lagi butuh aja, va?
Tak salah memang.. hanya saja, alangkah lebih baik dalam kondisi apapun kamu tetap melakukan itu semua.. iya nggak?

Duhai Rabbi,
Jadikan kami hamba yang selalu bersyukur.

Seperti Ditegur

Standard

Menikah, tak selamanya indah #tsaaah.
Kadang ada kelahinya. Kadang beda pendapatnya. Kadang kambuh emosi jiwanya. Terlebih jika anak hadir. Bukan salah si anak atau “karena si anak” loh ya. Tapi lebih menekankan pada kecerdasan emosi si istri dan si suami.

Sebenernya mau ngebahas apa sih? ~hahaha.. #geje.
Maaf maaf. Prolognya gak oke. Udah lama gak nulis. Jadi grogi.

Marah sama si doi, pernah. Kesel sama si doi, pernah. Berantem sama si doi juga pernah. Dan kalau iman di nomor sekian, rasanya emang mudah ya merasa emosi jiwa 😛 . Ditanya baik-baik, ketus. Disapa dan disalami tetep cemberut. Daan sederet perilaku serupa yang sungguh-sungguh tak ada dalam kriteria istri sholihah (huhuhuhu.. *nangis*)

Saat merasa ‘kurang’ karena pasaknya jauh lebih besar daripada tiang, datang cerita darinya: ada kawan yang digugat cerai sang istri lantaran ia terlilit banyak hutang. Astaghfirullahal’adzhim..

Saat merasa tak memiliki baju baru, ingin beli ini dan itu, muncullah di TV sebuah iklan yang menampilkan “berkah Ramadhan” : anak laki-laki yang menginginkan sarung baru untuk sholat, seorang ibu yang menjahit ulang mukena lamanya agar tak usang di hari raya, seorang bapak yang menggunakan sarung tangan lusuh sebagai sajadah. Ah, betapa malunya.

Saat merasa tak diperhatikan oleh suami, terdengarlah sebuah cerita seorang kawan yang belum pernah disentuh oleh suaminya selama beberapa bulan paska mereka menikah. Ya Tuhan…

Seperti ditampar.
Diingatkan berulang kali. Supaya menyadari bahwa “hey, niva! Hidupmu masih lebih baik dari mereka. Bersyukur dong..”.
Bahwa rizki tak selalu materi. Suami sehat, alhamdulillah. Anak sehat dan ceria, alhamdulillah. Masih bisa makan, alhamdulillah. Tergerak untuk tilawah, alhamdulillah. Mulai rutin dhuha-tahajudnya, alhamdulillah. Punya tetangga baik hatinya, alhamdulillah. Lingkungan tempat tinggal aman dan nyaman, alhamdulillah. Ya, tak cukuplah menuliskan semua nikmat. DariNya.

Kita hanya perlu berpegangan tangan. Memperbaiki yang salah. Menguatkan jika ada yang lemah. Menasihati kala hati mati. Dan saling mendoakan, meminta petunjukNya agar jalan keluar itu bisa kita temukan.

~maaf ya Bang,
Tolong doakan agar bisa menjadi istri yang pandai bersyukur..
Pertengahan Ramadhan 1436 H

Bro Ota di Banjarmasin

Standard

image

Setoran muka sama keponakan. Qiqiqi..

Hari ini bro ota main ke rumah..
Lagi dinas. Mumpung dibayarin kantor tiket pesawatnya, xixixi..
Itu, nnin nitipin banyak biskuit buat aku. Hohoho..

Tadi pas liat bro ota di depan pintu, aku jeba-jebi.. terus nangis. (Hahaha..) lama tak bersua, seperti baru pertama berjumpa.

*syahdan*

H-4

Standard

Hei Ramadhan..
Tak sampai seminggu lagi kau akan hadir di sini, eh tapi apa umurku masih sampai?

Akhir bulan

Standard

Rutinitas yang sama.
Aktivitas serupa.
Emosi pun tak jauh beda.

Pulang malam.
Sabtu, minggu atau tanggal merah itu semua sama.
Weekend pun habis di kantor.

Well, inilah konsekuensi bersuamikan pegawai bank yang bekerja di bagian penagihan (bahasa halusnya sih: pembiayaan).
So, mengeluh pun percuma.
Iya kan.

Standard

Menyaksikan tayangan On The Spot tadi, tentang Bullying.. saat ada seorang anak, siswa SD dibully dua orang temannya di pinggir jalan, sepulang sekolah, dan ada seorang ibu yang lewat di samping mereka, acuh. Jangankan memisahkan, berhenti pun tidak. Ah, apa aku juga akan seperti ibu itu? Cuek dan tak peduli karena menganggap “itu bukan urusan gue!”,

Kadang penyesalan itu muncul tiba-tiba.
Kenapa dulu lulusnya lama sih?
Kalau aja kuliahku selesai dalam waktu 4 atau 5 tahun, aku pasti bisa menikmati masa masa dimana aku berprofesi sebagai seorang pengajar.
Tapi yah, manalah boleh kita berandai-andai..
Itu kesukaannya syaitan.

Masih menyimpan satu mimpi. Mimpi yang sama, yang kuidamkan “ini yang ingin kulakukan jika aku sudah lulus sebagai sarjana psikologi”.

Sebenarnya rindu.
Bersua dengan mereka. Melihat tingkah polahnya yang teramat lugu. Polos. Mendengarkan semua cerita juga permintaan yang terkadang lucu dan tak masuk akal.

Anak anak.
Entahlah, aku merasa kepekaan ini terasah setiap berinteraksi dengan mereka. Dan aku rindu menjadi seorang guru.